Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 22. Keputusan yang Sangat Mengejutkan.


__ADS_3

Mahen sangat terkejut dengan apa yang Papanya katakan, begitu juga dengan Mama Camelia yang tercengang sambil menatap suaminya dengan penuh tanda tanya.


"Ya, Mahen! Kau harus bercerai dengan Via!"


Deg. Mahen benar-benar tidak menyangka kalau Papanya akan mengatakan hal seperti itu. "Apa maksud Papa? Kenapa Papa menyuruhku untuk bercerai?" Suaranya menggema memenuhi ruangan itu.


"Papa sudah memikirkannya, memang lebih baik kau berpisah saja dengan Via!"


Hati Papa Adrian luluh saat mendengar curahan hati Via tadi, dia sadar betapa pentingnya sebuah harga diri dibandingkan apapun juga.


"apa, apa Papa tidak salah? Bukannya Papa sudah mengiyakan permintaanku tadi malam?"


"Jangan meninggikan suaramu di hadapan Papa, Mahen!"


Mahen langsung terdiam mendengar teriakan Papanya, bahkan suara itu terdengar sampai dapur membuat Via langsung berlari untuk melihatnya.


"Papa sudah memutuskan kalau kau harus menceraikan Via saat ini juga, dan kau tidak punya hak untuk membantahnya!"


Deg. Tubuh Via langsung menegang saat mendengar ucapan Papa Adrian, jantungnya berdetak sangat cepat seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya! Sampai mati pun Via tetap akan menjadi istriku!" Mahen tetap bersikukuh untuk tidak menceraikan Via membuat rahang Papa Adrian mulai mengeras.


"sebenarnya apa mau mu, Mahen? Kau berselingkuh dengan wanita lain sampai wanita itu hamil, tapi kau malah tidak mau berpisah dengan istrimu! Apa kau sudah tidak waras, hah?" bentak Papa Adrian sambil melempar sebuah vas bunga ke atas lantai.


Prang!


Suara pecahan vas itu menggema keseluruh penjuru rumah membuat Vano juga ikut keluar dari kamarnya, bahkan semua pembantu juga sudah berkumpul di halaman belakang saat ini.


"Kau sudah menyelingkuhinya, itu artinya kau sudah tidak mencintainya dan siap untuk berpisah! Jangan menjadi laki-laki serakah dan pengecut seperti itu!" Papa Adrian menunjuk tepat ke wajah Mahen membuat putranya itu terdiam. "Kau tidak mau berpisah dengannya, tapi kau malah selingkuh dengan wanita lain. Kau bahkan lebih hina dari seekor hewan!"


Deg. Amarah Papa Adrian sudah berada di puncak membuat semua orang tidak berani bersuara, bahkan Mama Camelia hanya bisa diam di tempat itu.

__ADS_1


"Sekarang terserah kau mau melakukan apa, Papa tidak akan peduli lagi! Tapi ingat satu hal, kau sudah mencoreng nama baik keluarga ini. Jadi jangan harap kalau aku akan berbaik hati padamu!"


Papa Adrian segera pergi dari tempat itu karna merasa benar-benar muak dengan semuanya, dia sangat kecewa karna tidak bisa mengatur putranya sendiri.


Melihat kepergian suaminya, Mama Camelia ikut pergi dari tempat itu. Dia harus segera menenangkan suaminya atau laki-laki itu akan menghancurkan seisi rumah ini.


Tinggallah Via, Mahen dan Vano saja yang masih berada di tempat itu. Untung saja Yara sedang berada di belakang bersama dengan para pembantu, yang tau kalau sedang terjadi masalah di rumah itu.


"Sudah puas, sudah puas kau membuat Papaku marah, hah?"


Via tersentak kaget saat Mahen mencengkram kedua bahunya. "Sudah puas kau membuat keluargaku berantakan seperti ini?"


Via menatap Mahen dengan nyalang, sungguh dia tidak percaya kalau laki-laki itu malah menyalahkan atas semua masalah yang sedang terjadi. Tanpa sadar kalau dia sendirilah yang menyebabkannya.


"Apa kau tidak bisa diam dan tenang? Aku hanya menikah sementara saja dengan Clara, tapi kau malah membuat keributan seperti ini!"


Via langsung mendorong tubuh Mahen sampai cengkraman laki-laki itu terlepas. "Kau menyalahkanku untuk semua ini, Mas?" Matanya menyorot tajam ke arah Mahen. "Kau menyalahkanku untuk semua masalah yang kau buat sendiri, begitu?"


Sontak Via langsung tergelak mendengar ucapan Mahen. "Benar, kau memang menerimaku apa adanya, Mas! Bahkan kau sangat mencintaiku sampai menghamili wanita lain!"


"Diam!"


Mahen sudah mengangkat tangannya hendak memberi tamparan ke wajah Via, sementara Via sendiri langsung memejamkan matanya saat melihat tangan laki-laki itu terangkat ke atas.


Grep!


Mahen tidak bisa menggerakkan tangannya saat ada seseorang yang mencekal tangan itu, dia lalu menoleh ke arah samping dan terkejut saat melihat Vano.


"Va-Vano? Kau di sini?"


Vano menganggukkan kepalanya lalu melepaskan tangan kakaknya itu. "Jangan main tangan, Kak! Dia ini wanita!"

__ADS_1


"Hah!" Mahen menghembuskan napasnya dengan kasar, untung saja dia tidak sampai memukul Via atau segala masalah yang ada akan bertambar besar.


Tanpa bicara apa-apa, Via langsung meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke belakang. Dia benar-benar sangat syok dengan apa yang akan Mahen lakukan tadi.


"Tunggu, Via!" Mahen berusaha untuk mengejar Via tetapi langkahnya dihalangi oleh Vano.


"Biarkan saja dia, percuma kalau kakak mengejarnya!"


Akhirnya Mahen menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan diikuti oleh Vano, mereka duduk bersebrangan saat ini.


"bagaimana kabarmu, Vano? Tumben kau pulang?" tanya Mahen setelah merasa sedikit tenang.


"aku baik! Aku pulang karna perintah Papa!" jawab Vano kemudian.


Mahen mengernyitkan keningnya dengan bingung, biasanya Mamanya lah yang akan menyuruh Vano pulang tapi sekarang malah Papanya.


"Ya sudahlah, kakak mau ke kamar dulu!" Mahen segera beranjak dari tempat itu menuju kamarnya dengan tetap dilihat oleh Vano.


"Apa Papa menyuruhku pulang karna masalah ini?" Vano kini mulai memikirkan alasan kenapa Papanya menyuruh untuk pulang saat itu juga.


Tidak mau ambil pusing, dia segera beranjak ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar isak tangis seorang wanita. Dengan cepat dia berjalan ke arah perpustakaan mini milik sang Papa, dan tampaklah Via sedang meringkuk sambil memangis disudut ruangan.


"Padahal tadi dia tampak tegar saat beradu mulut dengan Kak Mahen, tapi ternyata lemah juga!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2