
" Selamat sore kami dari pihak Rumah Sakit Sehat Selalu , apa betul yang kami hubungi ini keluarga saudara Boy ? " .
" Ya selamat sore , betul ada apa ya mbak ? " .
" Kami ingin memberitahukan bahwa saudara Boy Rizkiawan telah mengalami kecelakaan tunggal dan di rawat di Rumah sakit kami , di mohon ada anggota keluarga yang datang kemari untuk menyelesaikan registrasi dan administrasinya " .
" Terima kasih saya saudaranya yang akan segera ke sana , bisa tolong di catatkan alamatnya karena saya baru datang dari kota lain jadi kurang paham daerah sini , baiklah , tolong langsung di beri perawatan sebaik mungkin ! " .
Setelah menutup sambungan telepon , saudaranya Boy langsung memberitahukan pada orang tua Boy bahwa Boy baru saja mengalami kecelakaan dan sudah di bawa ke rumah sakit .
" Budhe ikut ya , pakde jangan di beri tau dulu biar fokus sama terapinya " . Ujar mama Boy pada sepupunya .
" Iya budhe sebentar ambil baju ganti buat Boy dulu , tas Boy yang biasa saya pinjem di taruh mana budhe ? " .
" Sudah di cuci budhe simpan di lemari Boy yang paling bawah " .
Sepupu Boy tanpa menunda lagi langsung beranjak ke kamar Boy menyiapkan yang sekiranya di butuhkan Boy di rumah sakit nanti .
" Budhe sudah siap ? " .
" Sudah ayo kita berangkat sekarang takutnya Boy butuh apa - apa kasihan dia sendirian " .
Sepupu Boy mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang mau bagaimana pun keselamatan mereka juga penting sekalipun telah mendapatkan berita buruk dari rumah sakit .
" Maaf suster kamar atas nama Boy Rizkiawan korban kecelakaan " . Tanya sepupu Boy pada petugas di rumah sakit .
" Sebentar ya pak saya cek dulu " .
Sambil menunggu suster jaga mengecek nama pasien , sepupu Boy yang bernama Boby itu tidak sengaja melihat seseorang yang tidak asing baginya . Dia melihat orang itu menuju ruang Kandungan Ibu dan Anak .
" Ini pak , pasien atas nama Boy Rizkiawan berada di Paviliun 1C , ruangannya ada di sudut kanan setelah taman " .
" Makasih suster , ayo budhe kita ke sana " .
" Dia ngapain ya keruangan tadi apa dia mengantar seseorang atau dia sendiri yang ada kepentingan di sana ? " . Boby memikirkan orang yang tidak sengaja dia lihat tadi .
__ADS_1
" Itu budhe ruangannya ! " . Tunjuk Boy setelah melewati taman seperti yang suster tadi bilang .
" Assalamu'alaikum ! Boy , naak ... gimana keadaanmu kenapa bisa begini ? " .
Boy yang masih terlelap tentu saja tidak bisa mendengar pertanyaan mamanya . " Boy masih tidur budhe biarkan aja dulu , mungkin tadi dia abis minum obat pereda nyeri " . Terang Boby sambil menuntun mama Boy duduk di sofa panjang dekat dengan ranjang Boy .
" Kasian Boy kenapa jadi kayak gini , lihat kakinya apa Boy masih bisa berjalan ? " .
" Sudah budhe kita berdoa aja , mudah - mudahan kaki Boy hanya luka ringan " . Mama Boy mengangguk pelan , dia hanya menangis saja sejak mendengarkan berita tentang Boy .
" Budhe tadi sudah makan belum ? " .
" Sudah budhe juga masih kenyang " .
" Saya turun dulu ya budhe mau nyari buah , budhe nitip apa ? " .
" Budhe mau minum air mineral saja nanti budhe ambil di lemari es itu " . Sambil menunjuk lemari es mini di samping nakas .
" Budhe kalau ada apa - apa telpon Boby ya ? " . Mama Boy menganggukkan kepalanya .
" Untuk berapa hari ? " .
" OK hati - hati di jalan , saya juga sedang di rumah sakit " .
" Baiklah , tolong di kirim saja datanya ! " .
