
Ada banyak sekali hal tidak masuk akal yang di alami oleh Firma . Dari mulai beberapa kali seperti melihat bayangan manusia di sekitar tempat tinggalnya sampai bermimpi ketemu dengan kerabat yang sudah meninggal dunia .
" Apa yang terjadi sama diriku ini , mungkin aku memang harus istirahat sehari atau dua hari " . Firma bermonolog saat lagi - lagi dia melihat sosok gelap di dapur padahal masih jam tiga sore .
" Dek ! dek ! " . Agus berteriak dari luar rumah yang baru saja pulang dari kantor .
" Kok tumben mas Agus sudah pulang biasanya jam 5 baru nyampe rumah " . Pikir Firma .
" Kita pulang ke kampung sekarang dek , tadi dapat kabar mbah meninggal " . Agus memberitakan tentang kematian nenek satu - satunya yang masih hidup dan itu pun ibu kandung dari pak Samiun mertua Firma .
" Innalillahi wa inna ilaihi raji'un .. iya mas saya siapin baju dulu " .
Setelah menyiapkan baju ganti untuknya , suami dan anaknya , Firma ijin keluar sebentar mumpung Agus sedang mandi . Firma pergi ke rumah pemilik kos bahwa dia pulang kampung 3 hari karena nenek suaminya meninggal . Sebetulnya dia tidak tahu akan di ajak inap di sana berapa lama oleh suaminya , dia hanya memperkirakannya saja .
" Iya mbak gak pa pa kebetulan adik saya pas libur juga kuliahnya " .
" Terima kasih banyak bu " . Firma segera berpamitan sebab tidak bisa berlama - lama takut suaminya marah atau curiga .
Agus sama sekali tidak di beri tahu nya tentang pekerjaan itu sebab dia tahu kalau dia menceritakan nya pada suaminya yang ada nanti malah tidak akan dapat uang belanja lagi . Agus begitu orangnya jika tahu Firma bekerja dia pasti berpikir Firma punya uang yang banyak dan tidak perlu di beri uang belanja .
" Sudah siap mas " . Firma memberitahu suaminya .
" Kita berangkat sekarang , motor di titipkan di terminal aku lagi capek kalau harus motor an " . Dalam hati Firma merasa tenang itu artinya dia juga bisa tidur di perjalanan dan yang penting dia bisa duduk dengan bersandar daripada harus di bonceng naik motor .
" Iya mas " . Jawab Firma sembari memakaikan jaket pada anak kesayangannya .
" Ibu tadi ada mbah " . Angkasa menunjuk ke arah luar rumah tepat di pohon mangga yang tinggi .
" Di mana sayang ? " .
" Di situ mbah bilang suruh pake payung " .
" Tapi kan ndak hujan sayang ? " . Firma melihat mata anaknya seperti memohon untuk di bawakan payung .
" OK ayo kita ambil payung di dalam " . Ujar Firma yang membuat anak gemoy nya itu bersorak .
__ADS_1
'' Ibu ayo nanti mbah pergi " .
Setelah di luar rumah , " Ibu mbah pergi " .
" Iya sayang biar saja ya , nanti kan kita ke kampung ke rumah mbah " .
Di perjalanan Angkasa berceloteh terus bernyanyi dan sesekali tertidur . Firma sangat terhibur dengan keceriaan Angkasa . Beda lagi dengan Agus , di sepanjang jalan dia tidak memperdulikan interaksi anak dan istrinya , dia hanya bermain ponsel dan tidur saja .
Sesampainya di kampung halaman Agus bergegas masuk ke dalam rumah neneknya , semua keluarga yang rumahnya lebih dekat , anak , cucu bermalam di rumah duka .
" Gus mana mas mu kok belum datang ? " . Tanya bu Imah mencari - cari anak kesayangannya . Kakak Agua bekerja di Surabaya sejak dia masih kuliah bahkan menikah pun istrinya di bawa ikut tinggal di sana .
