Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 92. Jiwa yang Terguncang.


__ADS_3

Via tersentak kaget saat baru menyadari apa yang Vano tanyakan. "Ka-kau, kau bilang apa?"


Vano tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Lupakan saja." Dia lalu melihat ke luar jendela dengan tetap tersenyum.


Via terdiam mendengar apa yang Vano katakan. Jantungnya berdegup kencang dengan wajah yang entah kenapa tiba-tiba berubah panas.


"Dia tadi benar-benar bertanya apakah aku menyukainya atau tidak, 'kan? Atau aku yang salah dengar?" Via melirik ke arah Vano yang masih memalingkan wajah. Dia lalu beralih melihat ke luar jendela juga sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Sementara itu, Mahen dan juga Clara saat ini sudah sampai di rumah sakit. Para Dokter dan juga perawat segera membawa Clara untuk diperiksa, apalagi pendarahan yang terjadi sangat besar.


Mahen menghempaskan tubuhnya ke atas kursi, dia lalu mengusap wajahnya dengan helaan napas kasar.


"Aku mohon perlindunganmu, ya Allah. Tolong lindungi anakku." Mahen memanjatkan do'a agar kondisi anaknya baik-baik saja.


Tidak berselang lama, sampailah papa Adrian dan juga mama Camelia di rumah sakit. Mereka langsung bertanya di mana Clara berada, dan begitu dijawab. Mereka segera bergegas untuk menemuinya.


"Mahen!"


Mahen menoleh ke arah samping saat mendengar panggilan seseorang, sontak dia beranjak berdiri karena kedatangan kedua orang tuanya.


"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya mama Camelia.


Mahen mendessah frustasi sambil menggelengkan kepalanya. "Dokter masih melakukan pemeriksaan, aku harap anakku baik-baik saja."


Mama Camelia menepuk bahu sang putra. "Si kecil pasti baik-baik saja, Mahen. Kau tidak perlu khawatir."


Mahen hanya menganggukkan kepalanya saja dan kembali duduk di tempat semula, sementara papa Adrian hanya diam dengan tatapan yang sulit di artikan membuat mama Camelia menatap bingung.


"Ada apa, Sayang? Apa kau sedang memikirkan perusahaan?" tanya mama Camelia sambil mengusap lengan sang suami yang saat ini sedang duduk di sampingnya.


Papa Adrian menggelengkan kepalanya. "Pihak kepolisian sudah mengurus semuanya, dan kerusakan perusahaan juga sudah ditangani oleh rekan bisnis kita."

__ADS_1


"Lalu, sedang memikirkan apa?" tanya mama Camelia kembali.


Papa Adrian mendessah frustasi. "Clara adalah otak dibalik semua masalah ini, tidak mungkin aku tidak memikirkannya."


Deg.


Mama Camelia dan juga Mahen langsung menatap papa Adrian dengan penuh tajam. "Apa, apa maksudnya?" Mahen merasa bingung dan tidak mengerti.


Papa Adrian langsung menceritakan hubungan Indra dan Clara yang memang harus Mahen ketahui, juga semua hal yang sudah dia dan Vano ketahui tentang wanita itu.


"A-apa?" Mahen terlonjak kaget saat mendengar cerita papanya. "Apa Papa tidak salah?" Mahen menatap dengan tajam. Dia bahkan beranjak bangun dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan sang papa.


Papa Adrian menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mahen. River sudah mencari tahu semuanya, bahkan anak buah laki-laki itu langsung datang ke tempat perbudakan itu untuk mencari tahu kebenarannya."


Tubuh Mahen langsung terhuyung ke belakang saat mendengar apa yang papanya katakan. "Bu-budak? Dia, dia seorang budak?" Ucapan papa Adrian benar-benar mengguncang jiwanya.


Mama Camelia sendiri hanya bisa diam karena sudah tahu tentang siapa Clara yang sebenarnya, bahkan jika ditanya dia sangat tidak ingin lagi bertemu dengan wanita itu. Namun, harus bagaimana lagi? Saat ini wanita itu masih berstatus istri Mahen, juga sedang mengandung cucunya.


Bruk.


"Ya Allah, Mahen!" Mama Camelia memekik kaget saat melihat Mahen terduduk di atas lantai, begitu juga dengan papa Adrian yang langsung menghampirinya.


"Ayo, Nak! Jangan seperti ini." Papa Adrian mencoba untuk mengangkat tubuh Mahen, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak bergeming.


"Ini, ini tidak mungkin. Bagaimana, bagaimana bisa mereka-" Mahen sampai tidak bisa berkata apa-apa dengan kebenaran yang baru saja dia ketahui.


"Tenangkan dirimu, Mahen." Mama Camelia mengusap bahu sang putra dengan mata berkaca-kaca, dia tahu kalau saat ini Mahen pasti benar-benar sangat terkejut.


"I-ini, ini tidak benar kan, Ma?" Mahen menatap mamanya dengan sendu, bahkan air mata tampak menetes dari sudut matanya.


Mama Camelia langsung memeluk tubuh Mahen dengan erat. "Sabar, Sayang. Semua ini cobaan dari yang maha kuasa."

__ADS_1


Mahen hanya diam dengan tatapan kosong. Sungguh semua ini benar-benar sangat mengejutkannya, dan membuat dadanya terasa sesak.


"Ini, ini tidak benar. Bagaimana mungkin Clara melakukan ini padaku? Dan dia, dia seorang budak? Tidak, ini tidak mungkin!" Mahen memejamkan kedua matanya dengan dada yang terasa semakin sesak hingga membuat tubuhnya terasa sangat lemas.


Vano dan Via yang saat itu baru sampai di rumah sakit terkejut melihat Mahen dan kedua orang tuanya duduk di atas lantai, sontak mereka berdua segera berlari untuk menghampiri mereka.


"Mama, Papa. Ada apa ini?"


Mama Camelia dan papa Adrian langsung beralih melihat ke arah Vano dan juga Via, sementara Mahen hanya diam dengan memandang lurus ke depan.


"Kakakmu, Vano. Kakakmu," lirih mama Camelia dengan bibir bergetar.


Vano segera menghampiri sang kakak dan menjongkokkan tubuhnya tepat di samping Mahen. "Ada apa, Kak?" Dia menepuk pipi Mahen agar laki-laki itu melihat ke arahnya.


Mahen mengerjapkan kedua matanya dan melihat ke arah Vano. "I-ini tidak benar kan, Vano. Apa, apa yang papa katakan tidak benarkan?" Ucapannya tersengal-sengal dengan tubuh yang sudah bergetar.


Vano lalu beralih melihat ke arah sang papa dan mendapat anggukan dari papa Adrian, kini dia sudah tahu kalau Mahen jadi seperti ini pasti karena kebenaran tentang Clara.


"Tenanglah, Kak. Ayo, kita bicarakan ini baik-baik!" Vano segera mengangkat tubuh Mahen dan membawanya duduk di samping sang mama.


"Katakan, Vano! Katakan kalau ini tidak benar." Mahen mencengkram kemeja Vano dan mendorong-dorongnya.


Vano menghela napas kasar dan memandang wajah Mahen dengan sedih. "Semua itu benar, Kak. Apa yang papa katakan benar."


"Tidak, itu tidak mungkin!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2