Masa Lalu Suamiku

Masa Lalu Suamiku
Bab 37 Bu Imah Iri


__ADS_3

Usai makan Firma ijin mandi dulu pada bu Retno karena badannya terasa lengket terkena panas , debu dan keringat .


" Budhe maaf bisa saya nitip bayi saya lagi , saya pengen mandi budhe " .


" Sudah gak pa pa di tinggal aja , bayinya juga anteng , sana buruan biar gak gatal - gatal takutnya nanti malah kena bayi mu kan kasian '' .


Firma segera mempercepat langkahnya ke kamar mandi dia takut bayinya terbangun dan menangis karena sudah satu jam bayinya tertidur dan belum minum asi nya .


" Mbak Firma kok cepat mandinya ? " . Tanya tetangga yang membantu memasak untuk acara Aqiqah .


" Ngge budhe takut bayi saya nangis " .


" Mbak Firma maaf saya mau bicara sebentar tapi jangan di sini " . Ucap tetangga berbisik - bisik sambil berjalan ke samping kandang sapi .


" Maaf budhe ada apa kok ajak saya bicara di sini ? " .


" Sebelumnya maaf ya mbak bukannya saya ini kok ikut campur urusan keluarga mbak Firma , saya cuma berharap mbak Firma lebih hati - hati ya sama bu Imah dan semua anaknya termasuk suami mbak Firma " .


" Tapi ada apa ya budhe ? " .


" Kambing kemarin dua ekor itu harganya 3,5 juta mbak karena itu beli di suami saya " .


" Tapi untuk apa mereka bohong budhe ? " .


" Saya gak tau mbak , untuk belanja semuanya ini sudah di tanggung budhe Retno juga " .


" Tapi tadi ibu minta uang ke mas Agus budhe ? " .


" Fir ,, Firma ?? " . Bu Imah berteriak mencari Firma yang ternyata di kamar mandi tidak ada .


" Biar saya yang keluar mbak , mbak Firma nanti saja kalau bu Imah sudah pergi " . Komando tetangga itu dan Firma hanya menganggukkan kepalanya .


Selang lima menit Firma merasa aman akhirnya dia keluar dan segera menuju ke kamar . Bayinya maaih tertidur pulas di pangkuan bu Retno .


" Sudah sholat nduk ? " . Tanya bu Retno pada Firma .


" Sudah budhe , matur nuwun ngge budhe jadi merepotkan budhe " .

__ADS_1


" Cuma gendong aja , gimana nduk apa kamu bahagia ? " .


Firma hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya . Bu Retno melanjutkan kalimatnya .


" Kamu yang sabar ya nduk namanya rumah tangga itu pasti ujiannya sangat besar , ada yang di uji gak bisa punya anak , di uji keluarganya sakit , di uji suaminya yang selingkuh bahkan di uji mertuanya yang suka membuat masalah " .


Firma mengangguk dan tetap mendengarkan dengan seksama .


" Budhe sedikit tau dengan yang kamu hadapi nduk tapi budhe gak bisa berbuat apa - apa " .


" Budhe maaf tapi kenapa budhe membiayai kebutuhan belanja untuk aqiqah bayi saya ? " .


" Budhe ini cuma ngasih sedikit hadiah buat bayimu nduk , budhe ndak bermaksud menghina kamu atau suamimu tidak mampu tapi inilah cara budhe menyambut bayi kamu yang telah lahir " .


" Matur nuwun ngge budhe tapi pemberian budhe ini sangat banyak gimana cara saya mengembalikannya nanti ? " .


" Gak usah mikir itu nduk , pikirin aja bagaimana kamu sama anakmu bisa selalu sehat " .


" Budhe orang baik , sehat terus ngge budhe " .


" Aamiin .. kamu sama bayimu juga ya nduk " .


" Fir ! anak kamu di pangku aja selama acara biar aman ! " . Bu Imah mengingatkan Firma yang baru saja mengganti popok bayinya .


Firma tidak paham maksud kalimat ibunya tetapi Firma tetap menurutinya , bahkan dia dan bayinya tidak boleh berada di dalam kamar .


" Sini nduk duduk di sini ! " . Bu Retno memanggil Firma untuk duduk di sebelahnya .


