Masa Lalu Suamiku

Masa Lalu Suamiku
Bab 20 Baju Hamil


__ADS_3

" Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! " . Gema takbir berkumandang di mana - mana tapi lebaran kali ini menjadi lebaran yang memilukan buat Firma , dia tidak bisa melaksanakan sholat idul fitri karena pendarahan kecil yang terjadi padanya .


Dia dan Agus tidak pergi ke rumah orang tuanya karena Agus tidak mungkin membawa Firma dalam keadaan sakit kemana - mana , dokter bilang Firma harus bed rest bahkan buang air kecil saja harus menggunakan pispot tapi Firma merasa risih dia memilih pergi ke kamar mandi kalau ingin menuntaskan hajatnya .


Pada orang tua dan mertuanya Firma dan Agus hanya bisa meminta maaf lewat telepon saja , mereka berjanji akan kunjungi orang tua dan mertua kalau Firma sudah sehat kembali .


Sebulan kemudian , " Apaan sih dek bangunin pagi - pagi gini ? " . Agus menggerutu padahal dia sendiri yang minta di bangunkan jam 7 pagi sedangkan ini sudah jam 11 .


" Mas katanya mau beliin daster ? " . Jawab Firma memelas , ya selama ini dia hanya punya baju atasan dan bawahan itupun kaos dan celana panjang , sedangkan usia kehamilannya sudah memasuki trisemester tapi dia belum juga memiliki baju hamil (daster) .


" Baju yang lama kan masih muat kenapa harus beli sih ? " .


" Kalau masih muat aku gak akan minta dibelikan mas .. " . Jawab Firma memelas , air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi .


Mendengar isakan Firma akhirnya Agus pun terpaksa segera bangun dan mandi . Karena Agus tipe orang yang mandinya hanya sebentar jadi Firma tidak perlu menunggu lama .


Di toko kain Firma memilih - milih kain yang nyaman buat dia pakai , dia sengaja tidak membeli daster yang sudah jadi karena tahu bahwa Agus tidak akan membelikannya lagi kelak , sedangkan dia butuh beberapa daster untuk dia pakai sehari - harinya .


" Mas .. warna ini bagus gak ? " . Tanya Firma pada suaminya .


" Bagus , tapi kayaknya ini lebih bagus deh ,, " . Agus menunjuk kain yang harganya 15 rbu per meternya padahal yang dipegang Firma sudah terbilang murah per meternya 25 ribu .


Firma merasa nelangsa masak iya dia harus pakai daster yang setipis dan mudah kusut seperti itu , demi menjaga hati suami , Firma mengiyakannya dan memilih dua motif yang per motifnya dia beli 2 meter .


Firma bermaksud menghemat karena uang belanja hanya diberi 1,5 juta saja itupun dipotong beli kain 60 ribu dan beli bensin .


Untungnya dia pernah mengikuti kelas menjahit jadi kalau untuk menjahit baju sendiri tentu sudah bisa , bahkan Firma juga pernah menjahit beberapa kain kebaya untuk dirinya sendiri .


Sesampainya di rumah Firma bergegas membuka lemari es , dia betul - betul dehidrasi . Agus memang keterlaluan jangankan membelikan Firma kue , makanan ataupun buah , bahkan sekedar air putih saja tidak di tawarkan olehnya .


" Kok di habisin airnya ? " . Agus yang tiba - tiba berada di belakang Firma berhasil membuat Firma terkejut .


" Ma maaf mas , aku haus banget " . Jawab Firma memelas .


Agus tidak menggubris ucapan Firma , dia berlalu begitu saja dengan wajah kesalnya .


Firma yang sudah ingin menjahit kain yang sudah di belinya segera menyiapkan perlengkapannya . Beruntung dia sempat membeli mesin jahit juga meskipun masih manual . Pikir Firma tak apalah bisa pelan - pelan nanti menggerakkan mesinnya yang penting dia bisa segera membuat dan memakai dasternya .


Dua hari Firma baru bisa menyelesaikan satu baju hamilnya karena keterbatasan tenaganya , dia sudah cepat merasa lelah jika duduk berlama - lama .


Tiba - tiba Firma merasa ingin sekali minum es buah yang ada rumput lautnya .

__ADS_1


" Mas .. aku pengen minum es rumput laut " . Firma memberanikan diri meminta pada suaminya .


" Dimana ada yang jualan siang - siang gini ? " .


" Di perempatan depan ada mas " .


" sudah di bilang gak ada ! " .


" Tapi mas kan belum lihat ke sana ? " .


