
"Apa yang dia lakukan di sana?"
Vano langsung meminggirkan mobil itu membuat Via dan anak buah Mahen melihat ke arahnya, dengan cepat dia menyambar payung dan beranjak keluar dari sana.
"Va-Vano?" Via tersenyum lebar saat melihat keberadaan adik iparnya itu, kini dia tidak khawatir lagi dengan keadaan Yara.
Vano melihat Via dan anak buah Mahen secara bergantian, lalu pandangannya terhenti di mobil wanita itu yang sepertinya sedang rusak.
"Syukurlah kau lewat sini, Vano," ucap Via membuat laki-laki itu melihat ke arahnya.
"Mobilmu rusak?"
Via langsung mengangguk. "Iya. Udah dari sore tadi, padahal rencana mau ke rumah mama." Dia menghela napas frustasi.
"Lalu apa gunanya laki-laki ini?" Vano melirik tajam ke arah anak buah Mahen.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya kurang mengerti tentang mobil." Laki-laki itu menundukkan kepalanya, dia tau kalau Vano adalah adik dari majikannya.
"Hah, sudahlah. Lebih baik masuk ke mobilku sekarang, biar montir saja yang menjemput mobil ini."
Via langsung menganggukkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam mobil untuk menggendong Yara. "Oh iya, aku tidak bisa menggendongnya." Tidak mungkin dia membuat Yara basah, lalu memutuskan untuk kembali menemui Vano yang rupanya sudah menunggu di dalam mobil.
Via membuka pintu yang ada di samping kemudi. "Vano, bisakah kau menggendong Yara? Aku, aku sudah basah."
Vano melirik ke arah Via dengan tajam, dia lalu keluar dari mobil tanpa menanggapi ucapan wanita itu.
Via yang awalnya mengira kalau Vano tidak mau, berubah jadi senang saat laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya. Dia lalu mengikuti Vano dan memegangi payung laki-laki itu, agar tubuh Vano dan Yara tidak terkena hujan.
Bruk.
Kaki Vano tergelincir karena air hujan membuat tubuhnya dan Via bertabrakan, dengan cepat dia melingkarkan tangan di pinggang wanita itu agar tidak terjatuh menghantam tanah.
Refleks tangan Via langsung mencengkram erat lengan Vano membuat posisi mereka sangat dekat, dengan tangan Vano yang masing-masing menggendong Yara dan menahan tubuh Via.
__ADS_1
Deg. Jantung Via berdetak cepat saat bersitatap mata dengan Vano, wajah mereka berdua sangat dekat sampai helaan napas laki-laki itu terasa menyapu wajahnya.
Vano juga seakan terhipnotis dengan apa yang terjadi. Matanya menatap tajam ke arah mata Via, bahkan kini dia sedang menelusuri garis wajah wanita itu.
"Mama."
Via tersadar saat mendengar suara Yara dan langsung melepaskan cengkraman tangannya, begitu juga dengan Vano yang langsung melanjutkan langkahnya dengan penuh hati-hati.
Wajah Via tiba-tiba saja memerah karena apa yang baru saja terjadi, dia berusaha menenangkan debaran jantungnya yang masih saja berdebar kencang. "Tenangkan diriku ya Allah, tenangkan diriku!" Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
Tin!
Tubuhnya terlonjak kaget saat mendengar suara klakson dari mobil Vano, dengan cepat dia mendekati mobil itu dan langsung duduk di samping Vano. "Ma-maaf kalau menunggu-" ucapan Via terhenti saat Vano memberikan sebuah pakaian padanya.
"Buka jaket itu dan pakailah ini, kau bisa sakit nanti."
Untuk beberapa saat Via terdiam sambil menatap Vano, otaknya sedang memproses apa yang baru saja laki-laki itu katakan.
Tidak berselang lama, mobil Vano sudah sampai di tempat tujuan. Dia segera keluar dan berpindah kekursi belakang untuk menggendong Yara, sementara Via kembali memegangi payung untuk mereka.
Mahen yang saat itu sedang berdiri di balik jendela menatap tajam ke arah parkiran mobil, keningnya berkerut dalam saat melihat istri dan juga adiknya baru keluar dari mobil yang sama.
"Apa yang terjadi?" Dia merasa heran kenapa Vano bisa bersama dengan Via. Tanpa menunggu apapun lagi, langsung saja dia melangkahkan kakinya untuk menemui mereka.
"Assalamu'alaikum."
Mama Camelia dan papa Adrian yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga langsung melihat ke arah sumber suara. "Wa'alaikum salam." Mereka mengernyitkan kening saat melihat kedatangan Via, Vano, dan juga Yara.
"Loh, kenapa kau basah kayak gitu, Vi?" Mama Camelia mendekati Via yang sedang menggigil menahan dingin.
"Ta-tadi kena hujan, Ma. Kalau gitu aku mau ke kamar dulu Ma, Pa." Via langsung menaiki tangaa saat melihat anggukan kepala mertuanya, dia harus segera mandi agar tidak terkena demam.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat Mahen berdiri di ujung tangga. Laki-laki itu sedang bersedekap dada sambil menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Awas Mas, aku mau ke kamar,"
"Apa yang terjadi? Kenapa kau pulang dengan Vano?" tanya Mahen dengan tajam, dia bahkan tidak memperhatikan tubuh istrinya yang sedang basah kuyup.
Via menghela napas kasar. "Aku mau mandi dulu, Mas. Nanti aku cerita."
"Apa susahnya sih, kalau cerita sekarang?"
Via menatap Mahen dengan tidak percaya, bisa-bisanya laki-laki itu memaksanya dalam keadaan seperti ini. "Mas tanya aja sama anak buah Mas itu, dia tau semuanya."
"Apa?" Mahen terkejut dengan apa yang Via ucapkan, sementara wanita itu sudah berlalu pergi ke kamar.
"Tunggu, apa dia tau kalau aku menyuruh seseorang untuk memgikutinya?" Mahen langsung mengambil ponsel untuk menelepon anak buahnya itu, tetapi nomornya malah tidak aktif.
"Cih, aku harus bertanya langsung padanya!" Dia lalu berbalik dan menyusul Via ke dalam kamar.
Sementara itu, mama Camelia dan papa Adrian sedang menanyai Vano tentang apa yang terjadi dengan mereka.
"Aku gak sengaja liat dia di pinggir jalan karena mobilnya mogok, " itulah penjelasan dari Vano.
Kedua orangtua itu menganggukkan kepala mereka. "Untung saja kau lewat dari jalan itu, kalau enggak kasihan Via sama Yara."
Vano menganggukkan kepala lalu berlalu pergi ke kamar. Gara-gara pertanyaan kedua orangtuanya itu, dia jadi kembali mengingat sesuatu yang terjadi antara dia dan Via tadi.
"Cih, bisa-bisanya."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1