Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 40. Kegilaan Seorang Ayah.


__ADS_3

"Ayah? Apa yang Ayah-"


"Sudah ku bilang hentikan semuanya!" Ayah Chandra langsung menarik tangan Via dengan kasar membuat Nanda membulatkan matanya. "Dasar anak keras kepala, sudah ku bilang jangan bercerai. Apa kau sudah tidak bisa mendengar perkataan ayahmu lagi, hah?" Dia menyentak tubuh Via sampai berguncang, dan tentu saja semua itu langsung membuat Nanda naik darah.


"Apa yang Anda lakukan?" Nanda memegang lengan ayah Chandra yang masih mencengkram tangan Via.


"Diam kau! Aku tidak ada urusan denganmu!" Ayah Chandra menatap Nanda dengan tajam, dia lalu menghempaskan tangan laki-laki itu membuat cengkramannya di tangan Via terlepas.


Via meringis menahan sakit di area pergelangan tangan akibat cengkraman itu, tetapi hatinya jauh lebih sakit dengan apa yang ayahnya lakukan.


"Apa kau sudah gila, hah? Sudah berapa kali ku bilang untuk tetap diam, tapi kau tetap saja sibuk mau cerai!" Ayah Chandra kembali mengamuk pada Via. "Selama ini kau hidup bergelimang harta, lalu apa lagi yang kurang, hah?"


Via yang tau kalau ayahnya ingin kembali mencengkram tangannya langsung mundur. "Ayah, semua itu bukan karna harta. Tapi karna-"


"Diam kau anak kurang ajar! Kurang apa selama ini kami membesarkanmu dan membiayai semua kebutuhanmu, kau pikir kami tidak malu kalau kau menjadi janda, hah?"


Via terdiam sambil meneteskan air matanya, dia lalu memalingkan wajah ke arah samping tepat di mana Nanda berada.


"Ke sini kau!" Ayah Chandra kembali menarik tangan Via membuat wanita itu memekik kaget, dia segera membawanya untuk keluar dari rumah itu.


"Apa yang Anda lakukan? Lepaskan tangan Nona Via!" Nanda menahan tangan ayah Chandra yang sudah menyeret Via secara paksa, tetapi laki-laki paruh baya itu tidak peduli dan tetap menarik wanita itu untuk keluar.


"Jangan ikut campur urusanku! Atau kau mau kalau aku membunuhmu?" Ayah Chandra melepaskan tangan Via lalu mencengkram kerah kemeja Nanda.


"Silahkan saja jika Anda bisa."


Amarah ayah Chandra semakin meletup-letup hingga dia melayangkan pukulan ke wajah Nanda. Namun, laki-laki itu mengelak dan mendorong tubuhnya sampai terjungkal ke belakang.


"Untung saja saya tidak memukul orang tua, jika tidak mungkin Anda sudah terkapar sekarang,"


"Kau!" Ayah Chandra kembali bangun dan hendak melawan laki-laki itu.

__ADS_1


"Sudah Ayah, cukup!" Via berdiri tegak di hadapan Nanda untuk menghalangi laki-laki itu dari amukan sang ayah.


"Minggir kau! Semua ini gara-gara kau, Via. Dasar kau anak tidak tau diuntung."


Plak!


Sebuah tamparan melayang tepat ke pipi Via membuat tubuh wanita itu limbung ke belakang, untung saja Nanda menangkap tubuhnya dengan cepat sebelum terjatuh ke tanah.


Pipi Via memerah akibat tamparan yang ayah Chandra layangkan padanya, dia lalu berusaha untuk berdiri tegak karena dia masih dalam pelukan Nanda.


"Lakukan apa saja yang ayah sukai, tapi aku akan tetap bercerai dengan Mas Mahen," ucap Via sambil menahan tangis.


"Aku benar-benar sial punya anak sepertimu, kau benar-benar tidak tau diuntung!" Kedua tangan ayah Chandra mengepal kuat. "Kau lihat saja, kalau sampai kau benar-benar cerai dengan Mahen. Maka aku akan membinasakan Ibumu itu."


Tubuh Via terlonjak kaget saat mendengar ancaman sang ayah, dia tidak menyangka kalau ayahnya sampai hati bicara seperti itu.


"Hati-hati dengan ucapan Anda, Tuan. Karena saya bisa saja memasukkan Anda ke penjara saat ini juga," ucap Nanda, dia benar-benar geram dengan manusia yang satu itu.


"Persetan dengan semuanya. Kalau kau memang ingin bercerai, maka berikan uang 50 juta padaku!"


"Benar. Usaha ku baru saja rugi besar, dan kau harus mengganti semua uang itu."


Via tercengang dengan apa yang ayahnya katakan. Dia tau kalau ayah Chandra itu sangat suka berjudi, tetapi tidak mungkin bisa menghabiskan uang sampai 50 juta.


"Anda benar-benar orang tua yang sangat hebat, saya salut sekali melihatnya."


Prok prok prok. Nanda bertepuk tangan dengan kencang di hadapan ayah Chandra. "Baru kali ini saya melihat seorang ayah seperti Anda, yang dengan tidak punya hati menghalangi perceraian putri Anda sendiri. Sekaligus tidak punya malu meminta uang dalam jumlah banyak."


Kepala ayah Chandra langsung berasap mendengar ucapan Nanda, tanpa pikir panjang lagi dia mengambil sebuah batu dan memukulkannya ke arah laki-laki itu.


Nanda yang tau gerakan ayah Chandra langsung menghindar, tetapi naas ternyata kepala Via lah yang terkena batu tersebut.

__ADS_1


"Astaghfirullah." Via yang hendak mendorong Nanda agar tidak terkena batu, malah menjadi korban dari batu tersebut.


"Nona Via!" Nanda segera menarik tubuh Via yang sudah terhuyung ke samping, dia mendekap wanita itu yang sudah hampir tidak sadarkan diri.


Beberapa pelayan yang baru saja menghubungi Riani untuk memberitahukan apa yang terjadi, langsung berlari ke arah Via saat wanita itu sudah bersimbah darah.


"Akan kupastikan kalau kau mendekam dipenjara!" Nanda melihat ayah Chandra dengan tajam, guratan kemarahan terlihat jelas di wajahnya saat ini.


Ayah Chandra terdiam dengan perasaan takut, tangannya bergetar hebat saat melihat darah segar mengalir dipelipis Via. Tanpa berkata apapun, dia langsung berlari meninggalkan tempat itu dengan kencang.


"Hey, berhenti-"


"Biarkan saja. Sekarang lebih baik kita membawa Nona Via ke rumah sakit." Nanda langsung menggendong Via ala bridal style dan membawanya ke mobil, sementara yang lainnya bergegas membantu dan kembali menghubungi Riani.


"Ya Allah,"


"Anda tidak apa-apa?"


Via tersadar sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, saat ini dia sedang berada di pangkuan salah satu pembantu Riani.


"Nona, Nona baik-baik saja?" tanya Nanda yang sedang mengemudikan mobil.


Via tidak bisa menjawab pertanyaan mereka karena kepalanya benar-benar sakit. "Yara." Dia merasa lemas dan kembali tidak sadarkan diri.


"Ya Allah, Nona." Pembantu itu menggoyang tubuh Via yang diam dengan mata terpejam.


Melihat semua itu, Nanda semakin menekan pedal gasnya dan melaju kencang di jalanan. "Aku harap kau baik-baik saja, Via."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2