Tidak lama kemudian sambungan telepon pun di putus oleh pihak yang menelepon Boby . Dia kembali membuka ponselnya dan menghubungi seseorang . " Selamat sore pak , tolong besok di handle dulu pekerjaan pak Nanang ya ! " .
" Iya pak , barusan pak Nanang menelepon saya katanya orang tuanya sedang sakit " .
" Baiklah , terimakasih selamat sore ! " .
Sementara di kampung halaman Nanang . " Le kamu kapan nikahnya tho le ?? " . Tanya ibu Nanang yang dari tadi menahan batuknya supaya Nanang tidak lebih khawatir .
" Iya bu nanti kalau sudah ketemu jodohnya pasti menikah kok , yang penting ibu sehat dulu aja " .
__ADS_1
" Kamu itu kok ya mesti gitu selalu ada aja alasannya kalau di suruh menikah , apa kamu mau ibu saja yang nyariin istri buat kamu le ? " .
" Ah terserah ibu aja lah lagian siapa yang mau sama bujang lapuk yang gak kaya ini ? " .
" Kamu jangan gitu le , di dunia ini masih banyak perempuan baik - baik yang mau nerima keadaan kita yang seperti ini , oiya le kamu ingat tetangga kita yang waktu kita masih kontrak rumah dulu ? "
" Yang mana bu ? " . Tanya Nanang karena memang lupa , mereka kontrak saja usia Nanang masih 8 tahun .
" Kamu gak ingat ya ? , gini aja besok temani ibu ke rumahnya ya , kita maen ke sana siapa tau bisa ketemu anaknya yang sekarang juga suda dewasa , seumuran kamu juga kok " .
" Sudah ibu fokus sama kesehatan ibu dulu ya ! " .
Nanang meminta ibunya yang sakit liver itu untuk segera istirahat setelah mengkonsumsi obat .
" Kenapa aku kepikiran Firma ya apa kabarnya , sudah 5 hari aku sama sekali gak tau kabar tentangnya " . Nanang bergumam sendiri sambil membolak balikan ponselnya , diam - diam Nanang memasang kamera CCTV kecil yang dia taruh 1 di teras rumah kontrakan Firma , 1 lagi di rumah kontrakannya sendiri menghadap rumah kontrakan Firma . Kedua kamera sudah terhubung di ponsel Nanang sejak 2 minggu yang lalu .
" Kenapa aku jadi gampang khawatir gini sih , apalagi yang aku khawatirkan istrinya orang lebih tepatnya istri temen sendiri sih " . Nanang bermonolog dengan dirinya sendiri .
Tanpa Nanang sadari dia memiliki rasa yang lebih pada Firma yang masih berstatus istri temannya si Agus . Seperti kebanyakan yang orang bilang bahwa cinta tidak memandang waktu , usia , rupa dan kasta .
Yang paling membuat pusing kepala Nanang adalah dirinya tidak bisa menahan kalau dia harus berhenti turut campur
" Nang ... bapak perhatikan dari tadi kok kamu melamun terus apa ada masalah dengan pekerjaanmu ? " .
" Mboten kok pak Nanang hanya pengen nikmati udara malam di sini aja , sudah lama Nanang ndak pulang jadi kangen sama suasana kampung yang kayak gini " .
" Cerita sama bapak kalau memang ada yang ingin kamu ceritakan Nang , meski begini bapak kan juga pernah muda , pernah hadapi permasalahan anak muda juga " . Bapak menepuk - nepuk bahu kanan Nanang .
" Bapak dulu gimana awalnya bisa ketemu sama ibu yang terus bisa ampe menikah ? " .
" Hemmm ... ibumu dulu itu sebetulnya hampir mau menikah sama orang lain Nang tapi bapak juga terlanjur mencintai ibumu , bapak gak pernah punya niat merebut ibumu , sehari sebelum menikah calon suami ibumu ketahuan bermesraan dengan perempuan lain di warung bahkan perempuan itu sudah hamil tapi belum di nikahi " .
" Terus bapak yang nikahi ibu ? " .
" Bukan , ibu kamu tetap menikah dengan calon suaminya karena kakek nenekmu malu kalau acara ibumu gak jadi nikah keesokannya " .
__ADS_1
" Tapi bukankah itu malah akan menyakiti hati ibu pak ? " .