
Papa Adrian dan Vano melihat River dengan penuh tanda tanya. "Siapa orangnya, River? Apa dia bekerja di perusahaan kita juga?" Vano merasa sangat penasaran sekali, begitu juga dengan sang papa.
"Dia ... nona Clara, Tuan,"
"Ooh, namanya Clara." Papa Adrian menganggukkan kepalanya. Namun, tiba-tiba dia terkejut saat menyadari sesuatu. "Clara? Apa Clara yang menikah dengan Mahen?"
River menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Nona Clara adalah seorang budak yang selalu bersama dengan Indra."
Deg.
Papa Adrian dan Vano tercengang mendengar apa yang River katakan, bahkan ucapannya ini lebih mengagetkan dari pada identitas Indra tadi.
"A-apa kau tidak salah, River?" Vano tahu kalau Clara bukanlah wanita baik-baik, tetapi dia tidak menyangka kalau status wanita itu benar-benar membuatnya sangat terkejut.
"Tidak, Tuan. Saya sudah menghubungi anak buah saya yang ada di dekat markas budak mereka, dan memang benar kalau Clara dulunya bekerja sebagai pemuas para lelaki di sana."
Tubuh papa Adrian langsung lemas saat mendengarnya. "Ba-bagaimana mungkin, Mahen, Mahen mendapatkan-" Dia bahkan tidak sanggup untuk menyebuatkan identitas wanita itu.
Vano terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apakah Mahen tahu tentang semua ini? Tidak, pasti kakaknya itu tidak tau tentang siapa Clara yang sebenarnya. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia harus memberitahukan semua ini pada Mahen?
"Ini benar-benar sangat mengejutkan untuk papa, Vano. Bagaimana jika mama dan omamu tau masalah ini?"
Vano semakin pusing saja saat mendengar ucapan sang papa, kepalanya terasa ingin pecah memikirkan segalanya.
"Masalah apa, Pa?"
Vano, papa Adrian dan juga River terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang. "Ma-mama?" Mereka bertiga benar-benar terkejut melihat mama Camelia dan juga oma Erina sudah berada di dalam ruangan itu.
Sangking tegangnya suasana, mereka sampai tidak sadar dengan kedatangan dua wanita beda generasi itu. Bahkan River yang biasanya sangat sensitif, juga ikut kaget karena tidak menyadari keberadaan para wanita itu.
"Sa-sayang, Ibu? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya papa Adrian dengan gugup sambil beranjak berdiri dari kursi.
"Aku dan Ibu baru saja mengunjungi Yara, terus kami mampir ke sini sekalian ingin melihat rapat. Apa rapatnya sudah selesai?"
__ADS_1
Glek.
Vano dan papa Adrian menelan salive mereka dengan kasar saat mendengar pertanyaan dari mama Camelia. "Ra-rapatnya sudah selesai."
"Apa ada masalah?" Oma Erina langsung peka dengan apa yang terjadi. Dia lalu mengambil kertas yang ada di atas meja membuat ketiga lelaki itu langsung panik.
"I-itu milikku, Oma!" Vano langsung menarik kertas yang sudah dipegang oleh oma Erina membuat wanita tua itu menjadi bingung, begitu juga dengan mama Camelia.
"Ada apa dengan kalian, kenapa tegang sekali?" tanya mama Camelia.
"Duduk kalian semua!" perintah oma Erina sambil duduk di sofa yang ada di hadapan papa Adrian.
Papa Adrian dan Vano terpaksa duduk kembali, sementara River tetap berdiri di tempat itu.
"Ada masalah apa?" Oma Erina kembali bertanya membuat anak dan cucunya itu menjadi gelisah tidak menentu.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya-"
Papa Adrian langsung menggelengkan kepalanya, lalu melirik ke arah Vano seolah bertanya apa yang harus di lakukan saat ini.
"Sebenarnya ada apa ini? Cepat katakan semuanya pada kami!" desak mama Camelia.
Akhirnya Vano terpaksa menceritakan tentang masalah apa yang saat ini sedang terjadi, juga mengenai identitas Clara yang sesungguhnya.
"Apa?" Mama Camelia sangat syok sekali saat mendengar penjelasan dari Vano. "Ka-kau bilang apa, Vano?" Dia tidak percaya saat mendengar siapa Clara yang sebenarnya.
Berbeda jauh dengan mama Camelia, oma Erina terlihat diam dan tidak bereaksi apa-apa membuat anak dan cucunya merasa heran.
"Jadi, kalian juga sudah tau siapa wanita itu yang sebenarnya?"
Semua orang menatap oma Erina dengan bingung. "Apa, apa Oma sudah tau siapa wanita itu?"
Oma Erina menganggukkan kepalanya. "Oma sudah tau. Oma sengaja menyuruh seseorang untuk mencaritahu tentang dia, dan hasilnya yah seperti yang kalian dapatkan tadi."
__ADS_1
Mereka tidak habis pikir kalau selama ini oma Erina ternyata sudah mengetahui semuanya, sementara mereka baru saja tahu hari ini.
Mama Camelia hanya diam di tempatnya karena masih sangat terkejut. Matanya bahkan berkaca-kaca dengan tangan gemetaran.
Vano segera menggenggam kedua tangan sang mama membuat tangisan wanita paruh baya itu pecah. "Jangan menangis, Ma."
Mama Camelia menangis sesenggukan karena merasa benar-benar sedih. Bagaimana mungkin Mahen bisa menikah dengan wanita seperti itu?
Memang setiap orang tidak boleh menghina ataupun merendahkan harkat dan martabat orang lain, apapun pekerjaan mereka. Namun, jika sampai seperti itu, siapapun pasti juga akan sangat terkejut dan tidak bisa menerimanya.
"Apa Mahen sudah tahu tentang hal ini?"
Papa Adrian menggelengkan kepalanya. "Entahlah, Bu. Kami tidak tau apakah Mahen sudah tau atau belum, tapi sepertinya dia belum tau."
"Ya, ibu rasa juga seperti itu. Lalu, apa yang akan kalian lakukan sekarang?"
Papa Adrian lalu mengatakan bahwa Vano dan juga River akan menyelesaikan semuanya, termasuk bekerja sama dengan polisi juga. "Sebelum Indra ditangkap, jangan ada satu orang pun yang mengatakan tentang Clara pada Mahen. Jika tidak, pasti Indra akan langsung tahu dan melarikan diri."
Setelah mamanya merasa tenang, Vano segera pamit untuk mengurus semua masalah ini. Dia beranjak pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh River.
"Kasihan sekali putraku, kenapa dia harus mengalami semua ini?" Mama Camelia merasa sangat terpukul dengan apa yang sedang terjadi pada Mahen.
"Ternyata karma itu benar-benar nyata, Sayang. Aku merasa inilah balasan atas apa yang sudah Mahen lakukan. Baik pada Via, Yara dan juga Vano."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1