
Mahen terkejut saat melihat Clara sedang menarik tangannya, dengan cepat dia menghempaskan tangan wanita itu sampai pegangannya terlepas.
"Apa yang kau lakukan, Clara?" tanyanya dengan tajam.
"Mahen, aku, aku sangat merindukanmu." Clara yang akan memeluk tubuh Mahen langsung ditepis oleh laki-laki itu.
"Jangan menyentuhku, dan menjauhlah dari hidupku!" ucap Mahen dengan penuh penekanan.
"Aku mohon, Mahen. Jangan lakukan ini padaku, aku sangat mencintaimu,"
"Hentikan, Clara!" bentak Mahen membuat tubuh Clara tersentak kaget. "Kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan mengganggu hidupku!"
Clara menggelengkan kepalanya dan kembali mencekal tangan Mahen yang akan pergi daru tempat itu. "Tidak, kau tidak bisa melakukan ini padaku, Mahen. Aku adalah istrimu, aku istrimu, Mahen!"
"Cukup!"
Suara teriakan Mahen menggema di tempat itu membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka langsung memperhatikan.
"Berhenti menggangguku atau aku akan melaporkanmu pada polisi!"
"Tidak, Mahen. Aku mohon jangan tinggalkan aku, pikirkan anak kita."
Mahen semakin emosi saat Clara mengungkit tentang anak yang ternyata bukan darah dagingnya.
"Dia bukan anakku, dia adalah anak dari laki-laki lain yang bersamamu."
Clara menangis dengan tersedu-sedu membuat orang-orang semakin berkumpul di tempat itu, bahkan Via dan mama Camelia yang berada tidak jauh dari sana menatap heran.
Melihat banyaknya orang yang berkumpul, Clara harus menarik simpati mereka.
"Apa maksudmu, Suamiku? Setelah aku melahirkan anak untukmu, kau malah tidak mengakuinya?" Clara semakin terisak membuat orang-orang mulai berbisik-bisik.
"Kau-"
"Kau bilang kau mencintaiku, kau akan selalu bersamaku. Tapi apa ini, kau malah tergoda dengan mantan istrimu dan akan kembali padanya, meninggalkanku dan anak kita." Clara terus mengoceh membuat orang-orang mulai ikut campur dan membelanya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini!" Tiba-tiba datanglah mama Camelia dan juga Via ke tempat itu membuat ucapan orang-orang langsung terhenti.
Clara menatap kedatangan mereka dengan tajam, seolah ingin menembakkan laser dari kedua matanya.
"Clara? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya mama Camelia dengan tajam.
"Oh Mama mertuaku, tolong jangan buang aku dan juga anakku. Aku tahu kalau aku orang miskin dan tidak sebanding dengan kalian."
Mama Camelia mengernyitkan keningnya. "Apa-apaan kau ini?"
"Lihat, tega sekali mereka menyiksa wanita malang ini,"
"Iya benar. Mentang-mentang orang kaya, seenaknya saja membuang istri dan anaknya,"
Orang-orang mulai kembali beraksi membuat Via mengeluarkan tanduknya, apalagi saat ini mereka menghina keluarga mama Camelia.
"Tenanglah, kalian semua sudah salah paham." Via angkat bicara membuat Clara memandang sinis.
"Diam kau. Kau senangkan, karena bisa merebut suamiku, hah?" bentak Clara membuat Via tergelak.
"Sebenarnya siapa yang merebut siapa di sini?" Via menggelengkan kepalanya sementara Clara mengepalkan kedua tangan.
"Apa?" Semua orang langsung kaget, begitu juga dengan Clara yang tidak menyangka kalau Via mau membuka semua itu dihadapan banyak orang.
"Apa yang dia katakan itu tidak benar. Keluarga mantan suamiku sudah menerimanya dengan baik, tetapi dia masih saja membuat kesalahan fatal yang menyebabkan suaminya terpaksa menceraikannya,"
"Tidak, itu tidak-"
"Cukup, Clara! Sekali lagi kau bicara, maka aku akan memasukkanmu ke dalam penjara," ancam Mahen membuat Clara langsung diam.
Orang-orang lalu beralih menyerang Clara membuat wanita itu berteriak histeris, sementara Via dan yang lainnya bergegas menjauh dari tempat itu.
"Mama." Yara menggenggam tangan mamanya dengan erat, dia takut karena melihat apa yang terjadi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Maaf karena sudah membuatmu takut." Via mengusap punggung Yara untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Mahen, urus wanita itu sebelum dia semakin membuat keributan. Apa kau tidak kasihan dengan Yara?" ucap mama Camelia yang sudah sangat geram sekali.
Mahen menganggukkan kepalanya dan segera berbalik untuk membereskan Clara.
"Biar aku saja, Kak."
Semua orang terkejut saat melihat keberadaan Vano. "Vano, kau ada di sini?" Mahen menatapnya dengan heran.
"Aku dapat kabar dari rumah sakit kalau Clara melarikan diri, itu sebabnya aku segera ke sini." Vano lalu memberi perintah pada River untuk membereskan wanita itu.
Clara meraung-raung saat dibawa paksa oleh beberapa orang, sementara River mengamankan orang-orang yang akan merekam kejadian itu.
"Di-dia mau di bawa ke mana?" tanya Via.
"Ke mana lagi? Tentu saja rumah sakit jiwa,"
"Apa?" Via dan mama Camelia terlonjak kaget.
"Kalau Kakak keberatan, katakan saja padaku," ucap Vano pada Mahen.
Mahen menggelengkan kepalanya. "Tidak, Vano. Terima kasih, terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan, Vano." Mahen menundukkan kepalanya dengan sendu.
Vano tersenyum lalu merangkul bahu sang kakak. "Bukankah sesama saudara harus saling membantu, hem?"
Mahen mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Vano. "Kau benar-benar adik yang baik, juga anak yang membanggakan. Mama dan papa beruntung punya anak sepertimu."
Vano menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, itu sebabnya kau selalu cemburu padaku bukan?"
"Apa? Sejak kapan aku cemburu padamu? Cih." Mahen mencebikkan bibirnya membuat mama Camelia menatap dengan sendu.
"Baiklah, terserah kau saja, Kak. Tapi aku juga akan memasukkanmu ke dalam penjara jika kau kembali melakukan kesalahan yang sama."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.