Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 77. Kedatangan Keluarga.


__ADS_3

River yang ternyata mengikuti sekretaris itu hanya bisa menunggu di luar ruangan. Dia sama sekali tidak bisa mendengar obrolan dari dalam ruangan itu. Jangankan untuk mencuri dengar, untuk mengetahui siapa mereka saja pun tidak bisa membuat dia merasa kesal.


"Si*alan. Aku harus tau apa yang dia lakukan, dan siapa orang-orang yang dia temui. Gerak-geriknya sungguh sangat mencurigakan." River merasa ada hal besar yang sedang laki-laki itu lakukan saat ini.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Vano sedang mengantarkan Via dan juga Yara untuk pulang ke apartemen. Hari ini sudah cukup dia mengajak Yara untuk bermain keluar, dan juga sudah cukup melihat wajah Via untuk obat penghibur lelah.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya, mungkin lain waktu aku akan ke sini lagi."


Via menganggukkan kepalanya. "Iya, hati-hati di jalan, Vano. Em ... kabarin aku kalau kau sudah sampai rumah."


Vano mengangguk paham lalu berlalu masuk ke dalam mobil. Dia harus segera bertemu dengan River karena ada sesuatu yang sepertinya harus segera dia kerjakan.


Mahen dan Clara saat ini juga sudah sampai di rumah mereka. Begitu sampai di rumah itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tua Mahen dan juga omanya yang baru saja datang dari luar negeri.


"Ke-kenapa semuanya pada datang ke sini?" tanya Mahen dengan gugup, dia takut kalau keluarganya ingin membahas tentang keributan yang sudah Clara lakukan tadi.


"Kenapa, apa oma tidak boleh datang ke sini?" tanya oma Erina dengan tajam sambil melirik ke arah Clara yang sedang duduk di samping Mahen.


"Tidak, Oma. Bukan seperti itu." Mahen mengambil segelas jus yang sudah terhidang di atas meja, yang baru saja di sajikan oleh pembantu di rumahnya untuk mengurangi rasa gugup.


Clara yang merasa diperhatikan hanya bisa tersenyum tipis saja. Ini kali pertama bertemu dengan neneknya Mahen, dan sepertinya wanita tua itu tidak menyukainya.


"Siapa kau, dan dari mana asalmu?" tanya oma Erina pada Clara. Dia yang sudah lama penasaran dengan istri Mahen itu baru sekarang bisa bertemu dengannya.


"Sa-saya Clara, Oma. Saya, saya berasal dari kota T," jawab Clara dengan bohong. Tentu saja dia harus berbohong, karena mereka tidak boleh tau dari mana tempat asalnya yang sebenarnya.


"Oma ingin bicara denganmu, ikut oma!"

__ADS_1


Clara langsung melihat ke arah Mahen saat mendengar apa yang oma katakan, sementara Mahen merasa takut dan gelisah saat omanya ingin bicara berdua saja dengan wanita itu.


"Ayo, cepat! Kenapa kau masih duduk di sana?" Teriak oma Erina membuat tubuh Clara terjingkat kaget.


"Cepat pergi, jangan sampai kau membuat oma marah," ucap Mahen membuat Clara langsung beranjak mengikuti langkah wanita tua itu.


Setelah kepergian Clara dan oma Erina, Mahen segera bertanya dengan kedua orang tuanya kenapa sang oma ingin bertemu dengan wanita itu.


"Apa kau pikir, oma akan menerima wanita itu begitu saja?" ucap mama Camelia. Sedangkan Via saja sampai sekarang belum benar-benar disukai oleh oma Erina, apalagi Clara yang seperti itu.


"Oma tidak perlu menerimanya, Ma. Karna aku akan segera menalak dia jika sudah melahirkan,"


"Mahen!" bentak papa Adrian sambil menahan amarahnya. "Kau pikir semua ini permainan, hah?" ucapnya lagi dengan penuh penekanan.


"Mau sampai kapan kau mempermalukan kami? Apa kau pikir, papa tidak tau keributan yang kalian lakukan di perusahaan hari ini, hah?"


"Sudah cukup kau membuat banyak masalah, Mahen. Tidak hanya dengan Via, tapi kau juga ingin membuat masalah dengan istrimu itu. Sebenarnya apa yang kau inginkan, hah?" tanya mama Camelia dengan penuh penekanan. Dia tidak akan membiarkan putra sulungnya itu kembali membuat keributan.


"Cepat urus pernikahanmu dan wanita itu, kami sudah memutuskan kalau kalian akan menikah secara sah dimata hukum dan juga agama,"


"Apa?" Mahen sangat terkejut dengan apa yang mamanya katakan. "Tidak, Ma. Aku tidak mau!"


Papa Adrian mengeraskan rahangnya penuh emosi. "Sebenarnya apa lagi yang mau kau lakukan? Sudah cukup, Mahen. Berhenti membuat masalah dan menganggap pernikahan adalah sebuah permainan! Kau sudah cukup dewasa, Mahen. Bahkan adikmu saja tidak akan pernah melakukan hal serendah ini."


Mahen langsung tertawa sinis mendengar ucapan sang papa. "Ya ya ya, anak kesayangan papa itu memang tidak akan pernah melakukan hal serendah ini." Dia mengangguk-anggukkan kepalanya membuat kedua orangtuanya mendessah berat.


"Sudah cukup, Mahen. Mama tidak akan tinggal diam lagi jika kau membuat masalah. Belajarlah untuk menerima kesalahan yang sudah kau lakukan, dan hidup dengan baik bersama dengan wanita yang sudah kau pilih itu," ucap mama Camelia dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Mahen terdiam. Tidak, dia tidak akan melakukan semua itu. Dia tidak bisa melihat Via bersama dengan laki-laki lain, terlebih-lebih dengan adiknya sendiri.


"Kau ingat kata-kata mama ini. Dan berhentilah bertengkar dengan adikmu, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada kalian, hah?" tanya mama Camelia dengan heran. Beberapa kali dia melihat kedua putranya saling bersitegang, padahal dulu mereka tidak pernah seperti itu.


"Maaf, Ma. Aku tidak bisa." Keputusan Mahen sudah bulat. Sudah cukup selama ini dia kehilangan Via, dan dia tidak ingin kehilangan wanita itu untuk selama-lamanya.


"Tidak bisa? Apa maksudmu?"


"Aku tidak bisa terus bersama dengan Clara, dan aku juga tidak bisa kehilangan Via. Aku tidak mau!"


Kedua orang tua Mahen tercengang saat mendengarnya. "Kau benar-benar sudah gila, Mahen. Sudah gila!"


"Ya, aku memang sudah gila karena aku mencintai Via, Ma. Aku tidak mau kehilangannya seperti ini," ucap Mahen.


"Kau sendiri yang telah menyakitinya, jadi berhenti mengganggunya dan biarkan dia bahagia dengan hidupnya sendiri. Kau benar-benar memalukan!" Papa Adrian benar-benar tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Memalukan? Apa yang Vano lakukan jauh lebih memalukan dari pada aku, Pa. Dan Papa menyuruhku untuk membiarkan Via, membiarkan dia menjalin hubungan dengan adikku sendiri?"


"Apa?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2