
Setelah kepergian Mahen, Vano dan papanya duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Terlihat jelas kemarahan dan kekesalan diwajah papa Adrian, membuat Vano merasa kasihan.
"Masalah terus saja berdatangan. Sebenarnya ada apa dengan kakakmu itu, Vano? Kenapa sekarang dia sangat berbeda dari yang dulu?" tanya papa Adrian dengan frustasi. Padahal sejak dulu Mahen adalah sosok yang sangat bisa diandalkan, bahkan dari dulu mereka tidak pernah mengkhawatirkan apapun tentang laki-laki itu.
"Tidak ada yang berbeda darinya, Pa. Hanya saja mungkin ada sesuatu hal yang mengacaukan pikiran kakak,"
"Ya, kau benar." Papa Adrian menganggukkan kepalanya. "Sejak dia berpisah dari Via, hidupnya memang sangat kacau. Dia tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaan, juga tidak bisa mengontrol emosi yang ada dalam dirinya. Apa kit buat saja dia kembali rukun dengan Via?"
Deg.
Sudut mata Vano berkedut saat mendengar apa yang papa Adrian katakan, dan tentu saja hatinya juga ikut berdenyut sakit.
Papa Adrian melirik ke arah Vano yang terdiam di tempatnya, dia lalu menghela napas kasar. "Lupakan dulu tentang itu. Jadi, bagaimana sekarang? Sebenarnya apa yang sudah terjadi, kenapa saham Mahen bisa berada di tangan orang lain?"
Akhirnya papa Adrian masuk ke dalam pembahasan yang seharusnya, membuat Vano kembali normal.
"Kita tunggu River sebentar, Pa," ucap Vano membuat papanya mengernyit heran.
"Kenapa kita harus menunggu manusia purba itu? Memangnya dia tau apa soal masalah ini, hah?" Papa Adrian berteriak marah. "Kita tidak ada waktu untuk ini, Vano. Cepat kerahkan semua orang untuk menyelidiki semuanya, panggil juga sekretaris Mahen ke sini."
Baru saja papa Adrian menutup mulutnya, terdengarlah ketukan dipintu beserta suara River yang meminta izin untuk masuk.
"Masuklah, River."
River langsung membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya dengan membawa beberapa kertas.
"Maaf sudah membuat Anda menunggu, Tuan." River menundukkan kepalanya pada Vano, tetapi tidak pada papa Adrian.
"Cih. Manusia purba ini selalu saja tidak hormat padaku. Awas saja dia." Papa Adrian sudah punya dendam kesumat pada River.
__ADS_1
"Tidak papa, duduklah."
River menganggukkan kepalanya dan berlalu duduk di sofa yang ada di samping kanan Mahen. "Saya sudah menemukan informasi tentang mereka semua, Tuan." Dia meletakkan kertas yang dibawa ke atas meja. "Saya juga sudah mengurus saham milik tuan Mahen."
Vano menganggukkan kepalanya lalu mengambil kertas itu dan memberikannya pada papa Adrian. "Ini identitas dari orang-orang yang datang membuat keributan tadi, Pa."
Papa Adrian langsung mengambil kertas itu dan membacanya, dia sedikit kaget karena ternyata River sudah bergerak lebih dulu.
"Siapa dia ini? Papa sama sekali tidak mengenalnya," ucap papa Adrian setelah membaca jati diri Indra. Dia sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki itu, apalagi Indra berasal dari tempat yang jauh.
"Dia salah satu buronan internasional, Tuan,"
"Apa?" Papa Adrian dan Vano terkejut dengan apa yang River katakan, bahkan kini Vano langsung merebut kertas yang ada dalam genggaman tangan papanya karena dia sendiri belum tau siapa mereka.
"Apa kau bercanda?" tanya papa Adrian yang tidak percaya.
River menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Saya sudah memeriksanya berulang kali supaya tidak salah mengenali orang, dan ternyata nama aslinya adalah Indra Geraldino."
"Kenapa papa malah bertanya tentang River, sih?" Vano menggelengkan kepalanya.
"Sekretarismu ini lebih membuat penasaran dari pada Indra-Indra itu, tau!" Papa Adrian jadi heboh sendiri.
"Indra Geraldino adalah salah satu bandar narkoba terbesar di banyak negara, dia bahkan memperjual belikan seorang budak,"
"Apa?" Lagi-lagi papa Adrian dan Vano terkejut dengan ucapan River, padahal sudah jelas identitas asli Indra ada di kertas yang mereka baca tadi.
"Saya kan sudah menuliskannya di kertas itu, Tuan. Apa Anda tidak membacanya?" River menjadi kesal sendiri.
"Cih, berani sekali kau mengatakan itu." Papa Adrian langsung sewot dan kembali merebut kertas yang ada ditangan Vano. "Tapi kenapa dia ingin menghancurkan Mahen? Juga perusahaanku?" Dia kembali bingung.
__ADS_1
"Mungkin karena perusahaan kita menjadi salah satu perusahaan yang sukses dan berkembang pesat, Pa. Itu sebabnya dia mengincar kita. Aku yakin kalau di sini pasti ada anak buahnya,"
"Anda benar, Tuan." River menganggukkan kepalanya. Tidak sia-sia dia terus menggali informasi sampai tidak tidur selama 2 hari.
"Tapi kenapa polisi tidak bisa mengendus keberadaannya, bukankah dia sangat berbahaya sekali?" tanya papa Adrian kemudian.
"Dia sangat ahli dalam hal penyamaran, Tuan. Itu sebabnya dia selalu bisa melarikan diri, dan pastinya dia punya berbagai macam usaha yang menyokong kekuasaannya."
Papa Adrian dan Vano menganguk-anggukkan kepala mereka. "Kita harus segera memberitahukan semua ini pada polisi, dan bekerja sama untuk menangkap penjahat itu."
Vano menyetujui apa yang papanya katakan, karena keberadaan Indra sungguh sangat meresahkan sekali. "Tapi sebelum itu, kita harus menyelesaikan masalah perusahaan dulu."
"Anda tenang saja, Tuan. Walaupun bukti kepemilikan saham itu asli, tapi semua belum sah karena Tuan Adrian belum menyerahkan saham itu secara langsung. Juga ada perjanjian di dalamnya sebagai saham untuk pewaris, jadi Indra tidak bisa memilikinya,"
"Kau benar. Aku masih punya kuasa atas saham itu, ternyata inilah maksud dari perjanjian yang ayahku dulu lakukan." Papa Adrian baru mengerti kenapa dulu almarhum ayahnya membuat suatu perjanjian atas saham pewaris, yaitu untuk menghindari hal seperti ini. Dia bahkan baru ingat sekarang.
"Baiklah. Kerja bagus, River." Vano menepuk bahu River dengan bangga. "Aku dan River akan mengurus semua masalah ini, Pa. Jadi Papa tidak perlu khawatir lagi."
Papa Adrian sangat lega saat mendengarnya. Jika urusan saham selesai, maka aset juga bisa diselamatkan.
"Tapi sebelum itu, ada satu orang bawahan Indra yang sangat dekat dengan tuan Mahen. Dan saya merasa kalau dialah otak dibalik semua masalah ini."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1