
" Rin ,, kamu mau kemana ?? " Tanya bapak dari ruang tamu , Rina tak melihat jika ada bapaknya susuk di sana .
" Ma mau ke sekolahan pak " . Rina tergagap saat menjawab .
" Ini hari Minggu Rin mau apa kamu di sekolah , kamu gak lupa kan kalau malam nanti sudah mulai sholat tarawih ?? "
" Iya itu pak mau sholat tarawih di sekolah kan jadwal kelasnya di gilir " .
" Bapak kok baru tahu biasa nya belum ada kegiatan di sekolah kalau baru memasuki puasa Ramadhan gini " . Pak Solikin merasa curiga kepada putri bungsunya itu . Pak Solikin memiliki 2 putra dan 2 putri yang nomer satu sampai tiga sudah menikah dan Agus adalah putra nomer tiga sedangkan Rina yang terakhir .
" Iya di gilir pak , Rina berangkat dulu pak takut ditinggal teman - teman " .
" Iya ati - ati , jangan terlalu malam pulangnya , ingat kamu anak gadis yang harua pandai menjaga diri '' .
" Iya pak . Assalamu'alaikum " .
" Wa'alaikum salam , ingat pesan bapak ! " .
Rina tidak mendengarnya lagi karena berlari bergegas men starter motor pemberian Agus .
Pak Solikin hanya menggelengkan kepalanya saja melihat putri bungsunya yang sudah kelas 11 Sekolah Menengah Atas itu sudah semakin sering keluar rumah terlebih sejak dibelikan motor oleh Agus .
" Assalamu'alaikum .. " . Bi Ijah mengucapkan salam sembari memperhatikan Rina yang menaiki motor dengan kencang sampai tidak melihat bibinya berjalan dari arah berlawanan .
" Wa'alaikum salam " .
" Itu si Rina mau kemana sore - sore gini ? " .
" Katanya mau tarawih di sekolah dapat giliran perkelas nya , bawa apa bi ? " . Pak Solikin memanggil adiknya bibi untuk memanggilkan anak - anaknya , begitu pula dengan bi Ijah menyebut pak solikin dan istrinya juga pakde dan budhe .
" Eh ini tadi dari sawah lihat ubi kok sudah besar - besar jadi di rebus sekalian , yang dikantong kresek ini masih mentah kali aja mau di buat nasi tiwul " .
" Waa masih panas enak ini empuk ! " .
" Abisin aja masih banyak di rumah , kalau kurang nanti suruh Rina ambil kesana , Ya sudah aku pamit dulu ya mau belanja " .
Bi Ijah tidak lama di rumah pak Solikin sebab harus menyiapkan bahan untuk sahur puasa ramadhan yang pertama besok pagi .
" Pak .. bapak ... ! " . Panggil bu Imah dari arah dalam rumah .
" Iya bu , ada apa tho kok teriak - teriak ? " .
" Bapak tadi ambil uang di dompet ibu ? " . Tanya bu Imah sembari mendekat ke arah pak Solikin
" Dompet ibu di taruh mana , bapak aja belum masuk kamar dari abis sholat Ashar tadi ? " .
" Ya di lemari pak kayak biasanya , ini uangnya kok gak ada 80 ribu " .
" Ibu lupa mungkin tadi sudah buat belanja atau bayar apa " .
" Iya kali ya pak , kenapa ibu sering lupa gini ya , soalnya uangnya sering berkurang pak " .
__ADS_1
" Lain kali sebelum dimasukkan lemari dihitung dulu bu " . Dan bu Imah hanya menganggukkan kepalanya saja .
Sementara di luar Rina masih dengan buru - buru memacu motornya , dia takut datang terlambat di acara ulang tahun kekasihnya yang diadakan di vila yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya , kira - kira masih 45 menit lagi untuk tiba di lokasi .
"Ah sial kenapa jauh banget sih tempatnya , kenapa gak nyari yang deket - deket aja , pasti bau asap kendaraan nih bajunya " . Gerutu Rina tak henti - hentinya .
