
Di kampung tempat kelahiran Agus yang asri dan sejuk itu semakin bisa dirasakan kenyamanannya tatkala suara gamelan dari rangkaian acara pernikahan salah satu sepupu Agus yang di selenggarakan jam delapan pagi , suara gamelan khas untuk penyambutan pertemuan mempelai pria dan wanitanya .
Saudara kerabat dan tetangga sangat ramai untuk menyaksikan pertemuan pengantinnya .
"Bu ... Rina nanti kalau jadi pengantin mau ah acaranya kayak mbak Devi gini ... " . Rina merajuk pada ibunya .
"Hussst .... Makanya kamu nikah sama orang kaya apalagi kamu anak perempuan biar gak usah susah susah kerja " . jawab bu imah membungkam mulut Rina dengan tangannya karena suaranya yang nyaris berteriak padahal duduk disebelah ibunya .
"Bu .. Kenapa dulu mas Agus gak nikah aja sama mbak Liya , kan mbak Liya kaya tuh , yaaa meskipun lebih cantik mbak Firma sih , mbak Liya kulit wajah sama tangannya beda warna , coba ibu liat masa wajah glowing tapi tangannya gelap gitu , upps !! Maaf bu ... " .
"Kamu tuh gak kira - kira , sekalipun beda warna kulit wajah dan tangannya toh kamu juga nikmati uang pemberiannya , yang penting jaman sekarang tuh uang Rin .." .
"Iya kaaalii bu ... Kalau banyak duit kenapa gak suntik pemutih aja ? , kan biar gak geli yang liatnya .." .
Bu Imah mencubit lengan Rina karena makin menjadi saja bicaranya .
Acara sakral di kediaman kakak kandung bu Imah berjalan lancar dan meriah , semua tamu undangan dipersilahkan menikmati makanan yang sudah disiapkan .
"Eeeh bu Imah , Rina .. tambah glowing aja .. Gimana kabarnya kalian ?!" . Sapa bu Teti tetangga mereka satu RT tapi beda gang , bu Teti ini adalah orang yang paling ingin di hindari oleh bu Imah , selain mulutnya yang selalu menusuk kalau bicara , bu Teti juga suka memamerkan koleksi perhiasan dan tas mahal - mahalnya .
Tentu saja siapapun perempuan kalau melihatnya pasti banyak yang merasa iri karena merasa tidak beruntung tidak dimanjakan suaminya seperti bu Teti yang sebulan sekali pasti beli perhiasan atau tas mahal baru padahal bu Teti hanya ibu rumah tangga biasa . Tapi suaminya punya usaha kuliner dan memiliki anak cabang di beberapa kota .
"Kenapa harus ketemu dia sih ..?!" . Sewot bu Imah dalam hati tentunya .
"Ooh bu Teti tho ...pantesan silau loh dari tadi rupanya ada bu Teti , kami ya gini ini seperti yang bu Teti lihat .. ". Bu Imah memaksakan diri untuk tersenyum .
" Bu Imah punya menantu cantik banget ya , coba kalau anak saya ada yang laki - laki , saya berharap punya menantu kayak si Firma itu , sudah cantik , sopan , jarang looh ada gadis seperti itu , jaman sekarang banyak gadis tapi seperti janda .. " . Ujar bu Teti sembari melirik dan tersenyum pada Rina , yang dilirik pun jadi salah tingkah .
"Cantik aja gak cukup bu Teti , Ibu saya itu pengennya punya menantu yang ka .... " . Kalimat Rina terhenti saat pinggangnya terasa sakit ada yang mencubit , tentu ibunya lah yang melakukan .
"Maksudnya Rina itu kayak putri - putrinya bu Teti yang sudah cantik , pinter , mapan juga kerjaannya padahal sudah punya suami yang kaya .. Betul - betul mandiri " . Tepis bu Imah .
"Yaa tentu saja bu Imah .. Anak - anak saya itu saya didik untuk tidak bergantung pada suami , seperti saya yang juga punya butik hadiqh dari suami waktu ulang tahun saya 12 tahun lalu " .
__ADS_1
"Haah !! Bu Teti punya butik ? " . Bu Imah merasa tidak percaya .
"Tentu saja bu Imah .. Kalau saya tidak punya butik bagaimana mungkin saya beli - beli perhiasan dan tas tas mahal , suami saya memang kadang beliin saya tapi kan gak setiap bulan , bisa gak belanja bahan makanan kalau dipakai beli perhiasan terus .. Hahaha .. " . Gurau bu Teti sembari mengibaskan tangannya .
"O ya bu Imah , kalau diijinkan sama si Agus , boleh dong itu menantunya kerja di butik saya , saya lihat kasihan kalau dia kerja panas - panasan jual buku di kios kecil samping jalan utama " .
"Hah !! Me menantu saya si Firma ?? Jual buku di kios pinggir jalan ?? Yang bener bu Teti ?? " . Bu Imah makin terkejut mendengar menantunya jualan buku di kios kecil karena memang tidak pernah tahu kalau Firma kerja , dia pikir Firma hanya menganggur di rumah kontrakannya .
