
Firma sudah seharian berada di rumah mama Deni . Dia juga sudah menyiapkan segala kebutuhan mama Deni biar saat di tinggal tidak kesulitan memerlukan apa - apa .
" Assalamu'alaikum " .
" Wa'alaikum salam " . Firma terbata menjawab salam dari Deni . Firma memalingkan mata nya ke arah bawah untuk menghindari kontak mata dengan Deni .
" Fir , kamu sudah mau pulang ? " .
Firma mengangguk kan kepala nya pelan .
" Ini aku tadi beli martabak telur dan manis , kamu bawa pulang " .
" Kami cuma bertiga mas , itu aja Angkasa masih kecil ndak mungkin abisin sebanyak ini " .
Deni hanya tersenyum dan itu justru membuat Deni semakin terlihat rupawan .
" Eh makasih banyak mas tapi saya jadi ndak enak merepotkan mas Deni seperti ini " .
Lagi - lagi Deni hanya tersenyum . Bagi Deni membelikan makanan seperti ini bukan lah hal besar . Namun tetap saja Firma merasa tidak enak dalam hati .
" Sudah anggap saja itu hadiah kecil dari saya . Oh ya tadi saya gak sengaja liat kamu keluar dari rumah sakit , Apa ada yang sakit ? " .
" Bapak saya mas , kecelakaan motor " .
" Bagaimana kondisi beliau sekarang ? "
" Tadi saya menghubungi adik saya tapi belum tersambung mas , terakhir tersambung katanya adik bapak mengalami luka yang cukup serius dan harus di operasi secepat nya .
Firma masih menunduk tidak berani menatap Deni . Pikiran nya masih frustasi seperti tadi .
" Lalu kamu akan ke sana lagi kapan ? " .
" Malam ini mas " .
" Hmmm ... Boleh aku lihat ? " .
Firma terdiam dia terkejut Deni benar mau ikut atau hanya bercanda saja .
" Maaf saya hanya bercanda saja " .
" Maaf kalau boleh tau mas Deni jam segini kok sudah pulang ? " .
" Oh ya tadi saya mau menemui sahabat saya dia di sekitar sini jadi sekalian lihat mama dulu " .
Tak berapa lama ponsel Deni berdering dan wajah nya begitu masam .
__ADS_1
" Maaf saya terima telpon dulu ya " . Deni pamit sebentar untuk menjawab panggilan telepon dari ponsel nya .
Setelah beberapa menit kemudian Deni kembali menghampiri Firma .
" Maaf barusan telepon dari teman " .
" Maaf mas apa boleh kami pulang sekarang sebab saya bergantian sama ibu untuk jaga bapak " .
" Oh OK silahkan , apa perlu di antarkan ? " .
" Ndak perlu mas , saya kan sudah bawa motor mas Deni " . Tolak Firma sopan . Sebetul nya Firma tidak menaruh curiga pada maksud Deni , dia tahu Deni orang yang baik . Bahkan dari gaya bahasa nya juga sopan .
Firma dan Angkasa sudah beberapa waktu yang lalu meninggal kan rumah orang tua Deni tapi Deni masih saja duduk di ruang tamu sambil merenung kan sesuatu .
°°°°°°°
Setelah sholat Maghrib Firma dan adik nya tengah berdiskusi soal biaya operasi bapak mereka .
" Gimana dek tabungan mbak sudah abis buat perawatan yang kemarin dan hanya cukup untuk tebus obat saja " . Ucap Firma penuh rasa putus asa .
" Aku juga bingung mbak , jual motor ku aja juga belum cukup untuk biaya operasi bapak " .
Mereka duduk sementara di teras mushollah sembari berdiskusi .
Tak lama kemudian ponsel Firma berdering . " Sebentar mbak terima telepon dulu " .
" Iya mbak tapi jangan lama - lama ya soal nya aku masuk malam hari ini " .
Firma mengangguk kan kepala nya kemudian bergegas meninggalkan mushollah .
Dia menuju kafe dekat dengan rumah sakit .
" Fir ,sini ! " . Deni melambai kan tangan nya .
" Silahkan duduk ! " . Deni mempersilahkan Firma .
