Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 93. Keadaan Kritis.


__ADS_3

"Tidak, itu tidak mungkin!" Mahen menutup kedua telinganya karena tidak mau lagi mendengar apa yang mereka semua katakan.


"Kau harus menerima semua kebenaran tentang istrimu itu, Mahen. Karena memang itulah yang dia lakukan,"


"Tapi kenapa, Pa? Kenapa dia melakukan semua ini padaku, dan, dan kenapa dia berbohong tentang, tentang-" Mahen bahkan tidak sanggup menyebutkan identitas asli Clara.


"Semua ini sudah takdir Allah, Mahen. Dan pertanyaanmu itu harus kau tanyakan langsung pada istrimu," ucap mama Camelia kemudian.


Mahen mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh dia tidak menyangka kalau selama ini Clara membohonginya.


Via yang masih berada di tempat itu turut sedih melihat keadaan Mahen. Dia yakin jika laki-laki itu pasti sangat terpukul dengan kebenaran tentang Clara, tetapi memang itulah yang terjadi.


Tiba-tiba semua orang berpaling ke arah ruang UGD saat seorang Dokter keluar dari ruangan itu, sontak mereka semua beranjak dari kursi dan mendekatinya.


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya papa Adrian.


Dokter itu menghela napas kasar. "Kita harus segera melakukan operasi pada pasien, Tuan. Benturan yang terjadi ditubuh pasien membuat rahimnya mengalami pendarahan yang cukup besar, itu sebabnya kita harus segera mengeluarkan bayi yang ada dalam perut pasien sebelum terlambat."


"Lakukan, lakukan apa saja untuk menyelamatkan anakku," pinta Mahen membuat Dokter itu mengangguk.


"Baiklah. Kami akan segera memindahkan pasien ke ruang operasi." Dokter itu segera berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangan.


Papa Adrian memegangi tubuh Mahen yang sudah akan kembali jatuh ke lantai, kemudian dia membawa putranya itu untuk kembali ke kursi.


Mama Camelia yang baru sadar dengan keberadaan Via langsung menghampiri wanita itu. "Kenapa duduk di situ, Via? Ayo, duduk di sebelah mama."


Via menganggukkan kepalanya dengan sedikit canggung, dia merasa jika tidak seharusnya bersama dengan mereka dalam situasi seperti ini.


"Via? Kau, kau di sini?" Mahen yang mendengar ucapan sang mama langsung menoleh ke arah mereka, dan tampaklah Via ada di tempat ini juga.


Via tersenyum ke arah Mahen. "Iya, Mas. Aku ke sini ingin melihat keadaan Clara."


Mahen menatap Via dengan nanar dan penuh penyesalan. Andai dulu dia tidak menyakiti wanita itu, pasti semua ini tidak akan terjadi.

__ADS_1


Papa Adrian mengusap bahu Mahen karena tahu apa yang saat ini ada dalam pikiran putranya itu, dia lalu melirik ke arah Vano yang sedang duduk tenang di samping sang istri.


"Ya Tuhan, tolong berikan kebahagiaan untuk anak-anakku." Papa Adrian hanya bisa berdo'a saja saat ini.


Mereka semua lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju ruang operasi di mana Clara berada.


***


Beberapa jam kemudian, ruang operasi itu terbuka membuat semua orang kembali menghampiri Dokter.


"Ba-bagaimana Dokter? Anak saya baik-baik saja, 'kan?" tanya Mahen dengan khawatir.


Dokter itu kembali menghela napas kasar membuat semua orang merasa khawatir. "Keadaan istri Anda baik-baik saja, Tuan. Tapi, keadaan putra Anda tidak baik."


Deg.


Semua orang tersentak kaget saat mendengarnya. "Apa, apa yang terjadi pada putraku, Dokter?" Mahen mencengkram kerah kemeja Dokter itu membuat semuanya menjadi panik.


"Maaf, Tuan. Saat ini Anak Anda dalam keadaan kritis karena mengalami gagal jantung, dan para Dokter masih berusaha untuk menyelamatkannya."


"A-apa?" Tubuh Mahen kembali terhuyung ke belakang membuat Vano dan papa Adrian sigap memeganginya.


Semua orang sangat terpukul saat mendengar bagaimana keadaan bayi itu yang baru saja terlahir ke dunia, terutama Mahen yang harus kembali terguncang dengan apa yang terjadi.


"Aku mohon selamatkan anakku, aku mohon." Mahen menangkupkan kedua tangannya di depan dada membuat semua orang menatap sendu, begitu juga dengan Dokter itu.


"Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangan.


Vano dan papa Adrian segera mendudukkan tubuh Mahen di atas kursi, kemudian mama Camelia duduk di samping sang putra dan kembali memeluk tubuh Mahen.


"Sabar, Sayang. Yang kuat ya, semua pasti akan baik-baik saja." Mama Camelia mengusap lengan Mahen walaupun dia sendiri merasa sangat sedih.


"Anakku, Ma. Anakku,"

__ADS_1


"Iya, Sayang. Mama mengerti. Kau harus banyak berdo'a agar si kecil baik-baik saja, dan yakinlah kalau Allah pasti akan memberikan kesembuhan dan kesehatan untuk anakmu."


Mahen terisak pilu dalam dekapan sang mama. Belum hilang keterkejutan dan rasa sakit akibat kebenaran Clara, kini dia harus kembali terguncang karena kondisi putranya yang baru saja selesai dioperasi.


Vano dan Via ikut bersedih dengan apa yang Mahen alami saat ini. Walaupun laki-laki itu sudah sangat menyakiti mereka terutama Via.


Vano lalu menghampiri Via yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Apa kau sudah makan siang?" tanyanya yang dibalas dengan gelengan kepala Via. "Aku akan keluar untuk membeli makanan, mama dan papa pasti juga belum makan."


Via lalu beranjak dari kursi. "Ayo, aku temani!"


"Tidak perlu, kau di sini saja bersama mereka. Dan ...," Vano menjeda ucapannya membuat Via menatap heran. "mungkin kau bisa sedikit menghibur kak Mahen, karena kami tidak bisa melakukannya."


Via cukup terkejut dengan apa yang Vano katakan, dan entah kenapa dia merasa ucapan laki-laki itu terdengar sangat getir sekali.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk menenangkan dan menghibur mas Mahen," ucap Via.


"Baguslah, kalau gitu aku pergi dulu." Vano menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk pergi.


"Aku akan menghiburnya sebagai teman, Vano. Tidak lebih."


Vano yang akan melangkahkan kaki terpaksa mengurungkannya saat mendengar ucapan Via, dia lalu kembali melihat ke arah wanita itu dengan tersenyum.


"Aku senang mendengarnya, Via."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2