
Tangan bu Imah menunjuk ke arah laci biru dekat lemari pakaiannya . Rina memahami yang di maksud ibu nya .
Rina segera membuka laci dan mengeluarkan kotak di dalam nya .
" Ini bu ? " . Rina menunjukkan kotak sebesar buku tulis pada ibu nya . Bu imah menganggukkan kepalanya sedikit .
Rina membuka kotak tersebut , dia terkejut melihat kalung dengan liontin berlian yang sangat indah di tangannya .
Rina menduga bu Imah akan menjual kalung itu untuk tambahan biaya pengobatannya . Pasti harga nya sangat mahal kalau di jual apalagi pengobatan ibu nya juga tidak sedikit .
Rina membolak balik liontin tersebut , " Liontin yang sangat indah sejak kapan ibu memiliki nya perasaan aku gak pernah lihat ibu memakai kalung ini " . Rina membatin .
Bu Imah melambaikan tangannya mengisyaratkan Rina untuk mendekat .
" Kertas pena " . Bu Imah terbata - bata menyebutkan dua benda itu .
Rina yang masih bingung tetap saja mengambilkan kertas dan pena seperti keinginan ibu nya .
" Untuk apa bu ? " .
Bu Imah meminta Rina menuliskan permohonan maaf nya pada pemilik kalung berliontin berlian itu .Kalung yang seharusnya sudah lama ibu nya berikan pada yang berhak memiliki .
Pemilik kalung itu adalah Firma , Firma mendapatkan warisan dari mendiang mbah buyutnya Agus .
Yang tahu pemberian itu hanya bu Imah di saat sakaratul maut nya mbah buyut . Akan tetapi rasa iri , serakah membuat bu Imah enggan memberikan kalung tersebut pada Firma .
Bu Imah ingin memiliki kalung warisan turun temurun yang sudah empat generasi itu .
Dia merasa dia lah menantu mbah buyut dan sudah memberikan cucu tapi kenapa justru Firma yang hanya berstatus cucu menantu yang mendapatkannya .
" Sudah bu ini saja isinya ? " . Tanya Rina pada ibu nya .
Rina melipat dan meletakkannya di dalam kotak kalung berliontin berlian itu .
Bu Imah berbisik , " Antar segera " .
"Kalau saya yang pergi nanti siapa yang jaga ibu ? " .
Rina tentu sangat khawatir dengan ibu nya yang tampak ketakutan .
" Mas Agus aja ya bu yang ngantar , nunggu dia pulang kerja ? " .
Bu Imah menolak dia meminta Rina sendiri yang mengantar .
" Sekarang ibu gak ada yang jaga mas Agus belum pulang " .
" Istri Agus bisa menjaga ibu " .
Mata Rina melotot tak percaya bahkan ibu masih juga mempercayai Lusi untuk menjaga diri nya
" Tapi bu menantu ibu satu itu kan gak waras orang nya ? " .
__ADS_1
" Dia bisa jaga ibu " .
Rina keluar kamar mencari Lusi . " Lus tolong jaga ibu , aku ada urusan " .
" Mau kemana ? jangan lama - lama aku gak bisa rawat ibu kamu sendirian " .
Terlihat gurat tidak senang pada wajah Lusi . Rina semakin khawatir dengan keadaan ibu nya nanti .
Rina mengacuhkan kalimat Lusi yang tak tahu diri melihat mertua sakit tapi enggan untuk merawat .
Rina berpamitan dengan ibunya . " Lus tolong jaga baik - baik ibu , jangan di tinggal - tinggal " .
" Iya iya " . Lusi menjawab dengan nada sewot .
Bu Imah tetap memaksa Rina yang mengantarkan kalung tersebut tentunya tanpa sepengetahuan Lusi .
" Dek mau kemana ? " . Agus menyapa adiknya yang terlihat berdiri di samping jalan raya menunggu bis yang akan mengantarkan ke kota Firma .
" Mas Agus , aku di suruh ibu ngantar kalung nya mbak Firma yang di ambil ibu mas " .
" Terus ibu siapa yang jagain ? " .
" Ada Lusi mas , ibu yang minta sendiri " .