" Kok ngeyel sih dek di bilang gak ada ?! " . Agus tetap tidak berusaha menuruti Firma bahkan untuk melegakan hati Firma dengan melihat sebentar ke perempatan . Dia masih sibuk dengan ponselnya sambil rebahan .


Firma yang hatinya tentu sangat sensitif karena bawaan perempuan hamil mayoritas begitu semakin nelangsa dan menangis di kamarnya .


" Ya bi ? jam berapa ? iya sekarang ke sana " .


Agus menerima telepon dari bibinya yang rumahnya ada di desa sebelah , setelahnya dia ke kamar mengambil kunci motor .


" Mas .. mau ke mana ? " . Tanya Firma berhati - hati .


" Mau ke tempat rental mobil " .


" Siapa yang mau nyewa ? " .


" Yang nganter siapa ? " .


" Aku lah siapa lagi ? " .


" Itu rencana sudah lama mas ? " .


" Sudah " .


" Kok mas nya gak bilang aku kalau di mintai tolong bibi nganter lamaran ? , itu ke luar kota kan ? " .


" Ya memangnya kenapa ? " .


" Mas itu suami aku loh kenapa gak ngomong duku tau - tau udah mau berangkat gitu aja " .


" Kan cuma nganter aja " .


" Tapi itu ke luar kota mas butuh ber jam - jam sekali berangkatnya , apa mas gak mau di khawatirkan istri ?? " .

__ADS_1


" Gak usah lebay deh ! " .


" Mas gak punya perasaan banget , istri di suruh ke nana - mana pamit tapi suami se enaknya kalau mau ke sana ke mari " .


Agus bukannya mendengarkan Firma malah langsung nyelonong begitu saja ke luar rumah dan men starter segera motornya .


Firma malah makin menangis sejadi - jadinya , dia merasa selalu di perlakukan semaunya Agus padahal dia hamil anak Agus , dia ingin di belikan es rumput laut Agus enggan berangkat tapi giliran bibinya menyuruhnya langsung segera berangkat .


" Assalamu'alaikum .. neng Firma .. " . Bu Romlah mengetuk pelan pintu belakang rumah kontrakannya .


" Waalaikum salam , bentar bu .. " . Firma membasuh mukanya terlebih dulu sebelum membuka pintu .


" Neng Firma lagi tidur ya ? maafin ibu ya neng , ibu cuma nganterin ini kayaknya masih muat buat neng Firma " .


" Ini apaan bu ? kayak baju " .


" Iya ini daster , penghuni baru tuh tadi ke rumah ibu katanya dia bantuin saudaranya yang jualan daster , dia nya kasihan terus di bawa ke rumah ibu " .


" Tapi ini kan buat ibu kok di kasihkan ke saya ? " .


" Gak apa - apa tadi juga di bilangnya terserah ibu mau di pake sendiri apa mau di kasih kan orang "


" Ini tadi ada 8 daster buat ibu 4 yang 4 buat neng Firma aja ya " .


" Subhanallah ... Alhamdulillah makasih banyak ya bu , mudah - mudah an ibu sehat terus " .


" Aamiin .. ya sudah ibu mau pulang dulu ya , ibu tadi rebus air kayaknya sudah mendidih " .


" Makasih ya bu , hati - hati bu licin jalannya " .


" Iya .. neng Firma juga hati - hati dikunci pintunya kalau sendirian di rumah " . Firma menganggukkan kepalanya .


Firma bergegas masuk dan mengunci pintu , dia tak henti - hentinya mengucap syukur , akhirnya dia punya 6 daster setelah ini lumayan untuk baju ganti tiap harinya .


Dipandanginya satu persatu daster dengan motif bunga - bunga itu , warna - warna yang cocok dengan warna kulitnya . Di peluknya baju pemberian tadi sampai tanpa sadar sudah lelap dalam tidurnya .


" Allahu Akbar Allahu Akbar ... !!" .


"Astaghfirullahal 'adziim .... jam berapa ini kenapa gelap banget ? " . Firma gelagapan dalam gelapnya kamarnya , tangannya meraba - raba mencari ponselnya untuk menyalakan lampu senter .


" Hampir jam 6 , berarti sudah adzan Maghrib " . Bergegas Firma ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu .

__ADS_1


Di luar rumah tepatnya di rumah kontrakan seberang jalan Nanang terus memperhatikan rumah kontrakan yang di huni Agus dan Firma . Dia merasa heran kenapa rumah mereka sangat gelap , dia tau Agus sedang ke luar kota .


" Harusnya di rumah ada Firma tapi kenapa gelap gitu ? " .


__ADS_2