
Sore ini aku dan ibu ada di rumah , baru saja kami tiba , Aku memang berencana mengantar ibu pulang sekalian mengambilkan baju buat bapak .
Drrtt .. Drrrttt ...
Tiba - tiba ponsel di saku ku bergetar . Ternyata dari adiku yang aku mintai tolong temani bapak .
" Assalamu'alaikum ada apa dek ? " .
" Mbak .. Mbak Firma langsung ke sini ya bapak pingsan " . Adik ku suaranya bergetar mungkin karena panik sebab selama ini kami memang belum pernah melihat bapak pingsan .
" Astaghfirullah .. Iya bentar aku ke sana segera " .
" Ada apa Fir ? " . Tanya ibu yang baru selesai mandi .
" Bapak pingsan bu saya harus ke rumah sakit , ibu ikut saja ya ? " .
" Angkasa gimana nak ? " .
Aku bahkan sampai melupakan anak kku yang aku titip kan di tetangga sebelah .
" Angkasa biar di titipin dulu aja bu mudah- mudah an tetangga kita bisa memaklumi nya , nanti aku tambah lagi uang jasa nya " .
Ibu mengangguk kan kepala nya . Aku tidak perlu mandi rasa nya aku juga tidak sabar mengetahui kondisi bapak sekarang . Aku hanya perlu mengganti baju ku saja dan membawakan baju ganti bapak , ibu juga adik ku .
Aku buru - buru mengambil tas ku dan ku panggil ibu . " Ibu .. Ibu .. Ibu sudah siap ? " .
Tanpa bicara lagi ibu bergegas mengunci pintu dan ke rumah tetangga untuk menitipkan anak ku lagi .
Di perjalanan aku tak berhenti berdoa berharap bapak akan baik - baik saja . Jam 7 malam kami tiba di rumah sakit .
" Fir , bu , kalian buru - buru mau kemana ? " . Tegur seseorang yang aku kenali suara nya di lobi rumah sakit . Dia juga membawa koper pakaian nya .
" Tadi kami dapat kabar kalau bapak pingsan mas " .
Aku bahkan tak berhenti saat menjawab pertanyaan mas Deni , aku tetap melangkah ingin segera melihat kondisi bapak .
Sesampai nya di ruangan bapak perawat dan dokter masih berusaha menyadarkan bapak .
" Dek bapak tadi kenapa , apa abis terjatuh ? " .
" Bapak ndak turun dari ranjang sama sekali mbak , tapi tiba - tiba bilang kepala nya sakit terus pingsan " .
__ADS_1
" Maaf bu pasien harus kami pindah ke ruang ICU , kami harap salah satu dari anggota keluarga ada yang mengurus administrasi nya , terima kasih " . kata perawat yang keluar dan berbicara pada kami .
Aku pun buru - buru ke bagian administrasi untuk menandatangani beberapa kertas . Usai mengurus semua nya aku pun kembali ke ibu dan adik ku yang duduk di depan ruang ICU .
" Bu gimana kondisi bapak ? " . Tanyaku pada ibu .
" Bapak masih di periksa dokter mbak " . Jawab adik ku .
Ku usap tangan ibu ku aku tahu ibu sangat mencemaskan kondisi bapak begitu juga dengan ku aku sangat khawatir dengan keadaan ibu juga kalau sering menangis seperti ini .
" Gimana kondisi bapak saya dok ? " . Aku langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU .
" Menurut catatan kesehatan pasien , tekanan darah pasien naik turun jadi menyebabkan pembuluh darah pada otak pasien pecah , kita harus menunggu hasil CT SCAN dulu . Jadi untuk sementara biarkan pasien istirahat dan keluarga hanya boleh menunggu di luar ruangan saja , permisi " .
" Assalamu'alaikum " . Mas Deni entah sejak kapan sudah berada di antara kami .
" Wa'alaikum salam " . Jawab kami .
" Gimana kondisi bapak Fir ? " .
" Tekanan darah bapak naik turun sehingga menyebab kan pembuluh darah bapak pecah mas , ini masih nunggu hasil CT SCAN nya " .
" Oh ini mau berangkat ke Jakarta " . Jawab mas Deni sambil tersenyum .
" Jam berapa mas berangkat nya ? " .
" Jam 8 " . Jawab nya sambil senyum lagi .
" Loh tapi ini hampir jam 8 mas , berangkat sekarang aja saya anterin " . