
Hati ku berdegup kencang , untuk pertama kali nya aku melihat dari dekat wajah istri ku dengan tanpa memakai hijab .
Dulu saat masih kerja di kios dan belum memakai hijab memang sudah terlihat kalau dia cantik tapi sekarang aura kecantikan nya seakan makin terpancar .
Entah sejak kapan Firma sudah ada di atas tempat tidur bahkan aku tidak menyadari nya .
" Ngapain liatin aku kayak gitu , sana buruan mandi bersihin diri terus ... " . Firma melempar kan bantal pada ku .
" Terus aku dapat hadiah kan ? " . Sela ku yang membuat mata nya makin melotot .
" Sudah sana cepetan mandi ! " . Firma melempar ku lagi dengan bantal lain nya .
Selesai mandi aku bergegas mendekati Firma , ku lihat di memegang hape ku dan fokus mengotak atik nya .
" Aku akan transparan jadu gak ada yang aku sembunyikan pada mu " . Aku berusaha meyakinkan nya .
" Kenapa , gak terima kalau aku liat - liat hape nya ? , nih ambil ! " . Firma melemparkan nya pada ku dan aku mengambil nya .
" Silahkan cek saja hape nya gak pa pa kok " . Aku menyodorkan kembali ponsel ku .
" Cewe bule itu siapa , istimewa banget ya ampe aku yang jadi istri mas aja mas cuekin dan terus sibuk ngobrol sana sini bahkan gak ngenalin ke aku " .
" Dia temen ku kuliah , aku juga gak tau dia kok tau alamat rumah kamu dan hadir di pernikahan kita , aku tadi lupa menanyakan nya , nanti aku tanyakan " .
Aku menjawab dengan pengharapan supaya Firma mau mengerti , tapi justru mata nya malah makin melotot .
" Ooh mas masih berharap bisa ketemu dia lagi dengan alasan pertanyaan itu ? " .
Tampak sekali Firma merasa kesal kemudian dia membenamkan tubuh nya di dalam selimut .
Aku mendekati nya dan berbisik , " Mas bisa dapat kan moment spesial nya malam ini kan ? " .
" Maaf mas aku masih kesal sama mas , suruh siapa mas merusak hari bahagia ku " .
Akhir nya aku harus merasa kecewa , aku gagal membobol gol ke gawang .
POV. FIRMA
__ADS_1
Aku terbangun karena merasa kegerahan , aku melihat di sebelah ku mas Deni juga berkeringat , di wajah nya banyak buliran keringat .
Aku mengibas kibaskan kaos ku supaya sedikit mendapat kan angin , ku lirik mas Deni juga terbangun dia mencari - cari remote pendingin ruangan yang entah ada di mana .
Aku juga berusaha membantu nya mencari karena badan ku rasa nya sudah sangat lengket , jadi tidak percaya diri kalau harus berdekatan dengan mas Deni .
" Aku buka jendela aja biar ada angin yang masuk ya mas ? " . Tanya ku sembari berjalan ke arah jendela dan di jawab dengan anggukan kepala nya .
Sayup - sayup terdengar adzan subuh berkumandang , angin menerobos masuk saat jendela terbuka .
" MasyaAllah sejuk sekali angin subuh ini " .
Saat aku membalikkan badan , ku temui mata mas Deni memandangi ku . Aku menjadi salah tingkah .
" Maaf mas aku mandi dulu ya , badan ku sudah lengket " .
Aku segera berlari ke kamar mandi untuk menyelamat kan diri dari penglihatan mas Deni .
Ada yang mengatakan bahwa mata adalah jendela hati , dari mata maka hati seseorang bisa di ketahui entah sedang marah , sedang sedih , sedang bahagia ataupun sedang mencari tahu sesuatu dan sebagai nya .
Begitu juga dengan tatapan mas Deni seolah menyampaikan sesuatu pada ku yang membuat aku juga tersengat api asmara .
Mendengar pintu kamar mandi terbuka mas Deni langsung bertanya pada ku , " Sudah selesai Fir mandi nya ? " .
Aku yang masih terperanjat melihat tubuh nya tapa kaos yang dia pakai sebelum nya tidak segera menjawab .
" Fir ? " . Tanya mas Deni lagi .
" Mm anu , eh sudah mas , mas Deni kok ndak pake baju ? " . Tanya ku tergagap .
" Gerah Fir aku juga mau mandi " . Jawab nya seraya berlalu dari hadapan ku dan masuk ke kamar mandi .
" Kamu terganggu dengan ini ? " . Mas Deni mengelus dada dan perut nya .
Mas Deni mendekat ke arah ku , aku memejam kan mata sampai akhir nya aku merasakan hidung mas Deni menyentuh hidung ku .
Aku memberanikan diri membuka mata , mas Deni tertawa dia mencubit hidung ku .
__ADS_1
" Berharap terjadi sesuatu yang lebih ya , ternyata liar juga pikiran mu Fir " . Mas Deni mengejek ku sambil melewati ku menuju kamar mandi yang tentu saja membuat ku sangat malu .
" Sial , kenapa aku bisa berpikir kalau mas Deni akan mencium ku , kotor sekali otak ku " . Aku memukul kepala ku dengan bantal yang sedari tadi aku pegang .
Perlakuan mas Deni tadi membuat jantung ku berdegup lebih kencang .
" Kalau dia lakukan itu lagi bisa copot beneran jantung ini " .
Tidak ada lagi waktu untuk memikirkan hal tersebut , kami sudah sah menjadi suami istri jadi hal semacam itu sudah pasti halal dan pasti akan kami lakukan , entah mas Deni yang mendahului atau aku yang melakukannya .
" Eits , apa - apaan ini kenapa aku jadi sibuk mikirin hal kayak gini sih " .
Usai sholat , membersihkan kamar dan merapikan diri , aku melirik mas Deni juga tampak sudah selesai dengan aktifitas nya .
" Fir , sudah siap turun ? " . Tanya mas Deni yang mengejutkan ku sebab sedari tadi kami saling diam dan juga berkutat dengan aktifitas masing - masing .
" Ma maksud nya mas ? " .
Mas Deni mendekati ku dia menempel kan punggung telapak tangan nya ke kening ku .
" Enggak demam , wajah nya juga gak pucat tapi kenapa loading ya di ajak bicara nya ? " .
Mata ku melotot , kening ku juga mengernyit sebab tidak tahu arah pembicaraan nya .
" Sudah sudah ayo turun , cacing di perut ini sudah demo dari tadi ". Seloroh nya sambil menautkan jemari nya ke jemariku dan menggandeng ku hingga ke lantai bawah .
Setiba nya di bawah kami di sambut dengan seloroh keluarga ku .
" Ciyeee .. basah basah basah seluruh tubuh .. rambut basah , wangi bunga , aduh .. ada tragedi istimewa nih semalam " .
Ku lirik rambut mas Deni memang tampak basah tertata rapi . " Eh rambut mas Deni memang aku beri serum rambut tadi sebab kering kelamaan di ruangan ber AC . Aku membela diri .
Nata budhe mengerling pada ku dan melihat ke mas Deni . " Masa sih ? " . Budhe makin meledek dan tidak mempercayai yang aku ucapkan .
Mas Deni tampak kikuk mendengar candaan keluarga ku .
Aku menarik pelan tangan mas Deni dan mempersilahkan duduk di kursi meja makan .
__ADS_1
" Maaf ya mas sudah buat ndak nyaman , abaikan saja gurauan mereka " . Aju sengaja mengeraskan suara dan di balas mas Deni dengan senyuman .
Budhe dan yang lain nya tertawa berbarengan . Sungguh mereka benar - benar menggoda kami .