Jalanan memang lebar tapi dengan jarak yang cukup lumayan tentu Rina sangat bersusah payah apalagi baru beberapa bulan saja Rina bisa lancar naik motornya , tapi meski begitu Rina bukan tipe orang yang mudah menyerah , dia pasti akan berusaha semampunya untuk bisa mencapai yang dimauinya .
Setelah berlama - lama di jalan raya akhirnya dia sampai di tempat tujuan juga , bergegas Rina melepas helm dan jaketnya . Di dalam sepertinya sudah ramai yang datang , alunan musik lumayan terdengar dari area parkir meskipun samar - samar .
Tak mau berlama - lama lagi Rina menaiki anak tangga satu persatu . " Jangan di sini dong nanti ada yang lihat " . Rina mendengar suara laki - laki dari arah luar vila .
" Ayolah , kapan lagi kita punya kesempatan , mumpung yang lain sibuk di dalam " . Suara perempuan menyahutinya .
" Tapi ini di luar , gimana kalau ada yang lihat atau mendengarkan kita ? " .
" Biarin aja lah suruh siapa ngintip kita , lagian di sini juga gelap kok , gak akan ada yang peduli sama kita " .
" Tapi mbak ... ?? " . Suara itu sudah tidak terdengar lagi selain suara erangan , lebih tepatnya ******* yang semakin lama semakin jelas .
Rina memberanikan diri mencari tahu asal suara , dia takut tapi dia juga tidak bisa membiarkan rasa penasarannya . Dia ingin tahu siapa dan apa yang sepasang orang itu lakukan di luar vila yang gelap itu .
Pelan - pelan dia melangkahkan kakinya dan merapatkan badannya ke dinding , dia terperangah menyaksikan sendiri yang di lakukan sepasang orang di hadapannya .
" Nah gitu , bagus sayang lebih cepat lagi , lidahmu memang luar biasa lincahnya , ah ... " . Sementara laki - laki yang menenggelamkan kepalanya diantara p*** si perempuan melanjutkan terus aktifitasnya .
Tidak berhenti sampai di situ , mereka melanjutkannya dengan aktifitas yang lebih liar lagi , sampai mereka sama - sama puas melakukannya . Rina yang melihat mereka berdua merasa ada yang harus di tuntaskan dalam dirinya . Selama ini dia hanya berani melakukannya sendiri , dia takut hamil itu alasannya jika melakukan dengan laki - laki sedangkan dia belum menikah .
Sejak itu dia sering ber ma******* dan mencari film - film yang berhubungan dengan s*** . Dengan melihat secara langsung apa yang ada di hadapannya Rina semakin ingin merasakan seperti yang perempuan itu rasakan tapi dia juga merasa takut .
" Rina ?? apa yang kamu lakukan di situ ? " . Panggil kekasih Rina dan mengejutkannya .
" A aku .. " . Rina tergagap menjawabnya .
" Sudah sudah .. ayo masuk aja yang lain sudah pada nikmati makanan di dalam kamu nya malah bengong di sini " .
" Semua sudah datang ? " .
" Sudah sebentar lagi kita potong kuenya , OK ? " .
" Kita ?? " .
" Iya dong , kan kamu pacar aku jadi kita berdua yang potong kuenya " .
Rina merasa bahagia sebab di istimewakan oleh kekasihnya itu .
Alunan musik yang tadinya terdengar riuh sekarang di pelan kan lagi suaranya , begitu juga dengan lampu - lampu semuanya di redupkan untuk persiapan acara potong kue .
Acara malam ini sepertinya sangat di nikmati oleh semua orang khususnya Rina bahkan dia sampai lupa kalau dia berpamitan ke sekolah pada orang tuanya .
Setelah melihat jam barulah dia teringat .
__ADS_1
" Astaga , sudah jam setengah 9 aku harus segera pulang " .
" Mau aku antarkan ? " . Kekasihnya menawarkan diri .
