Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 42. Tidak Saling Mengenal.


__ADS_3

Yara bersorak senang saat mendengar jawaban Vano, sementara Vano sendiri sedang mencoba untuk menahan senyumannya.


Melihat Yara, sungguh Vano merasa sangat sedih dan menjadi tidak tega. Apalagi gadis kecil itu tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dengan kedua orang tuanya, yang pasti suatu hari nanti pasti akan membuat Yara merasa sedih.


Namun, memaksa Via untuk tetap bersama dengan kakaknya juga salah. Dia sendiri tau bagaimana kegilaan Mahen, dan sampai saat ini pun Vano tidak tau kenapa laki-laki itu bisa seperti itu.


Tidak berselang lama, mobil Vano sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah mewah yang alamatnya sudah diberitahu oleh mama Camelia. Dia segera menurunkan kaca mobilnya untuk bicara dengan penjaga gerbang tersebut.


"Selamat siang, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Apa benar ini rumah Nona Riani?"


Penjaga itu mengangguk. "Benar, Tuan. Apa Tuan ingin bertemu dengan Nona?"


"Tidak, aku ingin bertemu dengan Via. Dia tinggal di sini kan?"


Penjaga itu diam sejenak untuk mengingat nama dari teman nona mudanya yang tinggal di rumah itu juga. "Ah, iya Tuan. Nona Via tinggal di sini, tapi saat ini beliau tidak ada di rumah."


"Aku ingin mengantar putrinya, dia ingin bertemu dengan mamanya." Vano mengangkat tubuh Yara dan mendudukkannya di pangkuan.


"Maaf, Tuan. Saat ini Nona Via sedang berada di rumah sakit,"


"Rumah sakit? Apa yang terjadi?"


Penjaga itu langsung menceritakan semua yang dia dengar dari para pembantu, dan dia juga menyesal karena sudah memberi izin pada seorang lelaki paruh baya yang ingin bertemu dengan Via.


Tanpa menunggu lama, Vano langsung tancap gas menuju rumah sakit saat penjaga itu sudah selesai menceritakan semuanya. Rahangnya mengeras dengan emosi membara saat mendengar apa yang terjadi pada Via, dia tidak menyangka kalau ayah wanita itu sangat buruk.


"Si*alan. Sudah 5 tahun dia menjadi kakak iparku, tapi aku sama sekali tidak tau apapun." Vano memukul stir mobilnya membuat Yara menatap heran.


"Om Pano, kenapa kita pelgi lagi? Yala mau sama mama!" Mata Yara mulai berkaca-kaca dengan tangan yang saling bertautan.


"Ini kita mau jumpain mama Yara, jadi sabar ya." Vano mengusap kepala Yara agar gadis kecil itu tidak menangis.

__ADS_1


Yara mengangguk lemah, kemudian dia kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah sakit. Dengan cepat Vano keluar dari mobil dengan menggendong Yara, dan melangkahkan kaki memasuki rumah sakit tersebut.


"Selamat sore, Tuan. Ada yang-"


"Saya mencari pasien bernama Via, Silvia Maharani." Vano langsung menyebut nama Via karena merasa tidak sabar.


"Pasien atas nama Silvia Maharani berada di ruang perawatan VIP nomor 6, Tuan. Mari saya antar."


Vano langsung mengikuti langkah resepsionist itu menuju ruangan Via, sementara Yara yang berada dalam gendongannya melihat ke kiri dan kanan dengan bingung.


"Ini ruangan Nona Silvia, Tuan."


Vano langsung saja membuka ruangan itu membuat dua orang wanita yang sedang mengobrol di dalamnya terlonjak kaget.


"Mama!"


Via yang ternyata sudah sadar langsung tersenyum cerah saat melihat Yara, sementara Riani merasa terkejut melihat keberadaan Vano yang sepertinya sedang marah.


"Ah Sayang mama, katanya mau pulang malam?" Tangan Via terulur untuk mengangkat tubuh Yara, tetapi dia merasa tidak kuat karena tubuhnya masih lemas.


Riani yang akan membantu tidak jadi menggerakkan tubuhnya saat melihat Vano berjalan masuk, laki-laki itu langsung mengangkat tubuh Yara dan mendudukkannya di ranjang.


"Te-terima kasih." Via sedikit mengulas senyum, tetapi dia merasa takut saat bersitatap mata dengan Vano.


"Kepala Mama kenapa?" Yara menunjuk tepat ke perban Via membuat wanita itu meringis sakit.


"I-ini, ini enggak sengaja kena batu, Sayang. Jadi harus dibungkus."


Yara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mama bandel ya, masak mainan batu sampe kena kepala. Ck ck ck." Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan mulut mengerucut.


"Iya, Sayang. Mamamu itu memang bandel, nanti kalau udah sampe rumah kita marahain ya,"

__ADS_1


Yara kembali mengangguk. "Iya iya, nanti abis dimalahin balu di mainin. Ya kan Om?" Dia melihat ke arah Vano yang sejak tadi tidak bersuara.


Vano menganggukkan kepala membuat Yara tersenyum lebar. "Ma, kata Om Pano kita mau main sama-sama. Katanya Om Pano mau mainin Mama."


Kalimat ambigu yang Yara ucapkan langsung membuat Via dan Riani terbelalak, sontak wajah Via memerah bak kepiting rebus saat ini.


Riani sendiri langsung melirik ke arah Vano dengan penuh tanda tanya, dan dia merasa takjub melihat lelaki itu tidak bereaksi apa-apa.


"A-apa Yara sudah makan? Mau mama suapin?" Via memilih untuk mengalihkan pembicaraan, dia yakin kalau putrinya itu hanya asal bicara saja.


"Apa Kak Mahen tau soal ini?" Tiba-tiba Vano bersuara dengan tatapan tajam ke arah Via.


"Tidak, dan Mas Mahen tidak harus mengetahui semua ini," jawab Via. "oh ya, terima kasih karna sudah mengantar Via. Maaf karna terus merepotkanmu," sambungnya kemudian.


"Yara sudah ku anggap sebagai anakku sendiri, jadi aku tidak keberatan untuk mengantar atau menjemputnya."


Via tersenyum mendengar ucapan Vano. "Aku senang mendengarnya, Vano. Setidaknya Yara tidak merasa sedih jika aku dan Mas Mahen berpisah nanti." Dia mengusap kepala Yara yang sedang sibuk melihat ponsel.


Vano dan Riani terdiam saat mendengar ucapan Via. Di balik ketegaran wanita itu, mereka dapat melihat luka yang sangat dalam dari tatapan matanya.


"Kalau gitu aku permisi." Vano segera berbalik dan berjalan keluar dari tempat itu.


"Vano!" Panggilan Via membuat langkah Vano yang sudah mencapai pintu terhenti, laki-laki itu menoleh tanpa membalikkan tubuh. "Sekali lagi terima kasih untuk semuanya." Senyum indah terbit di bibir Via.


Vano hanya mengangguk saja untuk menanggapi ucapan Via, dia lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi dari tempat itu.


"Kau banyak berubah, Vano. Atau mungkin memang akulah yang selama ini tidak mengenalmu."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2