Masa Lalu Suamiku

Masa Lalu Suamiku
Bab 93 Di Tagih Hutang


__ADS_3

Setelah menunaikan sholat maghrib Firma menghampiri Angkasa yang masih belum mau makan .


" Sayang , kita boleh bersedih tetapi kita juga butuh energi untuk melanjutkan hidup , ayah pasti sedih kalau melihat putra kesayangannya ini bersedih terus bahkan tidak mau makan " . Firma mengusap lembut rambut sang anak .


Akhir nya Angkasa mau menuruti Firma untuk segera makan , dengan penuh kasih sayang Firma menyuapi anak dari mantan suami nya itu , yang dia sendiri tak pernah tahu di mana keberadaan ayah biologis Angkasa kini berada .


Sejak ibu mertua nya meninggal , Agus juga menghilang tanpa berita begitu saja bahkan Angkasa pun tak pernah mendapatkan nafkah dari nya .


Jam menunjukkan pukul tujuh malam , suara para bapak dari warga sekitar terdengar di ruang depan . Mereka akan membacakan surat Yasin dan tahlil selama 7 hari sepeninggal Deni .


" Sari , kamu lihat sendiri kan , mereka akan mengirimkan doa untuk mas Deni sampai 7 hari ke depan supaya dosa - dosa mas Deni di ampuni dan di ringan kan dari siksa kubur , dan kamu juga tau kalau semua ini juga mengeluarkan banyak biaya , apa kanu keluar uang untuk mengurus ini semua ? " . Firma menjelaskan panjang lebar .sembari menunjukkan apa saja yang di butuhkan untuk acara ini .


" Terus hubungan nya sama aku apa ? , kenapa aku harus ambil pusing , aku kesini untuk mengambil hak ku dan anak ku , aku yakin mas Deni sudah memberi mu banyak uang selama ini dan meninggalkan banyak warisan , kan ? " .


Mendengar jawaban Sari , Firma merasa semakin kesal sebab sudah di biarkan tinggal di rumah ini biar tahu realita nya tapi malah tak tahu diri .


Seperti apa yang di katakan Firma , Sari masih tinggal di rumah mertua Firma bahkan sampai di hari ke tujuh .


Seperti hari - hari sebelum nya bahwa setiap malam selalu diadakan kirim doa untuk mendiang Deni dan malam ini adalah malam yang ke tujuh " .


" Kamu sudah melihat sendiri kalau beberapa malam di adakan tahlil untuk mendiang mas Deni di sini dan kamu juga tahu bahwa untuk acara ini juga keluar uang banyak untuk menghormati para tamu yang berkenan mengikuti kirim doa di rumah ini " . Firma mengulang kalimat nya seperti beberapa hari lalu pada Sari .


" Jafi warisan seperti apa yang kamu inginkan , Sari ? " . Lanjut Firma .


" Ya , aku tau , kalau acara tahlil ini sudah menghabiskan uang duka yang kamu terima dari pelayat , tapi kecelakaan mas Deni kan dapat uang jasa raharja , tentu uang itu masih ada kan ? , belum lagi tanah dan rumah yang luas ini beserta isi nya , oh ya pasti anak kamu juga dapat banyak santunan dari warga dan juga pastinya dapat dari relasi - relasi mas Deni " . Jawab Sari yang tak mau kalah dengan Firma .

__ADS_1


Firma menghembuskan napas nya dengan kasar .


" Tau kah kamu perempuan yabg duduk di kursi roda itu ? " . Tunjuk Firma pada perempuan yang dua tahun ini sangat di sayangi nya .


" Masa bodo , memang nya apa urusan ku dengan nya ? " . Sari menjawab dengan cuek .


" Itu mama mas Deni , mama mertua ku " . Tegas Firma dengan mata menatap tajam pada mata Sari .


" Kamu pasti bohong , mana mungkin mas Deni punya mama yang lumpuh begitu " .