" Ngga usah aku pulang sendiri aja , nanti malah di marahi bapak kalau pulang sama cowo " .
" OK hati - hati ya di jalan ! " .
" Daaah .. aku pulang dulu sampai ketemu lagi besok " .
Rina buru - buru keluar dari vila sampai dia tidak menyadari di sampung kanannya banyak batang berduri bunga mawar yang merobek lengan kanan bajunya .
" Aduh ! pake nyangkut segala nih baju " . Rina menggerutu karena sudah terburu - buru malah membuat rusak baju kesayangan yang baru di belinya sebulan lalu .
Dan tanpa di sadarinya diam - diam ada yang memperhatikan yang kemudian memeluknya dari belakang .
Rina yang terkejut tak bisa berteriak karena selain mulutnya di bungkam , d***nya di remas kasar oleh orang yang menurut perkiraannya laki - laki sebab dia bisa merasakan telapak tangannya yang besar .
Laki - laki itu menuntun Rina menuju belakang vila , disana ada kebun yang ternyata ada rumah kecil dengan pencahayaannya hanya dari lampu berwarna kuning .
Rina di bawa masuk dengan tetap sambil di bungkam dan di remas - remas d***nya . Rasa takut dan menikmati itulah yang dia rasakan sekarang . Laki - laki itu membaringkan Rina di ranjang yang terbuat dari bambu , merabai d*** dan p*** Rina .
Anehnya Rina hanya terpukau diam tanpa berteriak ataupun berontak . Melihat Rina hanya diam saja laki - laki itupun membuka paksa baju Rina , menyusuri setiap inci tubuhnya . Rina sangat menikmatinya , gila memang jika ada perempuan di cabuli atau di perkosa justru menikmatinya .
Laki - laki itu melepas semua pakaiannya , dia menunjukkan senjatanya yang berwarna hitam panjang dan siap untuk di hunuskan ke lawannya .
Rina semakin terpukau , sama sekali tidak ada rasa takut seperti yang selama ini dia khawatirkan bahwa dia takut hamil .
Semakin laki - laki itu menunjukkan kehebatannya , Rina semakin menyukainya meskipun rasa perih dan sakit masih dia rasakan di antara pangkal p***nya .
Disaat Rina akan berada di puncak kenikmatan tiba - tiba lampu menjadi terang benderang dan menyoroti mereka berdua .
" Hahahaha ... ternyata doyan juga ya kamu Rin sama kakek - kakek gini ?! " . Suara tepyk tangan dan tawa dari suara perempuan yang sangat Rina kenali .
" Mbak Liya ?? " .
" Bener Rin kamu gak salah lihat , aku memang Liya , sepertinya kamu belum puas ya .. ayo tuntaskan dulu Rin " . Liya menertawai Rina sembari duduk di bangku kayu panjang di samping ranjang tempat Rina berbaring dan tentunya masih di dalam pelukan laki - laki yang ternyata sudah berusia 50 tahunan .
Mendapat perintah dari Liya laki - laki tua itu melanjutkan aksinya menikmati tubuh Rina , sudah kepalang tanggung Rina pun juga ingin mencapai kenikmatan yang tertunda , hilang sudah rasa malu dan takutnya .
Bukan hanya sekali tapi berkali - kali Rina melakukannya seolah dia benar - benar haus kepuasan terlebih laki - laki itu pandai memanjakan Rina .
" Gimana Rin ? enak kan ?? " .
Rina menoleh ke arah Liya yang dari tadi menyaksikan pergumulan sepasang orang yang belum saling kenal itu .
" Mbak Liya yang merencanakan ini ? " .
" Bener Rin , bukan kah kamu tadi sudah susah payah menahannya waktu lihat kami di luar ? beruntung kamu di ajak di sini jadi yang lain gak lihat kamu " .
" Tapi kenapa mbak Liya tega ? " .
__ADS_1
" Aku justru menolong mu Rin daripada kamu gak bisa menuntaskan hasratmu " . Liya menjawab dengan tenang .