"Jadi bu Imah belum tau tho .. ? Kasihan loh bu itu menantunya kalau kerja kayak gitu , misal orang tua menantu bu Imah tau apa gak marah tuh mereka tau anaknya dibiarin kerja panas - panasan apalagi kalau saya liat menantu ibu sepertinya sangat dijaga sama orang tuanya tapi jadi menantu ibu malah dibiarkan kerja kayak gitu " . Sindir bu Teti .
"Saya tinggal dulu ya bu , ingat bu daripada kerja dipinggir jalanĀ , biarin aja menantu ibu kerja ikut saya di butik " . Bu Teti setengah berbisik di telinga bu Imah .
Bu Imah terdiam dan membenarkan kalimat bu Teti , banyak hal yang tidak diduga ternyata . Dia merasa kasihan dengan Firma tapi kalau Firma kerja tentu dia akan kebagian hasilnya pikir bu Imah .
"Assalamu'alaikum .. Ngge bu , nanti ?" . Firma menjawab telepon dari bu Imah untuk datang kerumahnya sore nanti .
"O ya kamu sendiri aja gak usah ajak Agus nanti ibu yang bilang Agus .. ! ". Tegas bu Imah . Bu Imah mengundang Firma datang ke rumah tentu untuk membahas hal yang menjadi ganjalannya setelah bertemu bu Teti .
Dua puluh lima menit Firma tiba di rumah kontrakannya , dia bergegas mandi , sholat dan bersiap menuju terminal karena takut makin malam tiba di kampung mertuanya karena perjalanan dengan naik bis biasanya 4 sampai 5 jam lamanya . Setibanya di terminal dan mencari bis yang akan ditumpangi , dia menelepon suaminya .
"Assalamu'alaikum mas tadi sudah di telpon ibu ? Baiklah kalau gitu aku berangkat sekarang ya ini sudah dapat bis nya .. " .
"Waalaikum salam , sudah tadi ibu bilang kamu disuruh ke kampung , Oya sudah hati - hati di jalan ..!" . Jawab Agus merasa gembira karena itu artinya malam ini dia bisa bebas video call dengan Liya sampai pagi .
Tepat jam 12 malam Firma tiba di kampung halaman suaminya .
"Mbak mau nyari ojek ya ?" . Tanya laki - laki seumuran ayah Firma .
"Ngge pak , tapi sepi gini saya nyari dimana ya pak ?" . Tanya Firma sopan .
"Saya juga tukang ojek kok mbak , itu bentor (becak motor ) saya disebelah warung , tadi berdua sama temen saya tapi dia sakit perut jadi pilang dulu .." . Terang laki - laki tadi sebab melihat Firma yang tampak merasa takut .
"Alhamdulillah ... Ngge pak kalau gitu tolong antarkan saya ke rumah bu Imah pak " .
__ADS_1
"Bu Imah istrinya pak Samiun ?" .
"Ngge pak .. " .
"Monggo mbak saya antarkan , biar bisa cepet istirahat , sudah jam tidur tapi mbak nya masih dijalan apalagi sendirian " .
"Ngge pak tadi ibu mertua saya menelepon saya katanya ada yang mau dibicarakan sama saya jadi saya berangkat sendirian " .
Banyak perbincangan yang dilontarkan bapak tukang ojek itu untuk mencairkan suasana dan mengurangi rasa takut penumpangnya .
"Sudah nyampe mbak , hati - hati turunnya , langsung saya tinggal ya mbak , lupa kalau tadi bapak belum ngunci warungnya " .
"Matur Nuwun ngge pak ..." .
"Sami - sami mbak .. " .
Setelah hampir lima belas menit mengetuk pintu akhirnya ada yang bangun dan membuka juga pintunya .
"Loh Firma ?? Kok sendirian mana si Agus ?" . Tanya pak Samiun bapak mertua Firma .
"Ibu meminta saya untuk datang kesini sendirian pak .." .
"Piye tho ibumu itu kalau nyuruh kayak rumah deket aja , langsung makan terus buat istirahat sana sudah malam , di meja makan masih ada berkat bapak dapat dari tahlilan tadi .." .
"Ngge pak .." .
"Oya Fir .. Kalau mau ke kamar mandi nyalakan dulu lampunya biar gak kepleset , banyak lumut samping sumur .." .
Firma menganggukkan kepalanya .
Kamar mandi di rumah mertuanya memang terpisah dengan rumah induk , didepan kamar mandi juga ada sumur besar yang kedalamannya kurang lebih dua puluh meter . Lampu penerangan juga masih lampu dop warna kuning yang menambah suasana jadi terlihat horor .
Dibelakang kamar mandi ada kandang kambing dan ayam , kalau malam sudah tentu menyeramkan karena lampunya hanya 2 itupun satu ditaruh di bagian pembatas antara WC dan kamar mandinya , satu lagi di depan kamar mandi .
__ADS_1