Masa Lalu Suamiku

Masa Lalu Suamiku
Bab 64 Talak


__ADS_3

" Minta saja pertanggung jawaban pada anak pak Jaja , bukan kah itu buah kalian berdua ? " . Ujar Agus mengejek .


Rina terperangah selama ini ini dia belum tahu kalau benih yang di kandung kakak ipar nya itu bukan lah benih Agus .


" Bagus mas , istri modelan kayak gitu harus di cerai , dari pada menumpuk dosa , di dalam kandungan aja anak nya di ajak berzinah terus gimana kalau sudah lahir dan tumbuh , bakal di ajari apa anak nya itu nanti ? " .


" Salah kan aja ibu kamu , ibu mu yang membuat jebakan biar aku di nikahi mas mu , terus dia ngancam kalau aku gak bisa hamil dalam waktu sebulan " . Lusi membela diri .


Rina terdiam , " Ibu ku memang salah tapi apa salah nya mas Agus pada mu ? " .


" Orang akan melakukan hal yang sama kalau posisi nya sama dengan ku , aku di pukuli terus menerus sama bapakku kalau aku gak ngasih uang , kemudian aku dapat tawaran menarik dari ibu kamu " .


" Keputusan ku sudah bulat , mulai sekarang kamu bukan istri ku lagi Lusi binti Wibowo aku talak tiga kamu , jadi kamu bukan lagi bagian dari keluarga ku ! " . Agus yang sedari tadi berusaha menekan emosi nya akhir nya membuka suara .


" Dasar gak punya hati , kalian cuma memanfaatkan aku , habis manis sepah di buang ! " . Lusi mulai marah .


" Sudah lah Lusi di terima saja itu yang terbaik dari pada nanti anak mu mencari bapak biologis nya " . Ucap Rina.


" Ok , aku tidak ridho dengan cara kalian memperlakukan ku , midah - mudahan yang aku alami juga di alami oleh kamu Rina dan semua keluarga ini tidak pernah baik - baik saja " . Lusi memberi umpatan menyumpahi keluarga Agus hancur .


" Jaga ucapan mu Lus , sekarang kamu pergi dari rumah ini ! " . Rina tersulut emosi .


" Dari tadi aku sudah mau pergi tapi kalian masih mengurung aku di sini , buktinya dari tadi pintu masih belum juga di buka " . Lusi menatap sinis Rina .


Agus merenung dia menyesali semua nya , dia sendiri yang menghancur kan rumah tangga nya saat bersama Firma sekarang dia menuai semua akibat nya .


                                                °°°°°°°


POV. FIRMA


Tanaman ku yang rindang selesai sudah aku rapikan . " Pasti ART yang di kirim budhe yang mengerjakan semua ini , padahal aku sudah mau manggil orang buat rapiin kebun " .


Saat aku membuka pagar ada suara perempuan yang tak asing memanggil ku .


Aku menoleh ke belakang , mengetahui sosok yang memanggil aku segera masuk dan mengunci pagar .


Lusi berlari menghampiri , " Bu , Bu Firma biarkan saya bicara , saya punya penawaran yang baik , penawaran ini gak datang dua kali loh " .

__ADS_1


Aku sungguh tidak tertarik dengan apapun yang di ucapkan Lusi , kalau pun ada penawaran baik tentulah keuntungan nya hanya buat dia tapi tidak buat ku .


Aku Menutup pintu dengan kasar dan tanpa memberi jawaban apapun .


Dari dalam terdengar ocehan Lusi , " Bilang aja kamu penakut Fir , nyali mu ciut untuk ketemu aku , kamu tak punya rasa percaya diri untuk ketemu aku " .


" Orang ini pernah belajar etika apa enggak sih teriak - teriak di rumah orang " . Firma menggerutu .


" Tuhan memang sayang pada ku , mas Agus lebih memilih aku dari pada kamu , aku juga bisa hamil anak mas Agus dalam pernikahan 2 bulan " . Lusi terus berteriak di depan pagar tanpa punya rasa malu pada orang - orang yang lewat di sekitar nya .


" Makanya punya harta itu di sedekahkan bukannya di timbun di nikmati sendiri , ingat sebagian harta mu itu milik orang lain yang lebih berhak " . Lusi terus menerus berteriak .


