Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 97. Kemarahan dan Rasa Sakit.


__ADS_3

Tubuh Mahen terjatuh ke atas lantai karena merasa lemas dengan apa yang terjadi saat ini, sementara mereka semua juga tidak bisa melakukan apapun dan hanya menatap laki-laki itu dengan sendu.


"Dia anakku, dia adalah anakku," ucap Mahen dengan lirih, bibirnya bahkan bergetar saat mengucapkannya.


Mama Camelia lalu kembali memeluk tubuh Mahen dengan erat. "Sadarlah, Nak. Dia benar-benar bukan anakmu, dia bukan anakmu, Mahen."


Mahen langsung terisak dengan pilu dalam pelukan sang mama, sungguh hati nya terasa sangat hancur sekali saat ini.


"Kenapa, Ma? Kenapa, kenapa semua ini terjadi?" Mahen memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak membuat semua orang ikut merasakan kesedihan yang sedang dia rasakan.


"Sabarlah, Nak. Semuanya sudah terjadi, dan ini sudah Takdir Allah. Mama mohon terimalah, dan hentikan semua ini."


Mahen menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia bisa menerima semua ini begitu saja?  Jika memang ini adalah Takdir, kenapa Tuhan sangat kejam sekali padanya hingga memberikan kenyataan pahit seperti ini?


Berbulan-bulan dia menunggu kehadiran bayi itu, apalagi saat mengetahui bahwa jenis kelaminnya adalah laki-laki membuat Mahen sangat bahagia sekali.


Dulu dia mendapatkan seorang putri dari Via, dan sekarang seorang putra dari Clara. Dia akan membawa anak itu untuk bersama dengannya dan juga Via, maka mereka akan punya sepasang anak laki-laki dan perempuan.


Namun, apa yang sedang terjadi saat ini? Kenapa Tuhan menghancurkan harapan dan keinginannya, kenapa Tuhan tidak menjadikan anak itu sebagai darah dagingnya, kenapa?


"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku, aku tidak bisa menerimanya." Mahen semakin terisak membuat mama Camelia juga ikut terisak.


"Dia bukan rezekimu, Nak. Allah ingin menunjukkan bahwa kau belum pantas menjadi seorang ayah, pernahkah kau memikirkan bagaimana keadaan Yara?"


Mahen langsung melepaskan pelukannya dan menatap mama Camelia dengan sayu.


"Kau sudah punya Yara, Mahen. Tapi kau tidak bisa memperlakukannya dengan baik dan layaknya seorang ayah. Itu sebabnya Allah tidak ingin memberimu anak lagi, supaya kau bisa berpikir dan memperbaiki diri dulu."


Via yang mendengar ucapan mama Camelia menundukkan kepalanya dengan tangan saling bertautan. Hatinya terasa sakit jika mengingat tentang Yara, yang memang tidak lagi mendapatkan kasih sayang dari Vano.

__ADS_1


Mahen terdiam dan tidak mengucapkan apa-apa, tetapi tiba-tiba dia teringat dengan keberadaan seseorang. "Clara, kau memang wanita si*alan. Beraninya selama ini kau menipuku dengan mengandung anak orang lain." Dia mengepalkan tangannya dengan erat.


"Oh ya, Mahen. Saat ini, Clara sudah sadar. Dan dia mencarimu," ucap mama Camelia dengan lirih, dia takut kalau putranya itu akan kembali mengamuk.


Mahen lalu beranjak bangun dari lantai membuat semua orang menatap heran, terutama mama Camelia.


"Kau, kau mau ke mana, Mahen?" tanya papa Adrian dengan tajam, dia takut jika laki-laki itu kembali membuat keributan.


Tanpa menjawab pertanyaan sang papa, Mahen langsung melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu membuat Vano langsung mencekal tangannya.


"Lepaskan aku, Vano. Aku ingin menemui Clara," ucap Mahen membuat Vano langsung melepaskan tangannya, dia lalu kembali melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu.


"Apa tidak apa-apa, membiarkannya sendiri?" Mama Camelia menatap punggung Mahen dengan sendu.


"Lebih baik mama dan papa pulang dan istirahat, biar aku dan River yang menjaga kakak," ucap Vano yang tidak tega melihat raut wajah kedua orang tuanya. "Kau juga, Via. Ikutlah pulang bersama dengan papa."


Mama Camelia lalu menggenggam tangan Via membuat wanita itu melihat ke arahnya. "Biar mama sama papa yang mengantarmu, Via. Lagi pula ada sesuatu yang ingin kami bicara denganmu."


Kening Via dan Vano sama-sama mengernyit bingung dengan apa yang mama Camelia katakan. Namun, sesaat kemudian Via menganggukkan kepala dan mereka segera pamit pada Vano untuk pulang.


"Apa yang ingin mama dan papa bicarakan dengan Via? Apa mereka ingin meminta Via agar kembali pada Kakak?" Tiba-tiba Vano merasa khawatir, tetapi dia mencoba untuk tidak berpikir macam-macam dan berlalu menyusul Mahen bersama dengan River.


Brak.


Mahen membuka pintu ruangan Clara dengan kasar membuat wanita itu terlonjak kaget, dan langsung melihat ke arah pintu.


"Sa-Sayang. Kau ke mana saja? Sejak tadi aku mencarimu," seru Clara dengan mata berbinar, dia senang akhirnya bisa bertemu dengan Mahen.


Amarah Mahen semakin memuncak saat melihat Clara, dengan cepat dia menutup pintu dan melangkah mendekati wanita itu dan langsung mencekiknya.

__ADS_1


"Ma-Mahen. Apa, apa yang kau lakukan?" Clara tersentak kaget saat Mahen mencekiknya dengan kuat, apalagi melihat raut wajah laki-laki itu yang tampak sangat menyeramkan.


"Beraninya, beraninya kau membohongiku!" teriak Mahen sambil mengguncang tubuh Clara dan menguatkan cekikannya.


"Apa, apa maksudmu, Mahen. Aku, aku tidak-" Clara tidak bisa melanjutkan ucapannya karena kesulitan bernapas akibat cengkraman Mahen, bahkan wajahnya sudah sangat merah saat ini.


"Bukan hanya berhubungan dengan Indra, kau bahkan melahirkan anak yang bukan merupakan darah dagingku. Katakan, apa laki-laki itu adalah ayah dari bayi yang selama ini kau kandung, hah?"


Ucapan Mahen benar-benar membuat Clara tersentak kaget. Dia lalu berusaha untuk melepaskan diri karena tidak bisa lagi bernapas.


"Ma-Mahen. Lepas-lepaskan a- aakkh." Kedua mata Clara terpejam erat dengan napas tersengal-sengal, dia sudah benar-benar tidak bisa bernapas sekarang.


"Astaga. Apa yang kau lakukan?" Vano yang baru masuk ke dalam ruangan itu memekik kaget, dengan cepat dia menarik tubuh Mahen untuk melepaskan cekikan laki-laki itu sebelum Clara mati.


River juga ikut membantu menarik tubuh Mahen, sampai akhirnya cekikan laki-laki itu terlepas.


"Uhuk uhuk uhuk, hah, hah, hah." Clara terbatuk-batuk dengan napas tersengal-sengal karena cekikan Mahen dengan tangan memegangi lehernya yang memerah.


"Hentikan, Kak. Apa kau mau membunuhnya?"


"Ya, aku memang ingin membunuh p*e*l*c*u*r si*alan itu. Dasar j*a*l*a*ng, wanita tidak tau diri! Aku menalakmu, Clara. Mulai hari ini, kita tidak lagi menjadi suami istri!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2