
Setelah menamani Yara bermain, Via mengajak gadis kecil itu untuk pulang. Namun, Yara menggelengkan kepalanya dan meminta untuk ke rumah Mama Camelia.
"Yala kangen papa!" Yara menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca, karena memang sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Mahen.
"Gimana kalau besok saja, Sayang? Hari ini kan udah sore."
Yara tetap menggelengkan kepala, pokoknya dia ingin bertemu dengan Mahen saat ini juga.
Akhirnya Via memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya, dia tidak bisa melihat Yara sedih karena tidak bertemu dengan Mahen.
Pada saat dalam perjalanan, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi mati secara mendadak membuat Via bingung.
"Ya Allah, ada apa dengan mobil ini?" Via lalu menyuruh Yara untuk tetap di dalam mobil, sementara dia sendiri beranjak keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Via langsung membuka kap mobil pada bagian depan. Begitu terbuka, asap langsung mengepul banyak membuatnya sampai terbatuk-batuk.
"Uhuk uhuk uhuk. Ya Allah, kenapa ini?" Via mengibas-ngibaskan asap yang ada di depan wajah, dadanya terasa sesak karena asap tersebut.
"Lebih baik aku telpon Mas Mahen." Baru saja hendak mengambil ponsel, tiba-tiba tubuh Via menjadi kaku. Dia berdecak kesal karena tidak ingat kalau hubungan mereka saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Terus, aku harus telpon siapa?" Dia merasa bingung. Biasanya jika terjadi hal seperti ini, maka dia akan langsung menelepon Mahen.
Kebetulan dia sedang berada di jalanan yang tidak ramai, bahkan saat ini tidak ada kendaraan lain yang melintas di tempat itu.
"Oh ya, coba aku telpon Riani. Mana tau dia punya nomor montir." Via segera mengambil ponselnya untuk menelepon Riani.
Angin berhembus dengan kencang membuat hawa dingin mulai menusuk kulit. Via bergegas masuk ke dalam mobil karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, dia tersenyum tipis saat melihat Yara sudah terpejam.
"Duuh, nomor Riani enggak aktif lagi." Sudah beberapa kali Via menelepon, tetapi nomor Riani tetap tidak aktif juga.
Saat ini Via benar-benar bingung, dia tidak tau harus menelepon siapa untuk membantunya memperbaiki mobil.
__ADS_1
Dari kejauhan, anak buah Mahen terus memperhatikan apa yang terjadi pada Via. Dia tau kalau mobil wanita itu sepertinya sedang mengalami kerusakan, apalagi saat asap tebal mengepul dari mobil tersebut.
"Apa aku harus melaporkannya pada Tuan?" Dia terlihat bingung, haruskah melaporkan semua ini pada Mahen? Atau malah menolong wanita itu?
Jedar!
Tiba-tiba suara petir mengelegar di tempat itu membuat Via dan anak buah Mahen terlonjak kaget, bahkan Yara yang sedang tidur langsung menangis karena suara petir itu.
Via langsung mengangkat tubuh Yara dan mendudukkan di atas pangkuannya. "Sssh, mama di sini, Sayang! Jangan nangis lagi ya." Dia menepuk-nepuk punggung Yara untuk memberi ketenangan.
Hujan deras langsung mengguyur tempat itu beserta suara guntur yang saling bersahut-sahutan, membuat Via memeluk putrinya dengan erat.
"Ya Allah, kenapa tiba-tiba tidak ada jaringan?" Baru saja Via ingin menelepon Mahen karena tidak ada pilihan lain, tetapi saat ini ponselnya malah tidak dapat jaringan.
"Baiklah, mungkin sebentar lagi ada." Dia memutuskan untuk menunggu jaringan kembali ada, setelahnya Via akan langsung memghubungi Mahen.
Tidak terasa 2 jam berlalu begitu saja. Via yang sedang menunggu jaringan sampai tidak sadar kalau tertidur, dan dia langsung tersentak kaget saat melihat hari sudah gelap.
"Astaga, aku ketiduran." Via cepat-cepat mengambil ponselnya untuk menelepon Mahen, tetapi tetap tidak ada jaringan juga di tempat itu.
Tubuh Via terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya, dia langsung beringsut mundur karena takut kalau laki-laki yang ada di samping mobil adalah orang jahat.
"Nyonya, saya anak buah Tuan Mahen."
Samar-samar Via bisa mendengar suara laki-laki itu di tengah hujan yang cukup deras. Dia lalu mengangkat tubuh Yara dan mendudukkannya di kursi samping, dan segera membuka pintu mobil itu.
"A-Anda anak buah Mas Mahen?"
Laki-laki itu menganggukkan kepala, dia merasa tidak tega jika terus membiarkan Via begitu saja walaupun belum melaporkan semuanya pada Mahen.
"Tapi, apa yang Anda lakukan di sini?" Via merasa bingung dengan kedatangan laki-laki itu, dan kenapa pula laki-laki itu bisa tau kalau mobil ini adalah miliknya?
__ADS_1
"Sa-saya, saya sedang lewat, Nonya. Dan tidak sengaja melihat mobil Nyonya," jawabnya dengan gugup.
Via terdiam saat mendengar jawaban laki-laki itu, dia mencoba berpikir positif dan mempercayai ucapan laki-laki itu. "Baiklah, kalau gitu apa Anda bisa menelepon Mas Mahen? Kasihan Yara kalau terlalu lama di sini."
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Maaf Nyonya, ponsel saya tidak dapat jaringan."
Huh, ternyata sama saja dengan ponsel Via sendiri. "Lalu, apa Anda bisa memperbaiki mobil ini?"
"Saya akan mencobanya!" Laki-laki itu lalu memeriksa keadaan mesin mobil Via walaupun harus basah-basahan di tengah hujan.
Via terus memperhatikan laki-laki itu, dia marasa kasihan karna harus terkena hujan. Sayangnya tidak ada payung di mobil itu, tetapi tiba-tiba dia ingat kalau jaket tebal Mahen ada di kursi belakang.
Dengan cepat dia mengambil jaket itu dan memakainya, Via lalu beranjak keluar untuk menemani laki-laki itu.
"Ba-bagaimana? Apa mesinnya baik-baik saja?"
Anak buah Mahen terlonjak kaget saat Via sudah berada di sampingnya. "Kenapa Nonya keluar? Hujannya sangat deras, Anda bisa sakit nanti."
"Tidak apa-apa, aku sudah memakai jaket tebal." Walaupun bibirnya mengatakan tidak apa-apa, tetapi tubuhnya sudah gemetar menahan dingin.
Laki-laki itu lalu kembali memeriksa keadaan mesin mobil itu, dia yakin jika ada salah satu kabel yang putus hingga membuat mobil itu mati secara mendadak.
Dari kejauhan, sebuah mobil tampak melintas dari tempat itu. Dialah Vano, yang baru saja selesai bertemu dengan seseorang.
Dia melajukan mobilnya dengan pelan karena jarak pandangnya terhalang hujan, lalu matanya melirik ke arah samping di mana ada seorang wanita yang sangat dia kenali.
"Itu kan, Via?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.