" Siapa sih bikin rusuh di luar , dari tadi kok teriak - teriak terus " . Budhe tiba - tiba di sebelah ku dan mengagetkan ku .


" Wanita stres itu rupa nya yang buat rusuh , biar budhe usir Fir " . Budhe sudah sangat geram .


" Ndak usah budhe , biarin aja satpam komplek yang mengusir , saya sudah telepon barusan .


Tanpa di duga budhe lewat pintu samping membawa seember air dan menyiram kan air ke luar pagar lewat sela - sela tanpa membuka nya .


" Eh ada orang tho kirain suara kucing kawin " . Budhe meledek Lusi yang membuat aku tertawa , tapu aku menutup mulut ku supaya tidak terlalu keras .


Tak berapa lama ada dua satpam komplek mengamankan Lusi supaya meninggalkan komplek .


" Nduk anak- anak bibi mau pamit pulang tuh " . Kata budhe Retno sembari menunjuk 2 pasang muda mudi .


" Siapa mereka budhe ? " .


" Mereka anak dan menantu bibi yang sudah bantu rapikan kebun " . Jawab budhe memperkenalkan satu persatu .


" Mau pulang sekarang ? , waa makasih banyak ya mbak , mas sudah di bantu merapikan tanaman - tanaman saya " .


" Maaf ya bu Firma kalau tidak cocok " . Jawab salah satu diantara mereka .


" Itu bagus sekali loh , boleh dong kapan - kapan saya minta tolong lagi " .


" Tentu bu eh mbak Firma , tapi kami nyamannya panggil bu aja ya " .

__ADS_1


" Baiklah terserah kalian saja enak nya bagaimana , oh ya sebentar saya punya oleh - oleh nih " . Aku masuk ke dalam kamar dan bergegas mengambil sarung , baju koko dan mukenah yang memang aku beli untuk di bagikan ke beberapa pedagang kaki lima yang biasa aku jumpai di dekat lampu merah .


Aku juga tidak lupa menyelipkan beberapa pecahan lima puluh ribuan di amplop untuk masing - masing anak dan menantu bibi yang sudah susah payah membatu ku menata ulang tanaman - tanaman yang sudah mulai berantakan sebab tak terawat .


" Mas mbak ini ada oleh - oleh tolong di terima ya " .


" Maaf bu tapi ini amplop untuk apa ? " .


Aku tersenyum , " Anggap saja ini tanda terima kasih saya karena sudah di bantu beres - beres di kebun saya " .


" Tapi kami ikhlas bantu bu Firma " .


" Di terima saja ya , saya juga ikhlas memberikannya " .


" Terima kasih banyak bu Firma kami pamit dulu takut kesorean nyampe rumah , Assalamu'alaikum " .


" Wa'alaikum salam " . Ternyata mereka sudah memesan taksi online untuk pergi ke terminal bis .


" Budhe ayo masuk " . Ajak ku sambil menggandeng tangan budhe .


Belum sempat aku mengunci pagar kami sudah di kagetkan dengan kehadiran Lusi yang entah datang dari mana , sepertinya dia sengaja menunggu sampai ada kesempatan pagar di buka .


" Bu Fir tolong lah dengarkan saya , ada penawaran bagus untuk bu Firma " .


Ungkap Lusi sembari menyodorkan sertifikat rumah .


" Maaf Lus , saya tidak berminat" . Kaki yang hendak melangkah ini di dekap Lusi hingga nyaris aku terjungkal .


" Liat ini bu 700 juta saja , murah kan ? " . Lusi memelas .


" Lepasin Lus , kamu sendiri tadi yang bilang jangan menumpuk harta , kamu benar aku tidak perlu lagi menumpuk harta yang akan mempersulit ku saat di hisab nanti " .


" Uang 700 juta itu bukan uang sedikit lagian mana punya aku uang segitu " . Lanjut Ku .


" Ayolah bu , tolong pikir kan nasibku dan anak ku nanti " .


" Kenapa harus Firma yang repot - repot mikirin , kamu sendiri aja gak pernah mikirin perasaan Firma " . Budhe ikut kesal .

__ADS_1


__ADS_2