Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 17. Kemarahan Mama Camelia.


__ADS_3

Mahen dan Clara sangat terkejut saat melihat keberadaan Via dan juga Mama Camelia, tubuh mereka mendadak jadi kaku dengan wajah tercengang.


Mama Camelia segera melangkahkan kakinya untuk mendekati Mahen, sementara Via hanya diam di tempat karna kakinya benar-benar tidak bisa untuk digerakkan.


"Ma-Mama, apa yang-"


"Siapa dia?" Begitu berdiri di hadapan Mahen, Mama Camelia langsung bertanya dengan tajam membuat laki-laki itu menelan salivenya dengan kasar.


"i-ini, ini adalah-"


"Kenalkan Tante, saya Clara!" Clara langsung saja mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri, tetapi Mama Camelia tidak memperdulikannya dan malah menatap tajam pada Mahen.


Clara kembali menarik tangannya karna tidak ditanggapi oleh Mama Camelia, padahal dia berniat untuk mengambil hati calon mertuanya itu.


"mama tanya siapa dia, Mahen?" bentak Mama Camelia membuat Mahen terkesiap, untuk pertama kalinya dia melihat kemarahan diwajah Mamanya itu.


"Di-dia, dia ini karyawanku, Ma!"


Clara langsung mengalihkan pandangannya ke arah Mahen, dia merasa tidak suka karna laki-laki itu malah mengenalkannya sebagai karyawan dan bukannya kekasih.


"Ooh, jadi seorang karyawan? Karyawan seperti apa yang dengan lancangnya pergi bersama seorang atasan?"


Glek. Mahen dan Clara menelan salive mereka dengan kasar, sementara Via hanya menjadi penonton saja saat ini.


"Sekarang ikut mama, Mahen!" Mama Camelia segera berbalik dan kembali berjalan ke arah Via. Dia menatap menantunya itu dengan tajam, hatinya terasa teriris melihat air mata yang masih membekas diwajah Via.


"Mahen, kau akan meninggalkanku?" Clara menahan tangan Mahen yang akan pergi membuat laki-laki itu menggeram marah.


"Apa kau tidak sadar, dengan apa yang sedang terjadi?" Mahen menghempaskan tangan Clara dengan kasar.


"seharusnya kau membawaku, Mahen! Ini kesempatanku untuk bicara dengan Mamamu,"


"kau jangan gila! Lebih baik-"

__ADS_1


"Mahen!"


Tubuh Mahen terlonjak kaget mendengar teriakan Mamanya, dengan cepat laki-laki itu berlari untuk mendekati Mama Camelia dan juga Via.


Clara menatap kepergian mereka dengan geram, baru saja dia berhasil membujuk Mahen. Namun, semuanya jadi berantakan seperti ini.


Mahen sendiri sudah berdiri di samping mobil Via, dia menundukkan kepalanya karna tidak berani melihat ke arah istrinya itu.


"Kita pulang ke rumah mama!" Mama Camelia langsung masuk ke dalam mobil dengan diikuti oleh Via, wanita itu duduk di samping sang mertua tanpa melihat ke arah Mahen sedikit pun.


Mahen menghembuskan napasnya dengan kasar, dia lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil itu. Yara yang biasanya cerewet pun kini tampak diam, sepertinya dia tau kalau saat ini keluarganya sedang terkena masalah besar.


Sesampainya di halaman rumah Mama Camelia, Via segera turun sambil menggendong Yara yang sudah tidur. Dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa melihat ke belakang, membuat Mama Camelia tau kalau saat ini Via pasti sangat terluka.


Brak!


Via membuka pintu kamar dan membaringkan Yara di atas ranjang, setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah.


"Ya Allah, kenapa? Kenapa ya Allah? Suamiku ... huhuhu!"


Akhirnya pertahanan Via runtuh juga, dia menangis sejadi-jadinya dengan apa yang sudah Mahen lakukan padanya.


Bagaimana bisa suaminya terus menyakitinya seperti ini? Bukannya laki-laki itu sudah berjanji untuk tidak mengulanginya lagi? Lalu sekarang apa, apa yang laki-laki itu lakukan?


"Mas, huhuhu! Kenapa? Kenapa kau menghancurkanku seperti ini? Kenapa, huhuhu!" Via menelungkupkan kepalanya di antara kedua kaki yang terlipat, sungguh dia sudah tidak bisa lagi menahan semuanya.


"Ya Allah ya Tuhanku, cobaan seperti apa yang Kau berikan padaku, ini? Kenapa suamiku sangat tega padaku, ya Allah? Apa salahku, kenapa dia menghancurkanku seperti ini? Huhuhu!"


Wanita yang sangat kuat juga pasti akan hancur, jika diperlakukan dengan sangat kejam oleh orang yang dicintai seperti ini. Luka lama yang masih terbuka lebar semakin disayat-sayat dengan tidak berperasaan, hati yang hancur berkeping-keping kini semakin dipijak-pijak hingga rata dan tidak bisa disusun kembali.


Via terus meratapi nasib malang yang menimpanya, suami yang sangat dia cintai ternyata sanggup menghancurkan harapan serta cintanya selama ini.

__ADS_1


Dia sudah mencoba untuk memaafkan kesalahan yang Mahen lakukan, bahkan mencoba untuk melupakan semuanya. Namun, lagi-lagi dia ditampar oleh sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan.


"Anak? Apa wanita itu benar-benar mengandung anakmu, Mas?"


Via ingat betul ucapan Clara yang berhasil menembus jantungnya, bahkan berhasil meluluh lantakkan hidupnya saat ini.


"Tidak, kita tidak bisa lagi bersama, Mas! Aku tidak akan menerima semua itu, itu adalah penghinaan terbesar untukku!"


Ya, Via sudah mengambil keputusan. Apa yang Mahen lakukan benar-benar mengoyak dan menginjak-nginjak harga dirinya. Bagaimana mungkin suaminya bisa sampai punya anak dengan wanita lain? Dia benar-benar sudah tidak punya kepercayaan diri lagi sekarang.


Pada saat yang sama, Mahen sudah duduk di hadapan Mama Camelia dan juga suaminya. Dia menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat kedua orangtuanya.


"Siapa wanita itu?" Suara Mama Camelia terdengar sangat dingin, wanita paruh baya itu menatap sinis pada putra sulungnya yang saat ini tertunduk diam. "Jawab mama, Mahen!"


Papa Adrian tersentak kaget mendengar teriakan istrinya, dia yang tidak tau apa-apa melihat ke arah istri dan putranya secara bergantian dengan bingung.


"Dia, dia karyawanku, Ma!" Lagi-lagi Mahen berkata seperti itu membuat emosi Mama Camelia benar-benar meninggi.


"Jawab yang benar atau ku seret wanita itu ke sini!"


Papa Adrian mengernyitkan keningnya, sepertinya dia mulai paham dengan apa yang sedang terjadi di hadapannya saat ini.


Mama Camelia langsung berdiri dan mencengkram kerah kemeja Mahen membuat suaminya sangat terkejut. "Katakan siapa dia, Mehen?" Dia mengguncang tubuh Mahen yang terpaku di depannya.


"Hentikan, Ma! Lepaskan dia!" Papa Adrian berusaha untuk melepaskan cengkraman istrinya, dan menarik tubuh Mama Camelia agar kembali duduk.


"Lepaskan aku, biar ku bunuh anak si*alan itu!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2