
Tubuh Via kembali menegang saat mendengar ucapan Mama Camelia. "Apa, apa maksud Mama? Kenapa Mama dan Papa menolak keinginanku?" Matanya sudah kembali basah sekarang.
"Kami mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, Via! Tapi kami tidak mau kau berpisah dengan Mahen hanya karna masalah ini!"
"Hanya? Hanya katanya?" Via benar-benar ingin sekali berteriak dengan sangat kencang, mereka tidak akan mengerti rasa sakit yang sedang dia rasakan sekarang.
"Mahen memang akan menikahi wanita itu secara siri, tapi hanya sampai anak yang berada dalam kandungannya lahir. Setelah itu dia akan menceraikannya, sehingga masalah ini bisa selesai tanpa adanya perpisahan antara kau dan Mahen!"
Sungguh Via merasa ingin mati saja sekarang, bagaimana mungkin kedua mertuanya tega melakukan ini padanya? "Kenapa, Ma? Kenapa Mama dan Papa melakukan ini padaku? Aku, aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi dengan semuanya!"
"Kau harus mengerti makna dari sebuah rumah tangga, Via! Kau tidak bisa langsung cerai begitu saja jika ada masalah, apa kau tidak pernah memikirkan semua itu?"
Via mengepalkan kedua tangannya dengan erat, bahkan kedua matanya sudah berkilat penuh kemarahan saat ini.
"Mama paham sekali dengan perasaanmu, tapi inilah yang terbaik untuk semuanya. Mama dan Papa tidak mau ada perceraian yang terjadi dalam keluarga ini, jadi mama harap kau bisa mengerti!"
Via menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak, Ma! Mama tidak paham bagaimana perasaanku, jika Mama paham maka Mama tidak akan melakukan hal seperti ini!"
Mama Camelia dan Papa Adrian terdiam, sebenarnya mereka juga sangat berat untuk mengambil keputusan ini. Namun, ada banyak sekali yang harus dipikirkan terutama nama baik keluarga mereka. Apa kata orang jika mereka tau kalau Mahen bercerai dengan istrinya karna menghamili wanita lain? Itu pasti akan menjadi trending topik dikalangan pembisnis.
"Aku sudah hancur saat Mas Mahen menduakan cintaku, aku juga hancur saat mengetahui bahwa wanita itu sedang mengandung anaknya. Dan sekarang, aku mohon jangan hancurkan hidupku sampai tidak bersisa lagi Ma, Pa! Aku mohon!" Via menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dia bahkan ingin sekali bersimpuh di kaki kedua mertuanya itu.
Mama Camelia dan suaminya hanya bisa diam mendengar ucapan Via, sungguh dada mereka terasa sangat sesak sekarang.
"Harga diriku sebagai seorang istri sudah terluka saat ada wanita lain yang berhasil merebut cinta suamiku, bahkan sampai memberikan keturunan padanya. Tapi jangan lagi menginjak-injak harga diriku, Ma, Pa! Aku masih bisa hidup tanpa cinta, tapi aku tidak bisa hidup tanpa harga diriku!"
Papa Adrian merasa tertampar mendengar kata-kata Via yang benar-benar menusuk jantungnya, dia sendiri tidak memikirkan bagaimana harga dirinya sebagai mertua dan hanya memikirkan reputasi keluarganya saja.
"Aku mohon Ma, Pa! Aku mohon izinkan aku bercerai dengan Mas Mahen, aku tidak bisa menanam luka dihatiku dengan menerima semua ini! Sungguh aku tidak sanggup, huhuhu!"
Via menangis dengan tersedu-sedu membuat Mama Camelia langsung menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat, wanita paruh baya itu ikut merasakan kesedihan yang sedang dia rasakan.
