Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 114. Bonus Chapter. (Sesuatu yang Tidak Pantas).


__ADS_3

Resepsi pernikahan Vano dan Via berjalan lancar dan juga meriah. Para tamu undangan terlihat ramai memadati tempat itu, dan mereka berdecak kagum saat melihat sepasang pengantin, walaupun masih ada bisik-bisik tetangga yang membahas tentang hubungan antara Via dan juga mantan suaminya.


Mahen sendiri duduk di sudut ruangan bersama dengan teman-teman masa sekolahnya. Mereka menguatkannya dan memberi semangat untuk menjalankan hidup yang lebih baik lagi, juga mengikhlaskan hubungan antara mantan istrinya dengan sang adik.


Walau mulut berkata ikhlas dan mencoba untuk tersenyum bersama yang lain, tetapi hati tetap tidak bisa berbohong.


Rasa sakit terus menggores hati Mahen saat melihat wanita yang dia cintai bersanding dengan adiknya sendiri. Namun, dia menekan semua perasaan itu dan ikut bahagia saat melihat kebahagiaan diwajah adik dan juga mantan istrinya.


Mahen lalu beranjak pergi dari tempat itu saat sudah merasa benar-benar sesak. Dia ingin menenangkan diri sejenak, agar bisa kembali menyapa tamu yang lainnya.


Dalam pesta itu, bukan hanya Mahen saja yang merasa terluka. Bahkan Riani beberapa kali mengusap air matanya yang berhasil keluar. Dia bukannya tidak bahagia dengan pernikahan Via, dia bahkan menjadi orang pertama yang mendukung hubungan sahabatnya itu dengan Vano.


Namun, rasa sakit yang dia rasakan dikarenakan kandasnya hubungan percintaan dengan mantan kekasihnya padahal mereka sudah sangat lama menjalin sebuah hubungan.


Tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Riani memilih untuk menyibukkan diri menyapa para tamu undangan. Apalagi saat teman-temannya dan Via datang, dialah yang paling heboh di tempat itu.


Riani juga membantu Via saat ingin mengambil sesuatu. Seperti minum, cemilan atau bahkan tisu untuk menghapus keringat pengantin itu.


"Rin!"


Riani yang akan pergi kembali dipanggil oleh Via, membuatnya berbalik dan kembali mendekati wanita itu.


"Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Kenapa kau membiarkan Mas Noah sendirian? Cepat bawa dia ke sini."


Riani mengernyitkan keningnya saat mendengar apa yang Via katakan. "Apa maksudmu, Vi?" Dia merasa tidak mengerti.


"Dasar, katanya kekasihmu tidak bisa datang. Lihat, sejak tadi dia duduk di sana." Via menunjuk ke arah seorang lelaki yang sedang duduk di sudut kiri membuat Riani langsung melihat ke arah tersebut.


Deg.


Benar, itu adalah Noah. Apa yang laki-laki itu lakukan di tempat ini? Riani tercengang saat melihat keberadaan sang mantan kekasih.


"Kok malah bengong, Rin? Cepat sana samperin, sejak tadi kau sibuk melayani para tamu sampai tidak sadar kalau mas Noah datang."


Via mendorong tubuh Riani untuk pergi sambil menggelengkan kepalanya. Untung saja dia melihat keberadaan Noah, jika tidak mungkin mereka nanti akan bertengkar.

__ADS_1


"Apa Riani dan kekasihnya baik-baik saja, Sayang?"


Via langsung memalingkan wajahnya ke arah Vano saat mendengar ucapan suaminya itu. Dia merasa heran sekaligus malu dengan panggilan yang laki-laki itu sematkan untuknya.


"Hem, apa maksudmu, Mas?" tanyanya dengan wajah bersemu merah.


"Sepertinya Riani benar-benar tidak tau jika kekasihnya datang ke sini, dan dari wajahnya, dia sangat tertekan. Apa kau yakin jika mereka baik-baik saja?"


