
"Bisa bantu ibu masak gak , kaki ibu sakit terkilir turun dari tempat tidur tadi .. " .
"Ngge , masak apa bu ?" .
" Masak soto , ibu sudah siapin bumbunya tinggal kupas , cuci , haluskan , ayamnya belum di ungkep ya " .
"Ngge bu .. " .
"Ibu sama bapak buatin kopi , Rina buatin teh , dia pusing kalau gak minum teh " .
Kebetulan hari ini hari Minggu , tapi Firma gak berani tanya kemana Rina adik iparnya usai minum dan menghabiskan teh tadi , apa masuk kamar lagi atau keluar , entahlah .
Rumah mertuanya memiliki halaman depan dan samping kanan kiri yang luas , ruang tamu juga lumayan 8,5 x 7 meter , ruang tengah di bagi dua tempat nonton televisi dan tempat makan bersama , kamar ada 5 kamar tidur dan 1 tempat sholat , untuk ke dapur dipisahkan oleh pintu yang ditaruh di bagian samping tapi masih menyatu dengan rumah induk yang luasnya tak kalah dengan luas ruang tamu .
Tapi lantai rumah mertuanya masih lantai tanah , eh lebih tepatnya paving yang sudah mulai bercampur dengan tanah . Sedangkan lantai dapur murni masih tanah dan lebih rendah setengah meter dari lantai ruangan lainnya .
Disini Firma merasa sendirian , apa - apa dilakukannya sendiri tanpa ada yang mengajaknya berbicara apalagi membantunya menyelesaikan tugas rumah .
Usai memasak dan menyiapkan di meja makan , Firma menyapu dari halaman depan sampai kedalam rumah induk terakhir dapur , saat ke arah kamar mandi Firma melihat dua tumpuk pakaian kotor di dalam dua bak besar .
"Ngerjain tugas rumah dari jam 4 , ah sudah jam 9 tapi masih ada aja dua gunung cucian baju , kapan nyuci perabot yang dipake masak tadi ?? " . Firma melihat tumpukan baju dan panci wajan yang sudah menghitam pekat karena sudah terlalu sering di gunakan atau memang dibiarkan hitam bertahun - tahun juga entahlah , dia hanya bisa menghirup nafas dalam - dalam dan mengeluarkannya secara kasar .
Capek ?? Tentu saja Firma merasakannya , bagaimana tidak selama dia tinggal bersama orang tuanya tidak pernah merasa secapek ini apalagi dengan tugas yang dia rasa tiada habisnya .
"Aku dipanggil untuk pembicaraan penting atau untuk ngerjain tugas kayak gini sih ..??! " . Rina mengeluh dalam hati apalagi tahu baju kotor yang di tumpuk seperti sudah dikumpulkan seminggu lebih itu .
Adzan Dhuhur berkumandang di musholah depan rumah mertuanya , dia yang masih menjemur baju merasa kelelahan apalagi dibawah terik sinar matahari yang silau panas dan pakai banget itu .
"Mbak Firma , panas mbak ,, Rina nya mana kok gak bantuin sampean jemur baju segitu banyaknya ?" . Budhenya Agus menyapa Firma saat berangkat ke mushollah untuk mengikuti sholat berjamaah .
"Mboten ngertos budhe , ndugi enjing mboten ketingal (gak tahu budhe , dari pagi gak kelihatan) " . Jawab Firma tersenyum menghampiri perempuan tua seumuran diatas ayahnya sembari mencium tangannya dengan santun .
"Biarin Rina yang ngerjain tugas kayak gini , biar gak males .. !" .
"Mboten nopo budhe .. (Gak papa budhe) " .
"Budhe ikut jamaah dulu , nanti kalau sudah longgar main ke rumah budhe yang dibelakang itu , bisa lewat gang samping Biar gak kotor kakinya , kalau lewat kandang banyak nyamuknya juga .." .
__ADS_1
"Ngge budhe matur nuwun .. " .
Girma melanjutkan aktifitasnya , selesai semuanya Firma mandi dan sholat , saat melihat meja makan Firma kaget melihat meja sudah ada 2 piring kotor , nasi sudah tinggal setengah wadah di magic com , tulang belulang ayam tercecer di piring dan meja , dalam panci yang berisi soto tadi hanya tersisa lebih dari 15 potong ayam , tinggal 7 potong saja .
"Astaghfirullah ... Siapa yang lakukan semua ini ??" . tanya Firma dalam hati .
"Grubyaak !!! Srekk srekk srekk !!" . Suara dari samping rumah bagian belakang . Firma berjalan melihat ke samping rumah melewati ruang tamu . Ternyata pak Samiun pulang dari sawah sekalian mencari rumput sepertinya .
Firma segera masuk kamar untuk mengambil baju ganti , sebab baju yang dipakainya saat ini sudah kotor dan basah terkena air cucian .
