Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab.102. Lagi-lagi Om Pano.


__ADS_3

Seketika suasana berubah menjadi hening saat mendengar apa yang Yara ucapkan, sampai akhirnya Vano menggendong tubuh gadis kecil itu.


"Jadi kau mau main sama om, hem?" tanya Vano membuat Yara mengangguk dengan senyum cerah. "Tapi sayangnya om lagi sibuk, jadi enggak bisa main sama Yara."


Senyum yang ada diwajah Yara langsung lenyap saat mendengar ucapan Vano. "Ja-jadi, kapan Om Pano enggak sibuk?" Dia menatap Vano dengan mata berkaca-kaca membuat Vano tidak tega.


"Em ... masih lama enggak sibuknya. Bagaimana kalau Yara main sama papa aja?" tawarnya sambil menghadap ke arah Mahen yang menatap dengan sendu.


Yara terdiam untuk beberapa saat sambil menatap papanya, kemudian dia kembali melihat ke arah Vano. "Yala mau main sama papa. Tapi, kalau Om Pano udah enggak sibuk. Kita main ya."


Vano langsung menganggukkan kepalanya sambil mengecup pipi gembul Yara membuat gadis kecil itu terkekeh geli. Kemudian dia menurunkan tubuh Yara dari gendongan.


"Sini Sayang, ayo main sama papa!" Mahen memberikan tangannya pada Yara, tetapi gadis kecil itu tetap diam dan merasa asing dengan papanya sendiri.


Namun, Mahen tidak hilang akal. Dengan cepat dia menggendong tubuh Yara membuat putrinya itu terkejut. "Ayo kita jalan-jalan, papa mau ajak Yara ke taman bermain. Apa Yara suka?"


Yara langsung menganggukkan kepalanya. "Yala suka, Yala suka ke taman belmain sama mama dan juga Om Pano."


Mahen kembali merasa tertusuk mendengar ucapan Yara, tetapi dia sadar diri bahwa dia sendirilah yang telah menjauhkan gadis kecil itu darinya.


Semua orang yang ada di tempat itu menatap sendu, tentu saja mereka ikut sedih dengan apa yang terjadi.


Vano yang sudah berbalik dan hendak kembali ke kamar tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar suara Via.


"Apa kau sudah sarapan, Vano?"

__ADS_1


Vano lalu kembali berbalik dan menatap wanita itu dengan kening mengkerut. "Aku sudah sarapan."


Via tersenyum lalu memberikan sesuatu padanya. "Tadi pagi aku masak nasi goreng, lalu aku ingat denganmu. Kau kan suka dengan nasi goreng seafood."


Mama Camelia yang ikut berjalan keluar dengan Mahen masih bisa mendengar ucapan Via, dia lalu tersenyum tipis dan terus melangkahkan kakinya.


"Terima kasih." Vano mengambil makanan itu dengan senyum tipis. "Kalau gitu aku ke kamar dulu."


Via menganggukkan kepalanya membuat Vano berbalik dan berjalan cepat untuk naik ke lantai 2, Via sendiri lalu berjalan keluar untuk bersama dengan mama Camelia.


Setelah sampai di dalam kamar, Vano meletakkan makanan yang Via beri tadi ke atas meja. Dia lalu membuka tutupnya dan aroma dari nasi goreng itu langsung menyeruak ke seluruh penjuru kamar.


Vano menelan salivenya saat melihat nasi goreng itu, padahal dia sudah sarapan tetapi perutnya kembali keroncongan. Dengan cepat Vano memakan nasi goreng itu dengan lahap, dan rasanya benar-benar nikmat.


Pada saat yang sama, Mahen dan Yara sudah berada di dalam mobil menuju taman bermain dengan Via dan mama Camelia juga. Yara menolak untuk pergi berdua dengan Mahen, dan merengek agar Via juga ikut. Alhasil mereka semua ikut pergi bersamanya.


Tidak berselang lama, sampailah mereka ke tempat tujuan. Mereka segera turun dari mobil dan masuk ke taman bermain tersebut.


"Yala mau naik itu Om Pano!"


Deg.


Langkah Mahen langsung terhenti saat Yara memanggilnya dengan sebutan om Pano. "Yara, ini papa."


Yara lalu menutup mulutnya dengan tangan. "Ya-Yala, Yala lupa Papa." Dia merasa takut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Sayang. Terserah Yara mau panggil papa siapa, oke?" Mahen tidak ingin membuat Yara menangis karena saat ini mata putrinya itu sudah berkaca-kaca.


Via dan mama Camelia hanya bisa diam dengan apa yang Yara katakan, karena mereka tahu seberapa dekat Yara dengan Vano.


Dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Dialah Clara yang berhasil kabur dari rumah sakit. Dengan menaiki taksi, dia berniat untuk menemui Mahen di rumah orang tuanya. Namun, saat tiba di sana. Clara melihat Mahen dan yang lainnya bersiap pergi ke suatu tempat, dan segera mengikuti mereka.


"Kau tidak bisa membuangku dan anak kita begitu saja, Mahen." Clara meneteskan air mata sambil menatap mereka dengan tajam. "Dan kau, Via. Beraninya kau kembali bersama dengan Mahen!" Dia mengepalkan tangan penuh kebencian dan kemaharahan, lalu segera mengikuti mereka untuk masuk ke dalam tempat itu.


Sepanjang menaiki wahana permainan, Yara terus saja memanggil Mahen dengan sebutan om Pano. Terkadang dia menyebutkan apa-apa saja yang selalu dia lakukan bersama dengan Vano, membuat Mahen benar-benar tertampar.


"Maafkan Yara, Mas. Dia, dia tidak-"


"Tidak apa-apa, Via. Aku mengerti. Ini semua juga karena kesalahanku. Tolong jaga dia sebentar ya, aku ingin ke toilet." Mahen beranjak dari duduknya untuk ke toilet, sementara Via menatap laki-laki itu dengan sendu.


Begitu tiba di toilet, Mahen yang akan masuk ke dalam langsung ditarik oleh seseorang membuatnya tersentak kaget.


"Ka-kau?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2