" Beliau gak lumpuh , beliau hanya mudah capek sehingga harus di bantu kursi roda kalau mau kemana - mana , tau kah kamu Sar kalau beliau lah pemilik tanah dan rumah megah ini " .


" A apa ? bukan kah ini rumah mas Deni ? " .


" Aku sudah jelas kan sama kamu barusan , apa kurang keras aku bicara nya ? " .


" Terserah apa kata mu Sar , aku juga gak yakin dengan pengakuan mu yang kata nya juga istri mas Deni " . Firma berkata dengan ketus .


Kalimat Firma telah membungkam mulut Sari .


Di saat suasana sedang hening , di luar ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam . Firma berjalan ke ruang depan untuk melihat siapa tamu yang datang .


" Selamat siang , apa betul saya berbicara dengan bu Firma ? '' . Sapa salah seorang dari dua laki - laki berpakaian rapi itu .


" Iya , maaf bapak - bapak siapa ya kok tau nama saya dan rumah ini ? " .

__ADS_1


" Begini bu saya perwakilan dari bank ingin mengucapkan turut ber belasungkawa sebelum nya atas kematian pak Deni , kedatangan kami juga untuk menyampaikan amanah dari bank tempak kami bekerja untuk menyampaikan sehubungan dengan tanggungan almarhum pak Deni yang sudah jatuh tempo dan menunggak cukup lama .


" Hu hutang ? , suami saya punya hutang ? " . Mata Firma terbelalak terkejut dengan berita yang baru di dengar nya .


" Benar bu dan sertifikat rumah ini yang jadi jaminan nya " .


Berantakan sudah rasa nya hidup Firma . Dia di hadapkan dengan hutang - hutang suami nya , belum lagi dengan pengakuan Sari sebagai istri Deni . Firma tidak sanggup melihat kenyataan pahit yang harus di alami nya .


" Jadi maaf bu Firma kami ke sini untuk menyelesaikan semua nya , kami berharap bu Firma sudi membayar hutang almarhum pak Deni " . Petugas dari bank mengharapkan ketersediaan Firma untuk mengurus hutang Deni .


Firma tergagap , nyaris tak ada suara yang bisa keluar dari mulut nya .


" Berapa hutang suami saya pak ? " .


" Cukup besar bu Firma untuk total pinjaman berikut bunga nya sekitar tiga ratus lima belas juta rupiah , hutang ini bisa ibu bayar mengangsur dan kami akan memberi kelonggaran angsuran mulai bulan depan , kalau mau di lunasi , rumah ini cukup untuk melunasi total yang tercantum tersebut , bu Firma bisa mempelajari lembar ini " . Jelas petugas bank sembari menunjukkan bukti transaksi hutang piutang .


Firma sangat terkejut , dia tidak habis pikir untuk apa suami nya memiliki pinjaman sebesar itu .


" Jadi bagaimana bu ? " .


" Maaf pak tolong beri saya waktu untuk berpikir , terus terang saya tidak tahu menahu tentang pinjaman ini " .


" Baiklah bu kami akan tangguhkan penagihan ini , kami juga maklum anda sedang dalam masa berkabung , jadi kami permisi dulu " . Mereka pun keluar dari kediaman Firma .


Sari diam - diam mendengarkan obrolan petugas bank dengan Firma , dia ingin segera meninggalkan rumah tempat tinggal Firma dan mertua nya sekarang , sebelum dia di tagih untuk ikut membayar hutang Deni .

__ADS_1


" Dewi , ayo kita pergi dari rumah ini " . Sari menghampiri putri nya dan putri nya hanya menurut saja setelah di ajak berkemas .


Di pikiran Sari , dia menurut saja di suruh tinggal di rumah itu dengan harapan akan segera meminta hak nya setelah selesai acara kirim doa selama tujuh hari . Tapi kenyataan yang di lihat justru Firma terancam tidak akan memiliki rumah karena hutang Deni yang cukup besar .


__ADS_2