
Via sudah memuskan untuk berpisah saja dengan suaminya, walaupun terkesan tidak dipikirkan terlebih dahulu. Bukannya dia egois, hanya saja jawaban Mahen benar-benar tidak bisa diterima lagi.
Sejujurnya, Via tidak memikirkan tentang perpisahan karna setiap rumah tangga pasti akan mengalami cobaan seperti ini. Dia hanya ingin mengetahui alasan Mahen melakukan semua itu, agar dia bisa memperbaiki semuanya.
Namun, dia juga penasaran sudah berapa lama hubungan gelap itu terjalin. Dia berpikir mungkin saja hanya sekitar seminggu atau sebulan, dan itu masih bisa diterima olehnya. Dia sendiri tau bagaimana susahnya mengendalikan perasaan saat rasa bosan melanda, dan bisa saja Mahen membuat kesalahan.
Namun, jawaban Mahen benar-benar diluar akal sehatnya. Bagaimana mungkin laki-laki itu membuat kesalahan dalam waktu 1 tahun? Tidak mungkin Mahen khilaf dalam waktu selama itu, yang artinya sang suami sudah mencintai wanita lain.
"Kita berpisah saja, jadi Mas bisa melanjutkan cinta Mas dengan wanita-"
Grep!
Mahen langsung memeluk tubuh Via dengan erat. "Tidak, aku tidak mau berpisah. Aku sangat mencintaimu, Via. Aku tidak bisa hidup tanpamu!" Jantungnya terasa ingin meledak mendengar ucapan wanita itu.
Via tersenyum miris mendengar ucapan Mahen, dia menertawakan dirinya sendiri saat ini. "Sudah cukup, Mas! Perbuatanmu telah membuka kedua mataku, dan menunjukkan seperti apa cintamu untukku!"
"Tidak, Sayang! Aku mohon maafkan aku, aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku janji tidak akan berhubungan lagi dengannya, aku janji tidak akan berhubungan dengan wanita manapun selain dirimu, Via! Aku mohon!"
Tidak, Mahen tidak bisa menerima semua itu. Dia masih sangat mencintai Via, dia tidak bisa berpisah dengan wanita itu. Mahen sudah menyesali semuanya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Via terdiam mendengar semuanya, sekilas dia memejamkan kedua matanya dan berharap apa yang dia putuskan tidak salah. "Ya Allah, hamba mohon restuilah keputusan hamba ini!" Tekadnya sudah bulat.
"Mas mohon, Sayang! Tolong maafkan Mas, tolong!"
Bruk!
Via tersentak kaget saat tubuh Mahen langsung jatuh dan bersimpuh dikakinya. "M-Mas? Apa, apa yang kau lakukan?" Dia sangat terkejut melihat semua itu.
"Aku sangat bersalah, aku sangat menyesal, Via! Aku menyesal atas apa yang telah aku lakukan, aku menyesali semua kebod*ohanku! Tolong maafkan aku, aku mohon!" Mahen sudah berlinangan air mata sekarang, terlihat jelas penyesalan diwajahnya.
Via mematung, tubuhnya terasa tegang saat melihat suaminya bersimpuh seperti itu. Ada perasaan tidak tega yang menjalar dihatinya, apalagi melihat penyesalan yang teramat sangat diwajah Mahen.
__ADS_1
"Bangun, Mas! Jangan seperti ini!"
Mahen menggelengkan kepalanya. "Tolong beri satu kesempatan lagi untukku, Via! Aku berjanji akan memperbaiki segalanya, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi!" Dia memegangi kedua kaki Via dengan erat.
Via menghembuskan napas kasar dan mencoba untuk menenangkan diri. "Bangun, Mas! Aku mohon!"
Mahen mendongakkan kepalanya dan dibalas dengan senyuman Via, lalu wanita itu membantunya untuk bangun.
