Masa Lalu Suamiku

Masa Lalu Suamiku
Bab 74 Terpesona


__ADS_3

Hati ku berdegup kencang , untuk pertama kali nya aku melihat dari dekat wajah istri ku dengan tanpa memakai hijab .


Dulu saat masih kerja di kios dan belum memakai hijab memang sudah terlihat kalau dia cantik tapi sekarang aura kecantikan nya seakan makin terpancar .


Entah sejak kapan Firma sudah ada di atas tempat tidur bahkan aku tidak menyadari nya .


" Ngapain liatin aku kayak gitu , sana buruan mandi bersihin diri terus ... " . Firma melempar kan bantal pada ku .


" Terus aku dapat hadiah kan ? " . Sela ku yang membuat mata nya makin melotot .


" Sudah sana cepetan mandi ! " . Firma melempar ku lagi dengan bantal lain nya .


Selesai mandi aku bergegas mendekati Firma , ku lihat di memegang hape ku dan fokus mengotak atik nya .


" Aku akan transparan jadu gak ada yang aku sembunyikan pada mu " . Aku berusaha meyakinkan nya .


" Kenapa , gak terima kalau aku liat - liat hape nya ? , nih ambil ! " . Firma melemparkan nya pada ku dan aku mengambil nya .


" Silahkan cek saja hape nya gak pa pa kok " . Aku menyodorkan kembali ponsel ku .


" Cewe bule itu siapa , istimewa banget ya ampe aku yang jadi istri mas aja mas cuekin dan terus sibuk ngobrol sana sini bahkan gak ngenalin ke aku " .


" Dia temen ku kuliah , aku juga gak tau dia kok tau alamat rumah kamu dan hadir di pernikahan kita , aku tadi lupa menanyakan nya , nanti aku tanyakan " .


Aku menjawab dengan pengharapan supaya Firma mau mengerti , tapi justru mata nya malah makin melotot .


" Ooh mas masih berharap bisa ketemu dia lagi dengan alasan pertanyaan itu ? " .


Tampak sekali Firma merasa kesal kemudian dia membenamkan tubuh nya di dalam selimut .


Aku mendekati nya dan berbisik , " Mas bisa dapat kan moment spesial nya malam ini kan ? " .


" Maaf mas aku masih kesal sama mas , suruh siapa mas merusak hari bahagia ku " .


Akhir nya aku harus merasa kecewa , aku gagal membobol gol ke gawang .


POV. FIRMA

__ADS_1


Aku terbangun karena merasa kegerahan , aku melihat di sebelah ku mas Deni juga berkeringat , di wajah nya banyak buliran keringat .


Aku mengibas kibaskan kaos ku supaya sedikit mendapat kan angin , ku lirik mas Deni juga terbangun dia mencari - cari remote pendingin ruangan yang entah ada di mana .


Aku juga berusaha membantu nya mencari karena badan ku rasa nya sudah sangat lengket , jadi tidak percaya diri kalau harus berdekatan dengan mas Deni .


" Aku buka jendela aja biar ada angin yang masuk ya mas ? " . Tanya ku sembari berjalan ke arah jendela dan di jawab dengan anggukan kepala nya .


Sayup - sayup terdengar adzan subuh berkumandang , angin menerobos masuk saat jendela terbuka .


" MasyaAllah sejuk sekali angin subuh ini " .


Saat aku membalikkan badan , ku temui mata mas Deni memandangi ku . Aku menjadi salah tingkah .


" Maaf mas aku mandi dulu ya , badan ku sudah lengket " .


Aku segera berlari ke kamar mandi untuk menyelamat kan diri dari penglihatan mas Deni .


Ada yang mengatakan bahwa mata adalah jendela hati , dari mata maka hati seseorang bisa di ketahui entah sedang marah , sedang sedih , sedang bahagia ataupun sedang mencari tahu sesuatu dan sebagai nya .