" Duduk di sini saja ya nduk , kalau nanti ada yang memanggil entah itu ibu bapak mertuamu , suamimu bahkan budhe sendiri , jangan beranjak dari tempat duduk ini , tetap fokus baca istighfar sampai acara selesai " .


Firma meskipun penasaran tapi dia tidak berani bertanya , yang dia tahu bahwa budhenya sedang melindunginya saja .


" Fir ! Firma ! " . Bu Imah memanggil Firma dari pintu ruang tengah yang menghubungkan dengan koridor menuju dapur .


" Jangan di hirau nduk ingat pesan budhe tadi " . Bu Retno menepuk paha Firma untuk menyadarkan Firma .


Firma terkejut kemudian melihat ke arah pintu lagi tapi tidak ada siapa - siapa . Firma menyusuri ruangan satu persatu dengan mata nya untuk mencari keberadaan ibu mertuanya .

__ADS_1


Tepat di sudut ruang tengah dekat kamar bu Imah , bu Imah kembali memanggilnya , kali ini lebih keras panggilannya . Firma masih mengingat pesan budhe nya beberapa saat kemudian panggilan itu tidak ada lagi dan sosok ibu mertuanya hilang begitu saja .


Acara berjalan dengan lancar , dan setelah acara Firma di dekati oleh bu Retno .


" Nduk terima kasih sudah menuruti yang budhe ucapkan " .


" Tapi budhe kenapa bisa ada hal seperti tadi ? " .


" Itu hal biasa terjadi di sini nduk , untung kamu nurut yang di bilang budhe " .


" Tadi ibu memanggil dua kali budhe , saya sempat mau berdiri kalau ndak ingat pesan budhe " .


" Bahaya nduk kalau sampe di ikuti panggilan tersebut , lain kalai kalau ada acara seperti ini harus tetap fokus ya jangan ngelamun perbanyak istighfar " .


" Ngge budhe " .


" Oya nduk budhe punya sesuatu buat kamu " . Bu Retno menyerahkan benda yang di bungkus kain dan plastik .


" Maaf ini apa ngge budhe ? " . Tanya Firma merasa takut . Bu Imah yang sejak tadi memperhatikan Firma dan bu Retno pun akhirnya mendekat karena ingin tahu apa yang di berikan bu Retno pada Firma .


" Ni hadiah buat kamu nduk , waktu kalian menikah kan budhe sakit ndak bisa hadir di acara kalian , kamu buka saja " .


Firma membuka plastik dan kain yang di jadikan pembungkusnya . Bu Imah berteriak pelan , " astaga itu bagus banget , mbak Retno ngapain ngasih Firma kalung sebagus itu , pasti mahal banget ya mbak ? " . bu Imah yang memang silau akan harta merasa iri dengan apa yang di berikan kakak tirinya itu kepada Firma .


" Untuk harga memang lumayan tapi bukan itu yang penting nduk , budhe harap kamu bisa menjaga pemberian budhe , dulu budhe juga mendapatkannya dari budhenya budhe , sekarang budhe berikan kalung dan liontinnya buat kamu nduk " .


" Mbak kok di kasihkan Firma , keponakan mbak akan ada Rina yang asli keponakan kenapa di kasihkan Firma yang jelas - jelas orang lain " . Bu Imah masih tidak bisa menerima yang di lakukan oleh bu Retno .


" Firma pantas menerimanya aku yakin Firma bisa menjaganya , Firma perempuan yang baik dan tulus , dia sudah melahirkan dan bayi yang dilahirkan laki - laki , jadi Firma memenuhi persyaratan menerima kalung dan liontin itu " .


" Tapi orang lain loh itu mbak ? " .


" Sudahlah Imah buat apa kamu merasa kehilangan gitu , Firma itu anak menantumu harusnya kamu bangga anak menantumu mendapat hadiah yang layak dan pantas seperti itu , aku juga ikhlas kok ngasihnya " . Bu Retno berkata dengan tegas supaya bu Imah tidak protes lagi .


" Matur nuwun ngge budhe , saya akan selalu menjaganya " .


" Sama - sama nduk " .

__ADS_1


Sepanjang malam bu Imah masih merasa kesal dan terus menggerutu karena tidak punya kesempatan memiliki kalung dan liontin bermata hijau dari bu Retno .


__ADS_2