Via langsung diam saat mendengar ucapan Vano. Sebenarnya dia juga merasa aneh karena Riani tidak pernah lagi menceritakan tentang Noah, bahkan wanita itu menghindar dan terkesan menjawab singkat jika dia sedang bertanya.


"Aku juga tidak tau, Mas. Sudah beberapa kali aku bertanya, tapi Riani selalu menjawab jika mereka baik-baik saja."


Via lalu melihat ke arah Riani dengan sendu. Wanita itu sudah sangat baik dan banyak membantu, juga selalu mendengarkan segala keluh kesah yang dia rasakan. Lalu, bagaimana dengannya? Kenapa dia tidak perhatian dengan sahabatnya sendiri?


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi." Vano melingkarkan tangannya di bahu Via membuat wanita itu melihat ke arahnya.


"Aku benar-benar sahabat yang buruk, Mas. Padahal Riani sudah sangat baik sekali padaku,"


"Tidak seperti itu, Sayang. Kita do'akan semoga semuanya baik-baik saja, dan besok kau bisa bertanya lagi padanya."


Via menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali duduk tenang sambil memasang senyuman untuk para tamu yang ingin mengucapkan selamat secara langsung padanya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Riani dengan tajam.


Noah semakin tersenyum lebar. "Tentu saja untuk mengucapkan selamat atas pernikahan sahabatmu, Sayang."


Riani mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Baiklah, terserah kau saja." Dia lalu berbalik dan hendak pergi dari tempat itu.


Dengan cepat Noah mencekal tangan Riani membuat langkah wanita itu terhenti. "Sebentar, Rin. Ada yang ingin-"


"Lepaskan tanganku!"


Riani langsung menghempaskan tangan Noah membuat cekalan laki-laki itu terlepas. Beberapa orang yang ads disekitar mereka langsung memperhatikan apa yang terjadi, dan membuat Riani merasa kesal.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Riani,"


"Maaf, aku tidak ingin bicara apapun lagi denganmu," tolak Riani mentah-mentah.

__ADS_1


Noah terdiam sambil menatap wanita itu dengan tajam. "Kalau kau tidak mau, maka aku akan memaksa dan membuat keributan di sini."


"Kau mengancamku?" Riani menatap dengan tidak percaya.


"Ya. Aku ingin lihat bagaimana reaksi sahabatmu jika kita membuat keributan, dia pasti tidak tau tentang masalah kita, 'kan?"


Riani mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tidak disangka dia akan sangat membenci laki-laki itu saat ini. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu membuat Noah tersenyum senang.


Akhirnya mereka keluar dari aula pesta dan berdiri di balkon yang ada di samping tempat itu.


"Kau mau apa lagi, Noah?" tanya Riani dengan tajam.


"Aku mau kembali denganmu, Riani,"


"Apa?" pekik Riani dengan tidak percaya, suaranya itu membuat seorang lelaki yang ada di samping mereka langsung menoleh.


"Aku sudah minta maaf padamu, Rin. Dan aku juga tidak melakukan sesuatu diluar batas dengan wanita itu, aku hanya-"


"Apa kau hanya ingin mengatakan hal tidak masuk akal seperti ini?" potong Riani dengan cepat membuat Noah mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu apapun yang kau lakukan, jadi jangan ganggu aku lagi!" ucap Riani dengan penuh penekanan, dia lalu berbalik dan hendak pergi dari tempat itu.


Noah yang merasa emosi langsung menarik tangan Riani lalu memeluk tubuh wanita itu dengan erat. "Aku tidak akan melepaskanmu, Riani. Kau adalah milikku."


"Lepaskan aku!" Riani memberontak membuat Noah menutup mulut wanita itu dengan mulutnya dan langsung melummat bibir wanita itu.


Riani terus memberontak walau tenaga Noah benar-benar terasa meremukkan tulang-tulangnya.


"Lepaskan dia!" Seorang lelaki tiba-tiba memegang bahu Noah dan menekannya dengan kuat.





Tbc.

__ADS_1


Maaf karena baru bisa kembali update 🙏 Mampir juga ke karya anaknya Via ya 🤭😍



__ADS_2