Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 78. Ancaman Untuk Clara.


__ADS_3

Apa yang Mahen katakan jelas membuat kedua orang tuanya terkejut, mereka bahkan sampai berdiri dan menatap Mahen dengan tajam.


"Kau, kau bilang apa tentang adikmu?" tanya Papa Adrian dengan tajam, bahkan sorot matanya tampak lebih tajam dari apa yang dia ucapkan.


Mahen terdiam di tempatnya. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk mengatakan semua itu pada kedua orang tuanya, karena dia ingin membuat mama dan papanya langsung melihat kedekatan Vano dan Via secara langsung.


"Kenapa kau diam? Jawab pertanyaan papa, Mahen!" Papa Adrian mencengkram erat kerah kemeja Mahen membuat mama Camelia langsung panik.


"Apa yang papa lakukan? Cepat lepaskan dia!"


Papa Adrian tetap mencengkram Mahen dan tidak menghiraukan ucapan sang istri, sementara Mahen sendiri terpaksa mengatakan semuanya pada mereka.


"Yang aku katakan itu benar, Pa. Saat ini Vano dan Via sedang menjalin hubungan, mereka sedang-"


Plak.


Mahen tidak dapat melanjutkan ucapannya saat sebuah tamparan mendarat tepat di pipi sebelah kanannya. Tentu saja tamparan itu berasal dari papa Adrian yang sudah tidak bisa lagi menahan diri.


"Cukup, Mahen. Sudah cukup!" teriak papa Adrian membuat suaranya menggema di tempat itu.


Mama Camelia hanya bisa diam saat melihat apa yang terjadi, terutama saat Mahen mengatakan tentang kedekatan antara Vano dan juga Via.


"Kali ini kau sudah sangat keterlaluan, Mahen! Jika sekali lagi kau mengeluarkan satu kata saja dari mulutmu, maka aku tidak akan menahan diri lagi untuk menghajarmu."


Deg.


Mahen dan mama Camelia tersentak saat mendengar ucapan papa Adrian. Sepertinya inilah batas dari kesabaran laki-laki paruh baya itu, mungkin jika Mahen mengucapkan satu kata lagi. Papa Adrian akan kalap dan menghajarnya.

__ADS_1


Sementara itu, di ruangan kerja Mahen. Terlihat oma Erina dan Clara sedang duduk saling berhadapan, di mana ada meja di depan mereka sebagai jarak.


"Katakan apa yang sebenarnya kau inginkan dari Mahen, aku tau kalau kau ini bukan wanita baik-baik."


Glek.


Clara menelan salivenya dengan kasar, dia tidak menyangka kalau oma Erina akan mengatakan hal seperti itu padanya. "Ada apa dengan wanita bau tanah ini? Kenapa dia mengatakan hal seperti ini padaku?"


"Aku tidak akan merestui hubunganmu dan Mahen, jadi lebih baik kau pergi sekarang juga dari kehidupannya!"


Clara menatap oma Erina dengan tajam. Berani sekali wanita tua itu menyuruhnya untuk pergi dari hidup Mahen, memangnya siapa dia?


"Maaf, Oma. Aku tidak tau kenapa Oma mengatakan semua ini padaku, tapi aku tidak seperti yang Oma katakan."


Oma Erina langsung tertawa mendengar ucapan wanita itu. "Apa kau pikir, aku tidak menyelidikimu setelah tau kalau cucu bod*ohku itu menghamilimu, hem?"


Clara menjadi gugup, tetapi sekuat mungkin dia tetap menahan diri dan bersikap biasa saja. "Saya mengerti jika Oma tidak menyukai saya, karna saya juga merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga yang sangat sukses dan dihormati seperti kalian. Tapi, aku benar-benar mencintai Mahen, Oma. Hanya dialah satu-satunya yang saya cintai." Dia berusaha untuk membuat oma Erina percaya padanya.


Deg.


Jantung Clara langsung berdegup kencang saat mendengar namanya di sebut oleh wanita tua itu. "Kenapa, kenapa dia tau nama asliku?"


"Aku bukan hanya tau nama aslimu saja, tapi juga semua tentang masa lalumu. Jika kau tidak ingin Mahen atau pun orang lain mengetahuinya, maka segera tinggalkan Mahen. Menjauhlah dari hidup cucuku, dan menghilanglah bagai debu."


Clara mengepalkan kedua tangannya dengan erat, serta emosi yang mulai naik ke permukaan. "Si*al. Sepertinya wanita tua ini tau siapa aku sebenarnya, dan dia juga pasti tau kalau aku seorang ...." Dia bahkan tidak sanggup untuk mengatakan masa lalunya.


"Pikirkan itu baik-baik, sebelum kau menyesal." Oma Erina beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan Clara yang terlihat sedang menahan amarahnya.

__ADS_1


"Si*al si*al si*al. Kenapa, kenapa dia bisa tau?" Clara merasa benar-benar kesal dan si*al secara bersamaan. "Tidak, aku tidak akan membiarkan dia begitu saja. Aku baru saja berhasil mendapatkan Mahen, dan sedikit lagi aku akan memberikan pewaris untuk keluarga ini. Jadi aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Aku harus segera memberitahu Indra, dan menyuruhnya untuk menyingkirkan wanita tua itu."


Clara harus segera melenyapkan oma Erina sebelum wanita tua itu melakukan sesuatu yang akan menghancurkannya.


Kembali lagi pada Mahen dan kedua orang tuanya yang sempat bersitegang, kini mereka juga masih saling tatap dengan tajam.


"Kenapa papa menyuruhku untuk berhenti? Apa yang aku katakan itu benar, Pa. Anak kesayangan papa itu menjalin hubungan dengan Via, mantan istri kakaknya sendiri,"


"Mahen!" Lagi-lagi papa Adrian berteriak dengan sangat kuat membuat semua orang tersentak kaget, termasuk oma Erina dan juga Clara.


"Walaupun papa menghajarku sampai mati, itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa Vano mencintai Via dan mereka sedang menjalin hubungan,"


"Kau, kalau begitu matilah kau ditangan-"


"Cukup, sudah cukup!" Teriak mama Camelia sambil berdiri di antara tubuh suami dan putra sulungnya. "Hentikan kegilaan kalian ini!" Dia tidak mau sampai ayah dan anak berkelahi.


"Sekarang panggil Vano ke sini!" Mama Camelia menatap tajam ke arah Mahen yang diam sambil menatapnya. "Panggil Vano ke sini sekarang juga!"


Mahen tersentak melihat kemarahan sang mama, dia lalu segera menghubungi Vano dan menyuruh laki-laki itu untuk segera datang.


"Baiklah, terserah kalau semuanya menjadi hancur. Jika aku tidak bisa lagi kembali pada Via, maka Vano juga tidak akan bisa."




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2