
Akhirnya Vano dan seluruh keluarganya, sudah berkumpul di ruang keluarga setelah sama-sama selesai menikmati makan malam.
"Ada apa, Vano? Sepertinya ada hal serius yang ingin kau katakan pada kami," ucap papa Adrian setelah beberapa detik terjadi keheningan di antara mereka.
"Iya, Vano. Apa ada masalah?" sambung mama Camelia, begitu juga dengan Mahen yang melihat Vano penuh khawatir.
"Aku ingin mengatakan jika besok aku akan kembali ke London,"
"Apa?" Semua orang terlonjak kaget dengan apa yang Vano ucapkan, terutama kedua orang tuanya. "Kenapa kau kembali ke sana, Vano? Mama kan sudah memintamu untuk menetap di sini." Mama Camelia memandang putra bungsunya dengan sendu.
"Ma, aku bukannya tidak mau. Tapi Mama tau sendiri jika saat ini aku sedang membangun perusahaan, dan aku harus segera ke sana,"
"Kau kan bisa memantaunya dari sini, Vano. Mama tidak mau jauh darimu." mama Camelia menatap Vano dengan mata berkaca-kaca.
"Pergilah, Nak. Papa akan selalu mendukungmu."
Semua orang langsung melihat ke arah papa Adrian, terutama mama Camelia yang menatapnya dengan tajam.
"Ma, aku pergi untuk menggapai cita-citaku." Semua orang kembali melihat ke arah Vano. "Sejak sekolah dulu, aku sudah berusaha keras untuk membangun perusahaan ini. Aku berusaha masuk dalam kelompok pengusaha-pengusaha sukses, dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Hingga akhirnya aku mendapat koneksi kuat dan perusahaanku bisa dibangun tahun ini, aku sangat bahagia." Dia menatap mamanya dengan senyum lebar untuk menunjukkan betapa besar kebahagiaannya.
Mama Camelia menundukkan kepalanya dengan sedih. Sebenarnya dia bahagia dan juga bangga dengan pencapaian Vano diumur yang masih terbilang muda, tetapi dia tidak ingin tinggal jauh darinya.
Papa Adrian merangkul tubuh sang istri dan menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya. "Aku tahu bagaimana perasaanmu, Sayang. Tapi sebagai orang tua, kita patut bersyukur punya putra yang pekerja keras dan sangat membanggakan. Sejak dulu Vano berusaha keras untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, kita tidak boleh menjadi penghalang untuknya, hem."
Mama Camelia mengangguk lemah, dia lalu melihat ke arah Vano dan memintanya untuk mendekat.
Vano beranjak dan berpindah duduk ke samping sang mama. "Mama kan bisa selalu datang menemuiku, hanya butuh waktu beberapa jam perjalanan saja." Dia menggenggam kedua tangan sang mama.
Mama Camelia menganggukkan kepalanya sambil memeluk tubuh sang putra. "Mama mengizinkanmu, Sayang. Tapi berjanjilah satu hal." Dia lalu melerainya dan melihat dengan sendu. "Berjanjilah kalau kau akan mengurus dirimu sendiri dengan baik, jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Apa kau bisa?"
Vano tersenyum simpul. "Tentu saja."
__ADS_1
Mama Camelia kembali memeluknya. "Mama pasti akan sering ke sana nanti, dan kau harus selalu menemani mama jika datang ke sana.
"Itu pasti, Ma,"
"Kau akan selalu menuruti apa yang mama inginkan, hem?"
Vano kembali mengangguk membuat papa Adrian dan Mahen menggelengkan kepala mereka karena melihat apa yang terjadi.
"Lalu, lalu bagaimana dengan Via, Sayang. Apa kau-"
"Ma, aku tidak ingin apapun lebih dari ini. Aku sudah sangat bahagia dengan keluargaku, juga perusahaanku," potong Vano dengan cepat membuat mama Camelia menganggukkan kepalanya.
Mahen yang mendengar ucapan Vano langsung terdiam, otaknya sedang berpikir dan berusaha untuk mencerna apa yang laki-laki itu katakan. "Tunggu, apa Vano tidak tau bagaimana perasaan Via?" Walau hatinya terasa sangat sesak, tetapi dia tetap memikirkan mereka.
Setelah memberitahu semuanya, Vano segera pergi ke kamar untuk bersiap karena besok dia akan pergi tepat pukul 9 pagi.
Mahen yang juga sudah berada di kamar terlihat sedang mondar-mandir memikirkan apa yang Vano katakan tadi. Hati kecilnya menyuruh dia untuk menemui Vano, tetapi pikirannya menolak dan membiarkan laki-laki itu.
"Duhai malam, sampaikanlah salamku padanya. Aku berharap bisa melihat wajah cantiknya sebelum pergi, tapi diwaktu yang sama aku juga tidak ingin melihatnya." Vano terus menatap langit dan merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
****
Keesokan harinya, Vano bangun lebih awal dan kembali menyiapkan barang-barangnya yang sebenarnya tidak banyak.
Tepat pukul 7 pagi, Vano keluar dari kamar dengan membawa kopernya yang berukuran kecil. Terlihat pembantu menyapanya saat dia masuk ke dapur, membuat mama Camelia menoleh ke belakang.
"Selamat pagi, Ma. Apa yang sedang mama lakukan?" Vano duduk di kursi yang ada di meja makan.
"Pagi Sayang. Mama sedang membuatkan sarapan untukmu, besok mama sudah tidak bisa lagi membuatkannya."
Vano tersenyum saat mendengarnya. "Mama bisa membuatkannya kapan saja."
__ADS_1
"Kau benar, Sayang. Tunggulah, sebentar lagi masakannya siap. Papa dan kakakmu juga belum turun."
Vano kembali menganggukkan kepalanya dan melihat ke arah ponsel, dia lalu menyuruh River untuk ke dapur karena laki-laki itu rupanya sudah sampai.
Tidak berselang lama, semua orang sudah berkumpul di dapur termasuk River dan juga Mahen. Mereka lalu menikmati sarapan bersama sambil berbincang Ria.
Setelah selesai, mereka semua mengantar Vano dan River ke bandara, dan saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat 15 menit.
Sesampainya di bandara, mereka semua segera masuk ke tempat itu dan duduk di ruang tunggu. Terlihat Vano celingukan ke sana kemari seperti sedang mencari seseorang membuat Vano heran.
"Ada apa, Kak? Kau mencari seseorang?" tanya Vano.
"Hah? E-enggak kok." Mahen mengibas-ngibaskan tangannya.
"Mama, Papa, dan juga Kakak sudah bisa pergi. Sebentar lagi aku akan berangkat," ucap Vano membuat mereka semua mengangguk.
"Tapi Vano, apa kau tidak mengatakannya pada Yara? Dia pasti sangat sedih jika tidak tahu kepergianmu." Mama Camelia baru ingat soal Yara.
"Mama tenang saja, nanti aku akan meneleponnya." Vano menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka saling memeluk dan mengucapkan kata-kata perpisahan dan semangat. Setelahnya Vano dan River segera berjalan ke arah administrasi untuk pemeriksaan.
Dari kejauhan, tampak seorang wanita sedang berlari masuk ke dalam bandara dengan menggendong putrinya.
"Vano!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.