
Semua orang langsung diam saat mendengar ucapan Mira, sementara Via hanya tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan wanita itu.
"Saya tidak hebat, bahkan baru pertama kali bekerja sebagai seorang asisten pribadi. Namun, saya akan berusaha untuk mempelajari semuanya."
Semua orang tersenyum mendengar kerendahan hati Via, apalagi dengan tutur kata yang lembut dan juga tenang membuat semua orang terus menatap ke arahnya.
"Ah, jadi begitu. Nona Riani memang sangat baik, dan aku juga yakin kalau kau pasti akan mengerjakan segala pekerjaan dengan baik," ucap Mira sambil memeluk lengan Via.
Setelah perkenalan selesai, semua orang kembali ke meja masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Begitu juga dengan Via, dia dan Mira segera masuk ke ruangan dan mulai menyelesaikan pekerjaan.
Vano yang sudah berada di depan rumah Riani langsung menemui penjaga gerbang, tetapi rupanya Via dan Riani tidak ada di rumah.
"Apa dia masih di pengadilan? Tidak mungkin, lebih baik aku telpon saja." Tiba-tiba seluruh tubuh Vano jadi batu saat mengingat kalau dia tidak punya nomor ponsel wanita itu.
"Sh*it! Bisa-bisanya aku tidak punya nomor ponsel kakak iparku sendiri. Apa kuminta saja dari kak Mahen?"
Tidak tidak, Vano tidak akan meminta nomor ponsel Via pada sang kakak. Dia tidak ingin Mahen bertanya-tanya tentang apa yang ingin dia lakukan dengan nomor ponsel Via.
"Oh iya, aku kan bisa minta sama mama." Vano segera menelpon samg Mama untuk meminta nomor Via.
Setelah mendapat nomor ponsel wanita itu, Vano bergegas untuk segera menelponnya. Beberapa kali panggilannya masuk, tetapi tidak dijawab oleh Via.
"Halo?"
Setelah beberapa kali menelpon, akhirnya panggilan itu dijawab oleh Via. "Halo, ini Via?"
"Iya, benar. Maaf, ini siapa ya?"
"Aku Vano."
Hening, tidak ada lagi jawaban dari Via karena saat ini wanita itu sedang terkejut. "Va-Vano? Maksudmu kau Vano adiknya Mas Mahen?"
"Benar, memangnya siapa lagi?"
Via yang ada di sebrang telpon mengernyit bingung. "A-ada apa, Vano? Kenapa kau menelponku?"
"Aku harus bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin aku katakan,"
__ADS_1
"Maaf, saat ini aku sedang bekerja. Mungkin kita bisa bertemu di lain waktu," tolak Via, baru sehari kerja masak sudah mau pergi ke luar.
Vano yang mendengar jawaban Via cukup terkejut, dia tidak menyangka kalau wanita itu sedang bekerja saat ini. "Dia bekerja di mana?"
"Halo, Vano?"
"Y-ya,"
"Bisakah kita bicara nanti? Nanti aku akan menghubungimu jika sudah pulang kerja,"
"Baiklah, aku akan menunggu panggilanmu."
Tut. Vano langsung mematikan panggilan itu setelah selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Dasar gila! Kenapa aku penasaran di mana dia kerja sih? Terserah dia mau kerja atau apapun itu, aku tidak peduli." Vano lalu melajulan mobilnya untuk kembali ke perusahaan, dia akan menunggu kabar dari wanita itu kapan mereka akan bertemu.
*
*
*
"Ayo, kita pulang!"
Suara Riani berhasil mengagetkan Via dan juga Mira yang tengah fokus dengan pekerjaan mereka. "Nona, Anda sudah mau pulang?"
Riani menganggukkan kepalanya. "Mulai sekarang kau harus fokus dengan semua pekerjaan kantor ya, Mira. Untuk pekerjaanku, serahkan semuanya pada Via. Kau juga harus mengambil alih posisi manager selama dia bertugas ke lapangan."
Mira menatap Riani dengan tajam saat mendengar apa yang bosnya katakan. "Maaf, Nona. Apa tidak lebih baik kalau Via lah-"
"Itu sudah menjadi tugasmu, Mira. Dan aku tidak mau nantinya ada kesalahan, kau tau sendiri kalau Via masih baru. Sebagai seorang sekretaris, kau harus menghandel semua urusan kantor dengan semua klien. Sementara seorang asisten, dia akan khusus mengurus segala keperluanku. Bagaimana? Apa kau sudah paham?"
Mira menganggukkan kepalanya. "Sudah, Nona. Kalau gitu besok saya akan menyerahkan semua schedul Anda padanya."
"Bagus. Kalau gitu kami duluan ya." Riani melambaikan tangannya pada Mira sambil menarik tubuh Via untuk keluar dari sana.
"Apa tidak sebaiknya kalau aku saja yang mengerjakan pekerjaan Mira, Rin?"
__ADS_1
Riani menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan Via. "Kenapa seperti itu? Kalian harus mengerjakan dan bertanggung jawab untuk tugas kalian masing-masing, jadi tutup mulutmu itu. Ayo, kita pulang!"
Via hanya bisa menghela napas kasar karena Riani itu sangat keras kepala, dia juga tidak bisa melawan apa yang wanita itu katakan.
"Oh iya, aku harus bertemu dengan Vano." Tiba-tiba Via ingat kalau dia harus bertemu dengan Vano.
Riani yang sudah akan masuk ke dalam mobil kembali menghentikan kakinya. "Kenapa? Kenapa adik iparmu ingin bertemu?"
Via menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, tapi katakan penting." Dia mengambil ponsel yang ada di dalam tas. "kau pulang duluan aja ya, aku akan menunggu Vano di kafe depan sana." Dia menunjuk ke arah kafe yang ada di sebrang kantor Riani.
"Apa perlu ku temani?"
"Tidak usah, aku bisa sendiri kok. Titip Yara ya."
Riani menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil, dia menyuruh Via untuk langsung menelponnya jika terjadi sesuatu.
"Iya, berhati-hatilah." Via melambaikam tangan ke arah Riani yang sudah mulai menjauh dari tempat itu, dia lalu berjalan ke arah kafe sambil menelpon Vano.
Sekitar 20 menit menunggu di kafe, akhirnya Vano sampai juga di tempat itu. Via yang melihat ke datangannya langsung melambaikan tangan, membuat dia langsung berjalan mendekati wanita itu.
"Maaf menunggu lama," ucap Vano sambil duduk di hadapan Via.
"Tidak apa-apa, aku juga belum lama kok. Apa kau mau pesan sesuatu?"
Vano mengangguk, kemudian dia memanggil pelayan untuk memesan secangkir kopi dan juga makanan ringan untuk mereka.
"Em ... jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Via sambil menatap Vano dengan sayu.
Vano terdiam untuk beberapa saat sambil menatap dalam kedua manik mata Via. "Apa kau baik-baik saja?"
"Hah?
"Eh, hah?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.