" Ya sudah mas temani kamu ya , sebentar mas titip motor dulu " .
Meskipun berat meninggalkan ibunya Rina tetap berangkat , 5 jam lamanya perjalanan yang harus di tempuh dengan naik bis antar kota bersama Agus .
" Astaghfirullah " . Rina mengusap kasar wajah nya .
Perjalanan panjang yang di tempuh Rina dan Agus .
Sesampainya di tempat tujuan Agus menatap sedih rumah yang pernah di tinggali nya bersama Firma dan Angkasa .
" Tuh Kan mas, mbak Firma kayaknya gak ada di rumah , terus gimana kalung ini ? " .
" Itu ada kotak surat InsyaAllah aman di situ , masukin aja kalungnya tanpa kotak nya " .
Rina memasukkan kalung dan surat dari ibu nya ke dalam kotak surat yang ada di pagar rumah Rina .
" Sudah mas , yuk kita pulang aku khawatir sama ibu " .
Agus tertegun memandangi rumah yang pernah dia tinggali bersama istri yang dia cintai akan tetapi semuanya sirna dan hanya tinggal cerita .
" Ayok mas " . Rina menarik tangan Agus .
" I iya . ayo " . Agus tergagap .
Perjalanan pulang perasaan khawatir semakin menghantui diri nya .
" Berapa lama lagi sih mas ini nyampe nya ? " .
__ADS_1
" Kurang lebih dua jam lagi " .
Sesampainya di rumah . " Assalamu'alaikum " .
Rumah tampak sepi , Rina segera berlari ke kamar ibu nya .
Di sana tampak Lusi mengusap wajah ibu nya yang berkeringat dengan telaten .
" Eh sudah pulang " . Lusi tersenyum pada Rina dan Agus .
Wajah bu Imah tegang seolah ingin menyampaikan sesuatu .
Rina mendekat dan berbisik , " Bu kalung nya sudah di terima mbak Firma " .
" Auk ukk akk " . Bu Imah jadi tidak bisa berbicara padahal sebelum si tinggalkan Rina bu Imah audah bisa berbicara .
" Lus kamu apa kan ibu ku ? "
" Apaan sih sudah di jagain masih bentak aku juga " .
Wajah bu Imah menegang , tubuhnya mengejang dan tangannya mengepal sembari melotot ke arah Lusi yang berjalan meninggalkan mereka .
Rina semakin yakin kalau Lusi telah melakukan sesuatu pada ibu nya .
POV. LUSI
Rina keterlaluan aku hamil besar kayak gini malah di suruh jaga ibu nya sendirian .
Lagian ada urusan penting apa sih Rina itu sampai harus meninggalkan ibu nya yang cuma bisa terlentang di atas kasur .
Rina meninggalkan aku dengan nenek peyot yang pelit ini .
" Sudah tua , penyakitan , nasih aja ngerepotin aku " . Aku mengeluh dan tanpa di duga ibu mertua ku hanya berpura - pura tidur dengan menutup mata nya .
" Tolong pijat kaki ku Lus biar aku bisa tidur nyenyak " .
" Idiih ogah , aku sendiri aja juga capek kok malah di suruh pijitin ibu , kurang puas aku melayani ibu selama ini , apa ibu pernah kasihan pada ku ? " .
Wajah ibu mertua ku terlihat marah dan tersinggung dengan ucapan ku .
" Ka kamu ja jangan ku rang a jar sa sa ma i bu ! " . Ujar nya terbata - bata dan mata nya tampak sinis .
" Aduh ibu lucu amat sih , siapa yang kurang ajar bu , ibu aja yang butuh di hajar " . Lusi meledek mertua nya .
Tangannya mengepal tanda dia sangat marah .
" Aku a kan adu kan kamu ke A gus dan Rina " .
" Coba saja kalau bisa ibu mertua ku tersayang " .
Aku memegang tangannya dan melepaskan 2 cincin dari jari nya .
__ADS_1
Dia semakin marah tapi aku tidak memperdulikan nya , ini bayaran yang pantas untuk ku karena selama ini menjadi pembantu gratisan untuk nya .