Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 95. Hasil Pemeriksaan.


__ADS_3

Mahen segera menjalani pemeriksaan untuk melakukan tranfusi darah, dia berharap semoga setelah ini keadaan putranya membaik.


Clara yang sudah dipindahkan ke dalam ruang perawatan mulai sadar dan mengerjapkan kedua matanya, dia lalu memperhatikan ke sekeliling tempat dan melihat ada perawat yang sedang memegang botol infus.


"Su-suster."


Perawat itu mengalihkan pandangannya. "Anda sudah sadar, Nyonya?" Dia lalu membantu Clara yang terlihat akan bangun.


Clara lalu duduk dengan bersandar di sandaran ranjang, dia lalu mendesis karena rasa sakit disekitar perut. "Tu-tunggu, di mana, di mana anakku?" Dia lalu terkejut saat melihat perutnya sudah tidak lagi besar.


"Tenanglah, Nyonya. Dokter sudah melakukan operasi dan mengeluarkan anak Anda, sekarang dia masih di dalam ruang operasi," jelas perawat tersebut.


Clara bernapas lege saat mendengarnya. "La-lalu, di mana suamiku?"


"Suamimu masih bersama Dokter, Clara."


Clara langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu. "Ma-Mama?" Dia terkejut melihat mama mertuanya ada di ambang pintu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya mama Camelia tanpa basa basi."


"Aku baik-baik saja, Ma. Terima kasih sudah datang ke sini," ucap Clara dengan tersenyum senang. Namun, senyum itu langsung lenyap saat melihat Via juga masuk ke dalam ruangan.


"Aku senang melihatmu baik-baik saja, Clara. Dan selamat karena kamu sudah menjadi seorang ibu," ucap Via dengan tulus yang dijawab hanya dengan anggukan kepala Clara saja.


"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik, Clara." Mama Camelia segera berbalik dan keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Clara, membuat wanita itu langsung berdecak kesal.


"Apa kau butuh sesuatu, Clara?" tanya Via sebelum dia keluar mengikuti langkah mama camelia, karena dia sendiri harus segera pulang saat ini.


Clara tersenyum sinis. "Apa yang kau lakukan di sini, Via? Apa kau mau memanfaatkan keadaanku untuk kembali mendekati keluarga Mahen?"


Via langsung beristighfar saat mendengar tuduhan Clara. "Aku datang ke sini karena khawatir padamu dan juga bayimu, Clara. Bagaimana mungkin kau menuduhku seperti itu?"

__ADS_1


"Heh, Via Via. Apa kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu itu, hah?"


Via menghela napas kasar. "Terserah jika kau mau percaya atau tidak, Clara. Itu urusanmu, dan sekarang urusanku juga sudah selesai. Kalau gitu aku pamit pulang."


Via lalu tersenyum tipis dan berbalik untuk keluar dari ruangan itu.


"Aku sangat mencintai Mahen, Via. Jadi jangan dekati dia."


Via yang sudah membuka pintu ruangan itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk keluar, dia lalu berbalik dan menatap Clara dengan tajam. "Demi Tuhan, Clara. Tidak ada sedikit pun niat dalam hatiku untuk kembali pada suamimu."


"Benarkah?"


Via menganggukkan kepalanya, dan dia tidak sadar jika saat ini Vano sudah berdiri di belakangnya.


"Baguslah kalau seperti itu," ucap Clara lagi membuat Vano mengepalkan tangannya dengan erat. Ternyata dia mendengar apa yang Clara katakan tadi.


"Astaghfirullah." Via terlonjak kaget saat berbalik dan melihat Vano. "Va-Vano? Kau, kau mengagetkanku."


"Maaf, Via. Aku sengaja,"


Vano mengangguk lalu tersenyum penuh arti. "Aku akan mengantarmu pulang, jadi tunggulah sebentar." Vano lalu masuk ke dalam ruangan Clara dan menutup pintunya.


Clara yang melihat keberadaan Vano langsung membulatkan matanya. "Va-Vano?"


"Beraninya kau mengatakan hal seperti itu pada Via!" bentak Vano tiba-tiba dengan penuh penekanan membuat Clara tersentak.


"Ma-maaf, Vano. Aku, aku tidak bermaksud-"


"Setelah apa yang kau lakukan, kau masih saja berbuat buruk pada Via. Apa kau tidak tau, sudah sebesar apa aku menahan diri selama ini?" Vano menatap tajam membuat wanita itu terdiam dengan tubuh gemetar. "Jika sekali lagi kau menganggu atau mengucapkan kata kasar pada Via, maka jangan salahkan aku jika mengirimmu kembali ke tempat budak **** itu."


Deg.

__ADS_1


Clara tersentak kaget dengan apa yang Vano katakan, kemudian dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "A-aku mohon maafkan aku. Aku, aku tidak akan lagi melakukannya." Dia tahu kalau tidak bisa macam-macam dengan Vano.


Vano lalu keluar dari ruangan itu tanpa menanggapi ucapan Clara dan menutup pintunya dengan kasar. "Hah, ingin sekali aku menghancurkannya."


Vano lalu kembali pada kedua orang tuanya dan juga Mahen yang sudah selesai melakukan pemeriksaan. "Ma, Pa. Aku pergi sebentar," pamitnya kemudian.


Papa Adrian yang akan menjawab ucapan Vano kalah cepat dengan kedatangan Dokter, membuat mereka semua beranjak dari tempat duduk.


"Bagaimana, Dokter? Apa operasinya akan dilakukan sekarang?" tanya Mahen.


Dokter itu terdiam dan menatap Mahen dengan tajam, dia tidak tau harus bagaimana mengatakannya pada laki-laki itu tentang hasil pemeriksaan yang baru saja mereka lakukan.


"Ada apa, Dokter? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya papa Adrian yang menatap bingung.


"Kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Tuan. Dan sudah mendapatkan hasilnya." Dokter itu menunjukkan kertas yang sedang dia pegang. "Tapi, hasil pemeriksaan itu mengatakan bahwa, bahwa Anda bukan lah ayah kandung dari bayi itu."


"Apa?" Semua orang tersentak kaget dengan apa yang Dokter itu katakan, terutama Mahen.


"Kau, kau bilang apa?" tanya Vano dengan tajam, begitu juga dengan kedua orang tuanya sementara Mahen terdiam dengan tubuh kaku.


"Maaf, Tuan. Itulah hasil dari pemeriksaan kami, kami bahkan sampai mengujinya sebanyak 3 kali. Dan hasilnya tetaplah sama, bayi itu bukan anak kandung Tuan Mahen," ucap Dokter itu penuh sesal.


Semua orang hanya bisa menatap tidak percaya dengan apa yang Dokter itu katakan, sungguh mereka sangat syok dengan kabar berita ini.


"Tidak. Kalian salah, kalian pasti salah,"


"Mahen!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2