
"Maafkan kau, aku mohon maafkan aku." Mahen bersimpuh tepat di kedua kaki kedua orang tuanya membuat mereka terdiam kaku. "Aku, aku menyesal. Aku mohon maafkan aku, maafkan aku."
Mama Camelia dan papa Adrian menjongkokkan tubuh mereka dengan mata berkaca-kaca, lalu memeluk tubuh Mahen dengan erat.
"Apa yang adikmu katakan benar, Mahen. Tidak seharusnya kau seperti ini, jadi bangkitlah dan perbaiki semuanya. Perbaiki semua kesalahan yang sudah kau lakukan, dan minta maaflah pada orang-orang yang sudah kau sakiti. Terutama Via dan juga putrimu sendiri," ucap papa Adrian sambil mengusap puncak kepala Mahen, begitu juga dengan mama Camelia yang berharap Mahen bisa melupakan semua ini.
Mahen menganggukkan dengan lemah. "Aku janji, aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku, aku akan-" Dia tidak dapat menyelesaikan ucapannya saat mengingat Yara.
"Putriku yang manis. Maafkan papa, Nak. Maafkan papa."
Kemudian mereka semua keluar dari kamar dan berjalan ke kamar tamu, setelahnya para pembantu membersihkan tempat itu agar bisa kembali digunakan.
Vano yang sudah berada di dalam kamar menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar. Sudah saatnya dia kembali ke London untuk mengurus perusahaan barunya, tetapi masalah keluarganya masih saja belum selesai.
"Aku tidak bisa pergi dengan tenang jika kakak masih saja seperti itu. Bagaimana dia bisa mengurus perusahaan?" Dia mengusap wajah frustasi, kemudian tangannya terulur untuk mengambil ponsel yang sedang berdering.
"Via? Mau apa dia menelponku?" Vano segera mengangkat panggilan dari Via.
"Om pano!"
Vano terpaksa menjauhkan benda pipih itu dari telinganya akibat teriakan dari Yara. "Ya, Sayang. Kenapa telpon Om malam-malam gini? Yara belum tidur?"
"Yala kangen sama Om. Yala mau ketemu sama Om," ucap Yara dengan kuat membuat Vano tersenyum.
"Yaudah, besok Om ke apartemen Yara ya. Yara mau Om bawakan mainan apa?" tawar Vano. Kalau dia datang tidak membawa mainan sebagai sogokan, maka habislah dia dibuat Yara.
"Besok pagi Yala mau ke lumah oma sama mama,"
"Hah, mau ngapain ke sini?" tanya Vano dengan kaget.
"Enggak tau, oma yang suru tadi,"
Vano diam sejenak untuk memikirkan ucapan Yara. "Apa mama benar-benar ingin membuat Via dan kak Mahen kembali bersama?"
"Om Pano, kok diam aja sih?"
__ADS_1
Vano lalu segera menjawab ucapan Yara, lalu mereka mengobrol sampai 1 jam lamanya hingga Yara mengantuk dan memberikan ponselnya pada sang mama.
"Ha-halo, Vano,"
"Ya?"
Via diam sejenak karena tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kenapa kalian belum tidur?" tanya Vano saat tidak mendengar suara Via.
Kemudian obrolan itu kembali tersambung tetapi dengan orang yang berbeda, hingga Vano tidak sadar jika saat ini Mahen sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
Mahen lalu berbalik dan bersandar di dinding, dadanya berdenyut sakit saat mendengar obrolan Vano dan juga Via. "Jika aku memperbaiki semuanya, apakah Via akan kembali padaku? Apa dia akan menerimaku kembali?" Dia lalu beranjak pergi dan tidak jadi bicara dengan Vano.
Pada saat yang sama, di rumah sakit terlihat Clara sedang berdebat dengan Dokter dan juga beberapa perawat.
"Anda tidak bisa pergi, Nyonya. Keadaan Anda masih sangat buruk,"
"Minggir kalian semua, aku ingin menemui suamiku!" Clara mencoba untuk keluar dari rumah sakit, tetapi tentu saja pihak rumah sakit tidak akan mengizinkannya.
"Justru karena memikirkan anakku aku harus segera pergi menemui ayahnya, suamiku adalah ayah dari anakku!" Clara sudah dengar penjelasan dari Dokter tentang hubungan Mahen dan juga anaknya, tentu saja dia tidak bisa menerima semua itu.
"Anda harus bisa menerima semua ini, Nyonya. Dan tolong pikirkan siapa ayah kandung bayi Anda, kemungkinan besar kami harus kembali melakukan operasi jika keadaan anak Anda terus menurun seperti ini,"
"Tidak. Mahen adalah ayahnya, dia ayah dari anakku." Clara kembali meringis sambil memegangi perutnya yang terasa sakit, lalu mengalirlah darah segar dari kedua kakinya.
"Dokter, dia kembali mengalami pendarahan," ucap salah satu perawat.
"Cepat, kita harus memeriksanya,"
"Tidak. Lepaskan aku, aku bilang lepaskan aku!"
Dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang untuk Clara dan segera memeriksa keadaannya. Ternyata terjadi infeksi dirahim wanita itu hingga menyebabkannya terus mengalami pendarahan.
****
__ADS_1
Keesokam harinya, Via dan Yara berangkat dari apartemen menuju rumah keluarga Vano. Kebetulan hari ini weekend, jadi Via bisa menemani Yara dan Ibu Novi pergi keluar karena ada acara dipanti asuhan terdekat.
Sesampainya di tempat tujuan, Via dan Yara segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Tuan, Nyonya. Nona Yara dan Nyonya Via sudah datang," ucap pembantu untuk memberitahu mama Camelia dan yang lainnya, kebetulan mereka baru saja selesai sarapan.
Mereka semua beranjak dari dapur untuk menemui Yara, terutama Mahen yang terlihat bersemangat sambil tersenyum lebar.
"Assalamu'alaikum," ucap Via dan Yara secara bersamaan.
"Wa'alaikum salam," balas Vano dan semua orang sambil berjalan ke arah ruang tamu.
"Yara!" Mahen tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya untuk memeluk sang putri.
"Om Pano!" teriak Yara sambil berlari ke arah Vano dengan merentangkan kedua tangannya membuat Mahen terdiam kaku.
Deg.
Semua orang juga diam di tempat mereka masing-masing. Apalagi saat melihat Mahen berjongkok sambil merentangkan kedua tangan, sementara Yara memeluk kaki Vano yang kebetulan berdiri di samping Mahen.
"Yala kangen sekali sama Om," ucap Yara sambil minta digendong oleh Vano.
Vano melirik ke arah Mahen yang saat ini menatap mereka dengan sendu. Vano lalu menjongkokkan tubuhnya di depan Yara. "Yara enggak kangen sama papa? Ini, papa udah gak sibuk lagi loh." Dia memberitahu keberadaan Mahen melalui ujung matanya.
Yara lalu melihat ke arah samping, dan baru sadar jika itu adalah papanya. "Papa udah gak sibuk lagi?"
Mahen tersenyum. "Tidak, Sayang. Mulai sekarang papa sudah tidak sibuk lagi, jadi Yara bisa selalu main sama papa."
"Tapi, Yala maunya sama Om Pano. Bukan Papa!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.