Selesai mandi dan sholat Firma menghampiri bapak mertuanya . " Bapak sudah makan ? Kalau belum mau saya panaskan dulu sotonya .." .
" Kamu sudah makan Fir ? " . Pak Samiun bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Firma .
" Belum pak saya mau goreng telur saja ,, " .
" Bapak juga mau Fir makan telur dadar " .
Firma menganggukkan kepalanya sambil berlalu dan membuka lemari es , tapi di dalamnya tidak di temukan telur bahkan isi lemari es hanya air putih dan sayuran yang sudah layu saja .
Firma teringat kalau bibinya Agus yang rumahnya diujung jalan paling belakang jualan sembako , Firma bergegas jalan menuju rumahnya .
" Mboten ngertos bi .. (Gak tau bi) .. " .
" Memangnya di lemari es nya gak ada telur kok kamu beli sendiri ? " .
" Habis bi , kelihatannya ibu belum sempat belanja " .
" Suruh Rina aja kalau belanja , ini tadi ibumu masak apa ? " .
" Ibu tadi nyuruh saya buat masak soto , bibi mau ? " .
" Kamu yang masak ? Rina ngapain ? " .
" Dari pagi saya belum liat dia .. " .
"Dasar anak males , pasti dikamar mainan ponsel terus " . Gerutu bibinya Agus .
__ADS_1
" Saya pamit dulu bi kasihan bapak belum makan tadi nungguin telurnya .. " .
" Matur Nuwun .. Hati - hati ! " .
Sesampainya di rumah Firma langsung menggoreng telur dan menyiapkan makan bapak mertuanya , tapi Firma sudah kehilangan nafsu makannya karena sudah capek se siangan ini , dia memilih untuk merebahkan diri dan ketiduran .
"Allahu Akbar Allah ..... hu Akbar ... " Terdengar suara adzan dari mushollah . Firma terbangun dan bingung karena sudah gelap .
" Astaghfirullah .. Sudah jam 6 , sudah adzan maghrib .. " . Firma bergegas mencuci muka , wudhu dan sholat . Dia baru tersadar kalau ketiduran 2 jam lamanya .
" Fir .. Ibu mau bicara .. ! " .
" Ngge bu .. " .
" Kamu sudah kenal mbak Liya ? " .
" Belum bu hanya dengar namanya saja .. " .
" Ok langsung aja , kamu gak keberatan kan kalau Agus deket lagi sama mbak Liya ? " .
Memanggil nama perempuan lain selalu dipanggil namanya saja tapi kenapa dengan Liya ibu mertuanya justru memanggilnya dengan kata mbak ? . Pikir Liya .
" Maksud ibu ? " .
" Mbak Liya itu dulu hampir jadi menantunya ibu tapi ibunya mbak Liya malah menjodohkannya sama laki - laki lain , sebulan Lalu dia ngasih ibu sama Rina uang yang lumayan , kamu gak marah kan kalau Agus deket lagi sama dia ? Kan lumayan kalau ibu sama Tina dapat uang terus darinya .. " .
" Maaf bu tapi apa hubungannya dengan saya ? Yang dikasih uang kan ibu sama Rina , terus kenapa saya harus biarin suami saya di dekati perempuan lain ? , bukannya dia juga sudah bersuami ?? " . Jawab Firma malas , dia pernah mendengar cerita tentang Liya dari mulut suaminya sendiri dan otu sangat mengusik ketenangan Firma sekalipun dia belum memiliki rasa cinta pada Agus .
" Fir .. Kamu itu menantu disini , dia bisa ngasih ibu sama Rina uang karena dia banyak uang apa kamu gak mau ibu kebagian dari kekayaannya ?? " .
Firma melongo mendengar kalimat bu Imah mertuanya . Tanpa menjawab apa - apa lagi Firma masuk kedalam kamar mengambil tasnya dan berkata " bu saya pamit pulang sekarang ya , besok saya harus kerja , pagi tadi saya sudah ijin ke atasan saya .. " .
" Ooh ...kamu sudah kerja ? Dapat gaji berapa ? Bisa ngasih ibu sebanyak yang mbak Liya kasih gak ?? " .
Firma hanya terdiam bingung dengan ibu mertuanya itu .
" Kamu tau tidak ? Sebetulnya dalam hitungan jawa jumlah hari lahirmu sama Agus itu tidak cocok , kalau bukan pisah karena mati ya pisah hidup " .
__ADS_1
Deg !! ... Hati Firma semakin tidak karuan dia gak tau apa maksud ibu mertuanya tapi dia segera pamit padanya takut semakin malam dan tidak ada bis lewat lagi dan harus menunggu pagi jam tujuh . Apalagi jarak rumah dengan jalan besar utama kurang lebih 3 kilometer