" Gak tau bu kirain malah sudah pulang duluan , mungkin naek travel " . Agus menduga - duga dia tahu betul kalau kakaknya tidak mungkin naik bis kalau berangkat dengan istri dan anaknya bahkan dia sering menyewa mobil demi biar istrinya tidak capek dan lebih bisa leluasa jika tidak satu kendaraan dengan orang lain .
" Gus ibu minta uang buat tahlil besok sampai 7 harinya , ibu malu kalau gak ngasih uang semua saudara bapakmu patungan 1 juta an " .
Agus mengeluarkan sejumlah uang yang bu Imah minta dan bu Imah pun buru - buru memasukkan uangnya ke dompet yang selalu dia bawa .
Keesokan harinya tepat jam 7 pagi jenazah siap di makamkan . " Ibu ada mbah di sana ! " . Tunjuk Angkasa ke arah keranda .
" Mbah berdiri di situ bu , mbah liat adek sama ibu " .
" Sayang kita bacakan Al Fatihah yuk , adek kan sudah hafal " . Angkasa menganggukkan kepala nya .
Jenazah siap di berangkatkan setelah di sholati , tetapi Firma tidak ikut ke makam sebab makam cukup jauh dan kasihan anaknya .
" Ibu mbah di bawa kemana ? " .
" Mbah di bawa ke rumah baru mbah sayang , kapan - kapan kita kunjungi mbah di rumahnya ya ? " .
" Mau mau ! " .
Beberapa saat kemudian terdengar suara bisik - bisik di dalam rumah mbah . " Sepertinya masih ada orang di dalam , berarti bukan cuma kami berdua yang ada di rumah ini " .
" Sayang jangan bersuara ya , kita main petak umpet OK ? " .
__ADS_1
" Ok ! " . Angkasa menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O .
Firma menggendong Angkasa menghadap dadanya seperti memeluk , Angkasa pun menyandarkan kepalanya di bahu Firma .
Semakin Firma mendekat ke sumber suara , semakin jelas pula apa yang telah mereka perbincangkan .
" Kalau gitu kamu masuk dan ambil sekarang , gak akan ada yang menyadarinya asal kita segera bergerak ! " . Suara tak asing itu memang suara bu Imah tapi siapa yang ada di hadapan bu Imah sungguh Firma tak mengenalinya .
" Tapi gimana kalau ada yang melihatnya bu ? " . Kata perempuan itu yang di taksir Firma lebih tua darinya .
" Sudahlah jangan jadi penakut ! " .
Takut ketahuan Firma segera kembali ke ruang tamu bersama anaknya yang ternyata sudah terlelap dalam pelukannya ..
" Kamu capek ya sayang ? " . Firma mengusap kepalanya yang di tumbuhi rambut - rambut lembut dan hitam .
" Apa yang harus aku lakukan jika terjadi sesuatu di rumah ini sedangkan aku juga ada di sini " . Firma bermonolog dengan hatinya sendiri .
Belum selesai Firma mengatur rencana apa yang harus di lakukannya , tubuhnya tiba - tiba terasa dingin dia merasa melayang dan akhirnya tidak sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya .
" Kita bawa kemana bu mbak Firma nya ? " .
" Angkat ke situ saja di kursi panjang , sedangkan anaknya taruh saja di ranjang kiri itu " . kata bu Imah sambil menunjuk ranjang yang di maksud .
Kaki Firma terasa menghangat dari ujung kaki dan akhirnya naik hingga ke tangannya . " Mbak Firma ! mbak ! " . Seseorang mengusap - usap telapak tangan dan kaki Firma bergantian sembari memanggil - manggil namanya .
" Gimana ini budhe mbak Firma belum sadar juga " .
" Terus usap dengan minyak kayu putih sampai sadar " . Kata bu Retno .
" Ibu bangun bu ! kata mbah ibu harus bangun gak boleh bubu lama " . Angkasa menangis di sebelah Firma .
Pelan - pelan Firma membuka matanya , " Mbak .. mbak Firma sudah sadar ? " .
Firma mengedipkan pelan matanya tanda dia sudah mendengar dan bisa merespon orang yang memanggilnya .
__ADS_1