Begitu juga dengan tatapan mas Deni seolah menyampaikan sesuatu pada ku yang membuat aku juga tersengat api asmara .


Mendengar pintu kamar mandi terbuka mas Deni langsung bertanya pada ku , " Sudah selesai Fir mandi nya ? " .


Aku yang masih terperanjat melihat tubuh nya tapa kaos yang dia pakai sebelum nya tidak segera menjawab .


" Fir ? " . Tanya mas Deni lagi .


" Mm anu , eh sudah mas , mas Deni kok ndak pake baju ? " . Tanya ku tergagap .


" Gerah Fir aku juga mau mandi " . Jawab nya seraya berlalu dari hadapan ku dan masuk ke kamar mandi .


" Kamu terganggu dengan ini ? " . Mas Deni mengelus dada dan perut nya .


Mas Deni mendekat ke arah ku , aku memejam kan mata sampai akhir nya aku merasakan hidung mas Deni menyentuh hidung ku .


Aku memberanikan diri membuka mata , mas Deni tertawa dia mencubit hidung ku .

__ADS_1


" Berharap terjadi sesuatu yang lebih ya , ternyata liar juga pikiran mu Fir " . Mas Deni mengejek ku sambil melewati ku menuju kamar mandi yang tentu saja membuat ku sangat malu .


" Sial , kenapa aku bisa berpikir kalau mas Deni akan mencium ku , kotor sekali otak ku " . Aku memukul kepala ku dengan bantal yang sedari tadi aku pegang .


Perlakuan mas Deni tadi membuat jantung ku berdegup lebih kencang .


" Kalau dia lakukan itu lagi bisa copot beneran jantung ini " .


Tidak ada lagi waktu untuk memikirkan hal tersebut , kami sudah sah menjadi suami istri jadi hal semacam itu sudah pasti halal dan pasti akan kami lakukan , entah mas Deni yang mendahului atau aku yang melakukannya .


" Eits , apa - apaan ini kenapa aku jadi sibuk mikirin hal kayak gini sih " .


Usai sholat , membersihkan kamar dan merapikan diri , aku melirik mas Deni juga tampak sudah selesai dengan aktifitas nya .


" Fir , sudah siap turun ? " . Tanya mas Deni yang mengejutkan ku sebab sedari tadi kami saling diam dan juga berkutat dengan aktifitas masing - masing .


" Ma maksud nya mas ? " .


Mas Deni mendekati ku dia menempel kan punggung telapak tangan nya ke kening ku .


" Enggak demam , wajah nya juga gak pucat tapi kenapa loading ya di ajak bicara nya ? " .


Mata ku melotot , kening ku juga mengernyit sebab tidak tahu arah pembicaraan nya .


" Sudah sudah ayo turun , cacing di perut ini sudah demo dari tadi ". Seloroh nya sambil menautkan jemari nya ke jemariku dan menggandeng ku hingga ke lantai bawah .


Setiba nya di bawah kami di sambut dengan seloroh keluarga ku .


" Ciyeee .. basah basah basah seluruh tubuh .. rambut basah , wangi bunga , aduh .. ada tragedi istimewa nih semalam " .


Ku lirik rambut mas Deni memang tampak basah tertata rapi . " Eh rambut mas Deni memang aku beri serum rambut tadi sebab kering kelamaan di ruangan ber AC . Aku membela diri .


Nata budhe mengerling pada ku dan melihat ke mas Deni . " Masa sih ? " . Budhe makin meledek dan tidak mempercayai yang aku ucapkan .


Mas Deni tampak kikuk mendengar candaan keluarga ku .


Aku menarik pelan tangan mas Deni dan mempersilahkan duduk di kursi meja makan .

__ADS_1


" Maaf ya mas sudah buat ndak nyaman , abaikan saja gurauan mereka " . Aju sengaja mengeraskan suara dan di balas mas Deni dengan senyuman .


Budhe dan yang lain nya tertawa berbarengan . Sungguh mereka benar - benar menggoda kami .


__ADS_2