__ADS_1
"Aku berjanji tidak akan meminta apapun pada Mas Mahen, aku hanya meminta Yara saja. Aku berjanji Ma, Pa! Aku berjanji!" Via tetap memohon agar mereka mengizinkannya bercerai dengan Mahen, karna dia tidak bisa menerima kehadiran wanita lain walaupun hanya sementara.
Tanpa mereka semua sadari, sejak tadi ada seorang lelaki yang berdiri di ambang pintu ruangan itu. Keningnya berkerut sampai membuat kedua alisnya hampir menyatu saat menyaksikan apa yang terjadi.
Papa Adrian mengusap wajahnya dengan kasar, dia sedang berada diambang kebingungan saat ini. Dia tau kalau apa yang Mahen lakukan adalah salah, tetapi putranya itu kemarin malam juga bersimpuh dikakinya agar tidak membiarkan Via menceraikannya. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang?
Mama Camelia terus melihat ke arah suaminya seakan-akan sedang bertanya apa yang harus mereka lakukan, dia benar-benar merasa tidak tega dengan Via.
"Berhentilah menangis, Via! Kami minta maaf jika sudah membuatmu menderita!"
Via yang sedang tertunduk langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah Papa Adrian, tetapi matanya malah melihat tepat ke arah seorang laki-laki yang masih berdiri di ambang pintu.
"Va-Vano?"
Mama Camelia dan Papa Adrian langsung mengalihkan pandangan mereka saat mendengar ucapan Via, dan benar saja kalau putra bungsu mereka sedang berdiri di tempat itu.
"Vano? Kau sudah sampai?"
"Apa kau lapar? Mau mama siapkan makanan?"
Vano menggelengkan kepalanya. "Aku lelah, aku mau istirahat!" Dia lalu melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar.
"Hah!" Entah kenapa Via menahan napas saat melihat adik iparnya itu, dia memang jarang sekali bicara ataupun bertemu dengan Vano.
Untuk beberapa saat, suasana di tempat itu menjadi hening. Semua orang seperti sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing, sampai Mahen dan Yara masuk ke dalam ruangan itu.
"Mama!"
Semua orang terlonjak kaget mendengar teriakan Yara, terutama Via yang langsung memeluk tubuh putrinya itu.
"Yara dari mana, Sayang?"
__ADS_1
Cup, cup, cup! Via mengecupi seluruh wajah putrinya itu membuat Yara tertawa geli, sementara semua orang hanya diam melihat interaksi di antara mereka.
"Mama, Yala tadi abis jalan-jalan sama Papa. Mama tau gak kalau Yala jumpa angsa besar!" Yara merentangkan tangannya seolah-olah sedang menunjukkan sebesar apa angsa yang dia lihat membuat semua orang tergelak karnanya.
"benarkah? Wah, Mama juga ingin melihatnya!"
"Iya-iya, nanti kita pelgi sama Papa!" Yara menunjuk ke arah Mahen yang sudah duduk di samping Papa Adrian, tetapi Via tidak mau melihat ke arah laki-laki itu sama sekali.
"Baiklah, apa Yara sudah makan? Mau Mama suapin?"
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya sampai rambut yang sedang dikuncir kuda mengenai keningnya, dengan cepat tangan mungil itu menyingkarkan rambut yang menutupi matanya.
"Ya sudah, ayo! Ma, Pa, aku permisi ke dapur sebentar!"
Mama Camelia dan Papa Adrian menganggukkan kepala, lalu mereka memperhatikan Via dan Yara yang sedang berjalan ke arah dapur.
"Apa Papa dan Mama sudah bicara dengan Via?"
Papa Adrian dan istrinya kembali mengangguk dan melihat ke arah Mahen. "Sudah!"
"Hah, aku lega sekarang. Terima kasih, Pa, Ma!" Mahen merasa tenang karna Via pasti tidak akan minta cerai lagi darinya.
"benar, mulai besok kau harus menyiapkan perceraianmu dengan Via!" ucap Papa Adrian.
"Tentu sa- apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.