Via segera mengambilkan air untuk Mahen, biar bagaimana pun dia tidak tega melihat suaminya seperti itu.
"Minum dulu, Mas! Dia memberikan air itu pada Mahen yang langsung diterima oleh suaminya.
Mahen langsung meminum air itu sampai kandas, lalu meletakkannya di atas meja. Dia lalu kembali melihat ke arah Via, dan memegang kedua tangan wanita itu.
"Aku mohon kasi kesempatan sekali lagi untukku, Sayang! Aku janji kalau aku tidak akan lagi menyakiti dan membuatmu kecewa!"
Via terdiam, lidahnya terasa sangat kaku untuk membalas ucapan Mahen. "Aku, aku-"
Tiba-tiba mereka berdua terlonjak kaget saat mendengar benturan yang cukup keras, sontak Via langsung berlari ke lantai 2 dengan diikuti oleh Mahen.
"Astaghfirullahal'adzim, Yara!"
Via langsung mengangkat tubuh Yara yang ternyata tertimpa oleh lemari, begitu juga dengan Mahen yang menahan lemari itu agar tidak lagi menimpa putrinya.
"Huhuhu, Mama, Papa!"
Via langsung memeluk putrinya dengan erat, dia tau kalau Yara pasti sangat terkejut. "Sshh, diam ya Sayang! Udah gak papa, ada Mama di sini!" Dia mengangkat tubuh Yara dan mendudukkannya di atas ranjang.
Mahen lalu memeriksa tubuh Yara untuk melihat apakah ada tubuh putrinya yang terluka, dan Yara langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Ssh ssh ssh, anak Papa pasti kaget ya, hem?" Mahen mencoba untuk menenangkan Yara yang sepertinya masih sangat syok.
__ADS_1
"Tapi kenapa lemarinya bisa jatuh ya, padahal enggak goyang-goyang?" Via merasa heran, dia lalu memeriksa mungkin ada yang salah dengan lemari putrinya.
Yara yang sudah tenang lalu melihat ke arah Mama dan Papanya secara bergantian. "Tadi, tadi yala masuk!"
Via dan Mahen yang mendengar ucapan Yara lalu beralih memperhatikan putri mereka itu. "Masuk ke mana, Sayang? Coba kasi tau Mama!"
Dengan takut-takut, Yara langsung menceritakan semuanya pada mereka. Rupanya setelah melihat pertengkaran Mama dan Papanya, Yara langsung masuk ke dalam kamar dengan takut.
Dia bingung harus melakukan apa, karna merasa takut, Yara memutuskan untuk sembunyi di dalam lemari. Jadilah lemari itu goyang dan menimpanya.
Kali ini giliran Via dan Mahen yang terkejut dengan cerita putri kecil mereka, mereka tidak menyangka kalau Yara melihat semuanya.
"Maafkan Mama, Sayang! Maafkan Mama!" Via langsung memeluk tubuh Yara dengan erat, dia benar-benar egois karna tidak memikirkan putrinya.
Begitu juga dengan Mahen, dia tidak pernah berpikir bahwa putrinya juga akan terluka atas apa yang telah dia lakukan.
"Maafkan Papa, Sayang! Papa janji tidak akan membuat kalian sedih lagi!" Mahen memeluk istri dan juga anaknya, membuat Via menghela napas kasar.
"Baiklah, aku akan memberi kesempatan padamu, Mas! Demi rumah tangga kita, dan juga demi anak kita!"
Ya, Via merasa kalau suaminya berhak untuk mendapat kesempatan. Bagaimana pun manusia tidak ada yang sempurna, dan pasti akan membuat kesalahan.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang tersenyum lebar saat melihat sebuah benda yang ada di tangannya. Dia merasa sangat bahagia saat melihat ada dua garis di alat tes kehamilan itu, pertanda kalau dia sedang hamil.
"Aku hamil, Mahen! Aku sedang mengandung buah cinta kita!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.