Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 19. Biarkan Mereka Berpikir.


__ADS_3

Semua orang sangat terkejut saat mendengar ucapan Via, terlebih Mahen yang saat ini sedang berusaha untuk berdiri.


"Ce-cerai? Kau bilang cerai?"


Via menganggukkan kepalanya. "Benar, Ma! Aku minta maaf karna sudah mengatakan hal seperti ini, tapi aku sudah tidak sanggup lagi!" Dia menundukkan kepalanya, berharap kedua mertuanya bisa mengerti apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Sayang, apa yang kau katakan?" Mahen segera menghampiri Via dan memegang kedua tangan istrinya, tetapi dengan cepat Via menghempaskan tangan laki-laki itu.


"maaf Mas, aku sudah tidak bisa lagi untuk menjadi istrimu!"


"Tidak, Sayang! Jangan berkata seperti itu, semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berubah dengan hubungan kita walaupun aku menikahi Clara!"


Via mematung mendengar ucapan suaminya itu, bagaimana mungkin hubungan mereka tetap baik-baik saja dengan semua yang sudah terjadi? Apa Mahen sudah tidak waras? Atau laki-laki itu menganggapnya sebuah patung yang tidak punya perasaan?


"Cukup! Hentikan semua perdeban kalian itu!" Papa Adrian sudah tidak bisa lagi menahan diri melihat drama rumah tangga itu, kesabarannya benar-benar sudah habis sekarang.


"Hentikan kegilaan kalian ini, apa kalian pikir kalian itu masih anak-anak, hah?"


Suara Papa Adrian menggema di ruangan itu membuat semua orang terdiam, bahkan para pembantu merasa takut saat ini.


"Kalian pikir ini adalah sebuah sinetron rumah tangga yang tidak masuk akal, hah? Yang satunya gila perempuan sampai menghamilinya, dan yang satunya lagi sibuk meminta cerai! Apa kalian pikir ini permainan?" Dada Papa Adrian naik turun menahan amarah yang sudah meledak melihat anak dan juga menantunya itu.


Mahen dan Via menundukkan kepala dengan diam, mereka tidak berani menjawab atau membantah apa yang Papa Adrian katakan.


"Sekarang pergi kalian dari rumahku, dan renungkan segala kegilaan yang tidak masuk akal ini! Dan jangan bawa Yara bersama kalian, aku tidak mau cucuku menjadi manusia tidak waras seperti orangtuanya!" Papa Adrian kembali menunjuk ke arah pintu keluar untuk mengusir mereka. "Pergi sekarang juga!"


Tubuh Via dan Mahen terjingkat kaget mendengar bentakan Papa Adrian, begitu juga dengan Mama Camelia yang hanya bisa diam melihat kemarahan suaminya.


Via lalu berbalik dan langsung pergi dari tempat itu dengan berurai air mata, sungguh dia tidak ingin membuat kedua mertuanya murka seperti itu.

__ADS_1


Sama halnya dengan Via, Mahen juga langsung keluar dari rumah itu. Dia tidak bisa menghadapi kemarahan sang Papa, karna memang dia telah membuat kesalahan besar.


Setelah kepergian anak dan juga menantunya, Papa Adrian langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Dengan cepat Mama Camelia memberikan segelas air untuknya.


"Minum dulu, Pa!"


Papa Adrian mengambil air itu dan meminumnya sampai kandas tak bersisa. "Sekarang katakan padaku, Camel! Sebenarnya apa yang terjadi pada anak dan juga menantu kita, kenapa mereka membuat keributan yang tidak masuk akal seperti ini?" Dia mencengkram erat gelas yang ada ditangannya.


"Tenangkan dirimu, Pa! Kita harus mencari jalan keluar tentang semua ini, Mama tidak mau orang lain mendengar apa yang sudah Mahen lakukan!" Mama Camelia mendessah frustasi, dia tidak menyangka kalau putra sulungnya akan membuat masalah seperti ini.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau Mahen akan hilang akal seperti itu, bagaimana mungkin dia bisa menyelingkuhi istrinya? Padahal pernikahan mereka masih seumur jagung!"


5 tahun adalah waktu yang singkat bagi pasangan suami istri yang sudah membina rumah tangga selama puluhan tahun, tapi bagi pasangan muda. 5 tahun pertama adalah waktu di mana hubungan mereka akan mengalami guncangan hebat, seperti masalah perselingkuhan bagi siapa saja yang tidak kuat iman.


"Entahlah Pa, aku tidak tau! Selama ini aku hanya mengkhawatirkan tentang Vano saja, dan aku merasa tenang dengan rumah tangga Mahen. Tapi kenyataannya, Mahen malah membawa bencana seperti ini!"


Selama ini Mama Camelia memang hanya mengkhawatirkan putra bungsunya saja, apalagi sifat Vano sangat tertutup dan berbeda jauh dengan putra sulungnya. Dia tidak pernah khawatir dengan Mahen, tapi sekarang putra sulungnya itu malah menancapkan bom waktu dalam keluarga mereka.


Mama Camelia menganggukkan kepalanya, biarkan Mahen dan Via merenungkan semuanya sampai dia dan suaminya mendapat jalan keluar.


"Dan hubungi Vano, suruh dia pulang secepatnya. Kalau anak itu menolak, aku sendiri yang akan menyeretnya ke sini!" Papa Adrian segera beranjak pergi dari tempat itu dengan rasa kesal yang masih meluap-luap.


Pada saat yang sama, di negara lain terlihat seorang lelaki sedang berada disebuah klub malam. Tubuhnya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti alunan musik, tidak ketinggalan tangannya sedang memegang segelas wine kesukaannya.


"Selamat atas keberhasilanmu, Vano!"


Sekitar 4 orang lelaki mengangkat gelas mereka untuk merayakan keberhasilan Vano, tentu saja lelaki yang bernama Vano juga ikut mengangkat gelas miliknya.


"sukses untuk kita semua!"

__ADS_1


"Chers!"


Kelima lelaki itu membenturkan dengan pelan gelas masing-masing, lalu meminumnya sampai kandas tak bersisa.


"Aarrgh, ini enak sekali!" Vano kembali menuang minuman ke dalam gelasnya. Namun, saat hendak kembali meminum wine itu. Tiba-tiba dia merasa ponselnya sedang bergetar, dengan cepat Vano mengambilnya dan melihat kalau Mamanya sedang menelpon.


"Tumben Mama nelpon jam segini?" Vano segera keluar dari klub itu untuk mengangkat telpon dari Mamanya. "halo, Ma?"


"halo Vano, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Mama Camelia dari sebrang telpon.


"Sedang di klub, ada apa, Ma?" Vano menyandarkan tubuhnya di dinding luar klub, beberapa kali ada wanita yang berusaha untuk mendekatinya, tetapi dia langsung mengusir wanita-wanita itu.


"astaga, bukannya di sana sudah sekitar jam 3 pagi?"


"Ya!"


Terdengar hembusan napas kasar dari Mamanya membuat Vano tersenyum tipis, dia yakin kalau Mamanya itu sedang menahan amarah sekarang.


"Vano, Papa memintamu untuk pulang!"


"Ma, aku sudah katakan kalau aku tidak mau pulang!" jawaban yang sama sejak setahun yang lalu.


"Papa akan datang ke sana dan menyeretmu kalau kau tidak mau pulang!"


"Apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2