
Keesokan harinya, setelah selesai sarapan bersama. Vano dan keluarganya kembali berkumpul di ruang keluarga. Suasana tampak sangat hangat dan bahagia, karena semua masalah dan ketegangan yang terjadi sebelumnya sudah bisa diselesaikan secara baik-baik.
"Jadi bagaimana, Vano? Kapan kira-kira kita akan melamar Via?" tanya papa Adnan membuat Vano langsung salah tingkah, sementara Mahen mencoba untuk tersenyum walau hatinya serasa di remmas saat mendengarnya.
"Benar, Vano. Kita tidak perlu membuang waktu lagi, segala sesuatu yang baik harus disegerakan," sambung mama Camalia.
Vano terdiam sejenak untuk memikirkannya, dia juga belum mengatakan semua itu pada Via. "Hari ini aku akan menemuinya, Ma. Biarkan aku bicara dulu dengannya."
Semua orang menyetujui apa yang Vano katakan. Kemudian mereka bubar barisan untuk pergi ke kantor, sementara Vano bergegas pergi menuju rumah Via.
Dalam perjalanan, Vano menelepon dan meminta Via untuk tidak pergi bekerja padahal Via sendiri sudah sampai di kantor Riani.
"Ya ampun, kenapa Vano enggak bilang dari tadi malam sih?" Via merasa kesal sendiri. Dia lalu masuk ke dalam kantor untuk menunggu kedatangan Riani.
Setengah jam kemudian, Riani sampai di kantor dan masuk ke dalam ruangannya. Tidak berselang lama, masuklah Via ke ruangannya.
"Ada apa, Via? Tumben pagi-pagi udah ke sini?" tanya Riani yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Tunggu, ada apa dengan katamu, Rin? Apa kau habis menangis?" Via terkejut saat melihat mata Riani sembab sebesar biji kenari.
"Ooh, ini?" Riani menunjuk ke arah matanya sendiri. "Semalam ada film baru, terus sedih banget. Aku nonton semalaman tanpa tidur, terus nangis pula. Jadilah suatu maha karya seperti ini."
Via memicingkan matanya karena merasa tidak percaya dengan apa yang Riani katakan. "Kau berkata jujur kan, Rin? Jika ada sesuatu, katakan padaku."
Riani menggelengkan kepalanya. "Yang ada sesuatu itu kan kau, Vi. Kalau aku semua berjalan dengan lancar."
Via menghela napas lega, kemudian dia segera memberitahukan tentang kedatangan Vano jadi dia izin untuk tidak bekerja hari ini.
__ADS_1
"Tentu saja, Via. Sepertinya kau juga harus mengundurkan diri sekarang," ucap Riani sambil tersenyum menggoda, tentu dia tahu semua yang sudah terjadi antara Via dan juga Vano.
"Po-pokoknya aku udah izin ya, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Via langsung keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Riani, entah kenapa dia merasa malu.
Setelah Via keluar, Riani menyandarkan tubuhnya. Kedua matanya terpejam karena terasa perih akibat menangis selama semalaman, tetapi bukan karena menonton film, melainkan karena pengkhianatan calon suaminya.
Niat hati ingin memberi kejutan pada sang calon suami yang berada di luar negeri. Riani malah melihat kegiatan panas yang laki-laki itu suguhkan, sungguh hatinya langsung hancur berkeping-keping.
Saat itu juga, dia membatalkan pertunangan dan memutuskan semua hubungannya dengan laki-laki itu.
Namun, bukannya merasa bersalah. Laki-laki itu malah menyalahkannya atas apa yang telah terjadi. Noah mengatakan jika dia lah yang selama ini selalu mengundur pernikahan mereka, laki-laki itu juga mengatakan jika Riani terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan tidak memikirkan hubungan mereka.
"Aku bekerja juga untuk masa depan kita. Aku sudah mengatakan padamu selalu siap untuk menikah, tetapi kau yang tidak mengajakku menikah. Dan sekarang kau malah selingkuh,"
"Jangan menyalahkanku, Riani. Kau yang sibuk bekerja ke sana kemari untuk mengembangkan rotimu itu. Padahal aku lebih dari mampu untuk menghidupimu, dan rotimu itu tidak ada apa-apanya dibanding perusahaanku. Apa kau paham, hah?"
"Baiklah, Jika memang semua karena kesalahanku, maka kita putuskan saja hari ini, Noah. Pertunangan kita cukup sampai di sini, dan mulai sekarang tidak ada hubungan apapun lagi di antara kita."
Dada Riani kembali berdenyut sakit saat mengingat ucapan yang dia lontarkan. Untuk apa lagi dia bertahan dengan lelaki yang tidak menghargai kerja kerasnya? Dan apapun alasannya, Noah tidak seharusnya selingkuh dengan wanita lain.
"Maaf, Vi. Aku tidak bisa menceritakannya padamu. Aku tidak ingin merusak momen kebahagiaan yang selama ini tidak kau dapatkan, aku tidak mau kau bersedih atas apa yang terjadi padaku." Riani terpaksa berbohong karena tidak ingin merusak suasana bahagia yang sedang Via rasakan.
Via yang sudah sampai di parkiran apartemen segera bergegas untuk menemui Vano, terlihat laki-laki itu sedang mengobrol dengan ibu Novi dan juga Yara.
"Assalamu'alaikum."
Semua orang menoleh ke arah pintu. "Wa'alaikum salam."
__ADS_1
Via segera masuk dan duduk di samping Yara. "Maaf karna membuatmu menunggu, Vano."
"Tidak apa-apa." Vano menganggukkan kepalanya. "Bisa kita bicara berdua?"
"Tentu saja. Ayo, kita ke balkon sana." Via menunjuk ke arah belakang.
Ibu Novi yang paham langsung mengajak Yara untuk bermain di kamar, sementara Via dan Vano beranjak ke balkon tersebut.
"Jadi, bagaimana hubungan kita ini menurutmu, Via? Aku tidak tau harus melakukan apa jika kau tidak mengatakan apapun," ucap Vano membuka obrolan mereka.
"Aku juga tidak tau, Vano. Aku tidak mau menyakiti hati siapa pun, dan aku hanya berharap kebahagiaan untuk kita semua." Via menundukkan kepalanya.
"Kau tidak menyakiti siapa pun, Via. Aku juga sudah bicara dengan kak Mahen, dia benar-benar sudah ikhlas dan merestuai hubungan kita."
Via mendongakkan kepalanya dan memandang Vano dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi, Via. Mau kah kau menikah denganku?" Vano menyodorkan sebuah cincin ke hadapan Via yang masih berada di dalam kotak beludru berwarna merah.
•
•
•
Tbc.
Mampir juga ke karya terbaru aku ya, ada kisah Yara juga di sana 🥰 kisah emaknya belum selesai udah keluar kisah anaknya 🤭🤣
__ADS_1