" Ngomong - ngomong ada apa mas Deni memanggil saya di sini ? " .
" Kamu pesan apa Fir , Deni mengalihkan dengan pertanyaan .
" Ndak usah mas Deni makasih tawaran nya " .
" Begini , sebenarnya saya tadi ngikutin kamu dan mendengar kan juga pembicaraan mu dengan adik kami di mushollah " .
Firma terkejut dengan pernyataan Deni tersebut .
__ADS_1
" Jadi begini bisa kamu kirim kan nomer rekening mu ? "
" Memang buat apa rekening saya mas ? " .
" Saya akan transfer uang 30 juta di rekening kamu , kalian pake saja dulu untuk tambahan biaya operasi bapak kalian " .
" Apa ?? " .
Deni hanya tersenyum pada Firma .
" Tapi kami pasti akan sangat lama mas mengembalikan nya , bahkan ndak tau sampai berapa lama nya ".
" Sekalipun tidak di kembalikan juga gak masalah , yang terpenting operasi bapak kalian lancar dan bapak segera sehat kembali " .
Sesantai itu Deni memberi kan uang pada Firma untuk pengobatan bapak nya . Bahkan uang sebesar itu tidak berarti bagi nya . Di mata nya mengembalikan senyum Firma dan keluarga yang dianggap nya penting .
" Oh ya kata bapak bahwa bapak tidak akan membiarkan siapapun menyakiti putri nya , kalau boleh tau siapa yang telah menyakiti putri nya ? " .
Firma ingin mencerita kan yang di ketahui bapak nya tapi dia ingat bahwa cerita rumah tangga nya bukan lah konsumsi cerita atau dongeng untuk orang lain .
" Saya ndak tau mas " . Firma menjawab sekena nya tapi Deni memicingkan mata nya seolah tahu ada yang Firma sembunyi kan .
" Firma , ngapain kamu di sini ? " . Tak di duga - duga dia bertemu suami nya di kafe ini dan di belakang nya ada Liya yang tersenyum licik .
Semua orang menatap Agus kemudian melihat ke arah Firma dan Deni .
" Mas Deni maaf saya undur diri dulu , terima kasih banyak bantuan nya " . Firma segera berdiri membungkuk kan tubuhnya dan pamit pada Deni , dia tidak ingin ada keributan di tempat umum seperti itu jadi Firma memilih unyuk meninggal kan kafe tersebut dan mengabaikan suami nya yang telah di gandeng Liya .
Ada rasa perih dalam hati Firma saat mengetahui sendiri bahwa suami nya tidak malu menunjuk kan kemesraan nya dengan Liya di depan umum .
" Firma !! ". Agus kembali berteriak akan tetapi Firma sudah berjalan dengan cepat keluar dari kafe dan menuju rumah sakit tempat bapak nya di rawat .
Sampai lah Firma di halaman rumah sakit . " Tega - tega nya mas Agus malah bersenang - senang sama pelacur itu " . Firma merasa geram dengan kelakuan suami nya yang semakin melewati batas .
Firma menuju ruang konsultasi untuk mengetahui kelanjutan penangan bapak nya sebelum dan sesudah operasi .
Setelah mendapat kan yang dia ingin ketahui , Firma menuju ruang administrasi untuk mengurus jadwal operasi bapak nya .Semua biaya perawatan dan operasi segera di bayar kan oleh Firma .
" Baiklah sekarang sudah selesai ya bu , nanti akan kami pindahkan kamar dan kami informasi kan jadwal operasi atas nama pasien pak Royani " .
" Firma " . Tiba - tiba di belakang nya ada Deni yang memanggil nya .
" Maaf saya ada perlu sedikit jadi saya pamit pulang dulu ya , maaf tentang di kafe tadi kalau suami kamu salah paham . Tapi saya harap kamu mau bercerita tentang yang kamu alami sebab saya juga melihat dia di gandeng wanita lain di sana tadi " .
" Jangan di pikir kan mas , saya baik - baik saja . Terima kasih banyak segala bantuan nya " .
__ADS_1
Setelah nya Deni beranjak meninggal kan Firma yang masih mematung memikir kan bagaimana Deni bisa tahu kalau yang di kafe tadi adalah suami nya .