
Setelah Roby meninggalkan rumah , Tania beraktifitas seperti biasa karena memang dia sudah sembuh .
" Mbak Firma , sebaiknya lupakan saja masalah dengan Sari karena itu percuma saja " .
" Tapi bu , ada hak anak saya pada harta Sari yang sudah di beri oleh suami saya " .
Tania menarik napas panjang , " Nanti mbak Firma juga akan tau , yang ingin saya tau sekarang siapa yang sudah menghamili mbak Firma ? " .
Firma tak menjawab , dia bingung antara harus menjawab sejujur nya atau terus menyembunyikan nya .
" Siapa yang hamil ? , Firma kamu hamil ? " . Pertanyaan Roby mengejutkan Tania dan Firma , mereka tak menyangka kalau Roby akan kembali lagi ke rumah .
Roby juga terkejut tatkala melihat Tania sudah bisa berdiri bahkan berjalan .
" Sayang , kamu sudah sembuh ? " . Tanya Roby beralih pada istri nya .
" Seperti yang kamu lihat mas , kamu ngapain balik lagi ? " . Tania menjawab dengan datar dan tanpa ekspresi .
" Ada berkas yang tertinggal " .
Beberapa menit kemudian Roby kembali , " tadi aku mendengar kamu bilang tentang hamil , apa dia yang hamil sayang ? " . Roby menunjuk wajah Firma .
Karena tak ada yang mau menjawab , Roby menarik tangan Firma .
" Saya mau di bawa kemana pak ? , kenapa bapak tak mengaku saja ? " . Firma berusaha melepaskan tangan nya dari cengkeraman Roby .
Bukannya melepaskan Roby malah menampar keras pipi Firma dan menyeret Firma untuk masuk ke dalam mobil .
Tania tak bisa menghentikan suami nya , akhir nya dia menghubungi seseorang .
" Ikuti suami saya , dia baru saja membawa mobil dan pengasuh anak saya " .
Tania juga menghubungi orang kepercayaan lain nya .
" Halo , tolong kamu segera ke sini , ajak istri mu juga " .
Tak berapa lama sebuah motor memasuki halaman rumah Tania , yang rupa nya orang yang di hubungi nya tadi datang bersama istri nya .
" Wan , tolong antar saya ke alamat yang sudah saya kirim ke kamu , oya istri kamu bisa kan jaga dua bayi ini ? " .
__ADS_1
" Saya bisa kok bu , tenang saja yang penting stok susu ada " . Jawab istri Iwan dengan sopan .
" Baiklah , saya pinjam suami kamu untuk mengantar saya gak pa pa kan tapi naik motor saja biar cepat sampai ke lokasi " .
" Iya bu aman , saya tau ibu perempuan yang baik tentu saya percaya kalau ibu memang murni minta tolong suami saya " .
" Terima kasih ya , kalau gitu kami berangkat sekarang , nitip anak - anak dulu , kalau ada apa - apa langsung kabari saya " .
Istri Iwan hanya mengangguk kan kepala nya saja dan tersenyum .
Tak butuh waktu lama motor Iwan sudah mendekat ke motor orang suruhan Tania yang di minta mengikuti mobil Roby .
Iwan mengikuti Tania masuk ke dalam sebuah rumah , " Roby .. Roby .. di mana kamu ? " . Tania berteriak lantang di dalam rumah .
Tapi rumah sepi dan tidak ada siapa - siapa di sana . Tania keluar lagi dan menegur orang suruhan nya .
" Toni ! gimana sih kamu kok bisa kecolongan , Roby sudah kabur dari rumah ini membawa pengasuh anak ku " .
" Hah ? , maaf bu tapi saya tidak melihat siapa - siapa lewat sini " . Jawab Toni merasa bersalah .
