
Via menatap Mahen dengan tidak percaya, bagaimana mungkin laki-laki itu sanggup meminta syarat saat anak kandungnya sendiri ingin bertemu?
"Aku bahkan bisa menemui Yara setiap hari, jika kau menerima syarat dariku," sambung Mahen kemudian, dia harus bisa mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini.
Via mengangguk lemah. Apapun itu pasti akan dia lakukan demi membuat putri kecilnya bahagia, termasuk menerima syarat dari Mahen. "Baiklah, aku akan menerima syarat darimu, Mas."
Mahen menyeringai senang mendengar jawaban dari Via. Untung saja otaknya ini sangat cerdas, sehingga bisa cepat tanggap dalam situasi seperti ini. "Aku akan menemui Yara, jika kau bersedia untuk menjauh dari Vano."
Deg.
Via terdiam saat mendengar syarat yang Mahen berikan, entah kenapa dadanya berdenyut sakit saat mendengar keinginan laki-laki itu. "Tunggu, kenapa aku merasa seperti ini?" Via terkejut dengan reaksi dari perasaannya saat ini. "Syarat yang dia berikan sangat mudah, dan juga semua ini demi Yara."
"Kau bisa memikirkannya dulu kalau merasa berat, karna aku tau kalau kau pasti ada main kan, dengan adikku?"
Via tersentak mendengar apa yang Mahen katakan, sementara Mahen melihatnya dengan tatapan mengejek.
"Baiklah, aku menerima syarat darimu,"
"Wah, benarkah? Apa hatimu tidak keberatan?" Mahen menatap sinis dengan tangan bersedekap dada. "Atau kau memang sudah bosan bermain-main dengannya?"
Via merasa benar-benar geram dengan apa yang Mahen katakan. "Kau bisa mengajukan syarat seperti itu, Mas. Tapi kau tidak berhak untuk menghina kami." Ucapannya sangat tajam setajam mata memandang.
__ADS_1
Mahen semakin yakin kalau ada sesuatu antara Vano dan juga wanita itu, karena tidak mungkin Via mau membela adiknya jika mereka tidak sedang bermain api.
"Baiklah. Terserah kalian mau melakukan apa, asal satu hal yang harus kau ingat, Via." Mahen melangkahkan kakinya agar bisa lebih dekat dengan Via. "Jangan memancing amarahku, karena aku bisa saja melakukan sesuatu yang tidak pernah kau pikirkan sebelumnya." Dia kembali tersenyum sinis.
"Jadi, begitu?" Via juga ikut tersenyum membuat senyum yang ada diwajah Mahen langsung lenyap seketika. "Aku tidak menyangka kalau selama ini belum cukup baik mengenalmu, Mas. 5 tahun ternyata tidak cukup untuk melakukan itu."
Rahang Mahen mulai mengeras mendengar ucapan yang wanita itu layangkan padanya. "Aku tidak peduli dengan apapun yang kau pikirkan, yang jelas jangan coba-coba untuk berdekatan dengan Vano. Akan aku pastikan kalau kau akan menyesal jika melawan ucapanku, apalagi kau sampai berani bermain api dengan adikku sendiri!"
Ucapan yang Mahen berikan penuh dengan penekanan, membuat Via mulai berpikir tentang satu hal yang sangat penting.
"Jangan jadikan orang lain sebagai cermin untuk dirimu sendiri, Mas." Via mundur selangkah untuk memgambil jarak dari laki-laki itu. "Tidak setiap hubungan antara laki-laki dan perempuan akan berakhir sama seperti hubunganmu dan Clara, jadi jangan berpikir setiap orang sama dengan dirimu."
Mahen merasa tertampar dengan apa yang Via katakan, tangannya mengepal kuat menahan emosi yang kini mulai merangkak naik.
Mahen mematung di tempatnya saat wanita itu sudah keluar dari ruangannya, entah kenapa setiap kata-kata yang Via ucapkan berhasil membuatnya tersudut.
Vano yang ternyata sejak tadi mendengarkan semua ucapan Mahen mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tidak cukup dengan memusuhinya, dan sekarang laki-laki itu malah berniat untuk menjauhkannya dari Via.
"Selama ini aku berusaha keras untuk menekan perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, dan si*alnya perasaan itu malah tertuju pada mantan kakak iparku sendiri. Aku berusaha untuk menyimpannya rapat-rapat, karna tidak mau ada satu pun orang yang mengetahuinya walaupun mungkin ada yang menyadari semua itu,
"Tapi apa yang terjadi hari ini membuatku sadar, bahwa perasaanku sudah teralu dalam. Dan apa yang kau lakukan memberi keberanian padaku, Kak. Mulai sekarang, aku akan menunjukkan rasa sukaku secara terang-terangan pada Via. Aku harap nanti kau tidak terkejut."
__ADS_1
Itulah tujuan mulia yang akan Vano wujudkan saat ini, di mana dia telah terjebak oleh seorang wanita yang benar-benar menarik perhatiannya.
Niat hati ingin membantu Via karena merasa kasihan, malah berujung pada sebuah perasaan yang menghanyutkan. Awalnya Vano terus menyangkal semua itu, dan mencoba untuk menjauh.
Namun, apalah daya saat hati sudah memilih ke mana tempat akan berlabuh. Dia sendiri tidak kuasa untuk menekan hasrat yang selalu ingin mendekat, apalagi saat sudah mengenal semua sifat yang ada dalam diri wanita itu.
Setelah menemui Mahen, Via bergegas menuju suatu tempat untuk memeriksa stok yang akan dijual pada para distributor sekalian bertemu dan bersosialisasi dengan mereka.
Via yang awalnya hanya seorang wanita rumahan, kini menjelma menjadi wanita karir yang selalu bertemu dengan banya orang.
Dia sendiri awalnya tidak percaya dengan kemampuan sosialisasi yang dia punya, tetapi Riani terus mendorongnya hingga dia menjadi wanita yang hebat dan juga bijak.
"Baiklah, cukup sekian pertemuan kita pada hari ini. Saya mewakili Nona Riani mengucapkan banyak terima kasih pada Anda semua. Berkat kerja keras Anda, roti kita bisa diterima dan sukses besar dipasaran." Via menundukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih yang sangat besar pada mereka semua.
"Kami bisa bekerja dengan baik karna adanya dukungan dari Anda dan juga tim, Nona. Hingga kerja sama kita bisa berjalan sukses seperti ini."
Via menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tidak pernah hilang diwajahnya. "Segala sesuatu yang baik pasti akan berjalan lancar, jika dibarengi dengan kerja keras dan juga do'a."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.