" Pasti ada jalan lain di sekitar sini , huh kita kehilangan jejak Roby , cepat kalian bantu cari cara untuk menemukan mereka " . Tania merasa kecewa karena tak bisa menyelamatkan Firma , dia yakin kalau kehamilan Firma ada hubungan nya dengan Roby .
Beberapa menit sebelum Tania dan Iwan datang ternyata Roby melihat hadir nya Toni . Karena merasa tak aman akhirnya Roby memilih kabur lagi dengan membawa Firma lewat pintu belakang .
" Sialan , kenapa dia ngikuti sampai ke sini , pasti istri ku sudah nyuruh share lokasi rumah ini " .
Toni yang menunggu di depan dia tak menyangka kalau Roby akan kabur lewat jalan lain sebab di depan rumah masih terparkir mobil nya .
" Cepetan jalan nya ! " . Roby menarik keras tangan Firma .
" Mau di bawa kemana lagi pak saya " .
" Sudah jangan banyak omong , cepat jalan dan ikuti saja arahkan ku " .
" Tapi saya kan gak salah apa - apa pak , lepaskan saya " .
Toni sama sekali tak mendengar teriakan Firma atau pun suara Roby karena rumah itu di bangun dengan dinding yang tebal .
" Segera jalan ke alamat ini " . Ujar Roby pada orang yang telah di hubungi nya . Akhir nya dengan kecepatan tinggi mobil itu melesat meninggalkan rumah yang sedari tadi di awasi oleh Toni .
__ADS_1
Tania merasa kesal karena Roby sudah berhasil kabur .
" Sekarang antar saya ke rumah Sari adik saya , kamu masih ingat rumah nya kan Wan ? " . Tanya Tania .
" Masih bu " .
" OK kita ke sana siapa tau mereka juga di sana , Toni kamu ikut juga " .
" Baik bu " .
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Sari .Tapi sebelum itu Tania sudah meminta Toni menghubungi orang untuk mengurus mobil Roby dan di antar ke rumah Tania .
Namun di jalan ban motor Iwan pecah dan mengakibatkan mereka terjatuh , akhir nya mereka di larikan ke rumah sakit meskipun tidak ada luka serius tetapi ada beberapa luka yang harus segera di obati .
" Maaf bu Tania , perjalanan kita jadi terhambat " .
" Tak masalah , bagaimana dengan luka mu ? , saya yang minta maaf kamu jadi alami kecelakaan " .
" Cuma luka di betis bu tak masalah kita masih bisa lanjutkan perjalanan " .
" Kalau gitu motor kamu taruh bengkel saja , kamu minta orang untuk mengambil motor kamu " .
Tania segera menghubungi Toni , " Ton , bagaimana apa sudah selesai ? " .
" Sudah bu , kunci mobil sudah di gandakan , ini baru akan di antar ke rumah ibu .
Saat kejadian kecelakaan tadi Toni tak mengetahui sebab Tania berubah pikiran , dia menyuruh Toni untuk mengurus mobil saja .
" Kalau gitu tolong jemput kami di rumah sakit , kami kecelakaan tapi hanya luka ringan , kaki Iwan seperti nya terkilir , jadi kita lanjut ke rumah Sari dengan mobil yang kamu bawa itu saja " .
" Baik bu sebentar lagi saya nyampe , kebetulan sudah dekat dengan rumah sakit nya " .
" OK " .
Tania memutus sambungan teleponnya .
" Gimana Wan kaki mu , apa masih bisa di gunakan berjalan ? , kalau terlalu sakit sebaik nya pakai kursi roda saja " .
" Ah bu Tania becanda , masa tampang sangar gini harus di dorong pake kursi roda ? " .
__ADS_1
" Ya kali aja Wan , kamu belum kuat jalan lama , liat luka di betis dan lutut mu aja saya bisa tau kalau itu pasti nyeri banget " .
" Aman bu , masih kuat kok mau jalan sepuluh kilometer lagi hehehe " . Jawab Iwan dengan cengengesan sambil menahan perih di setiap luka nya .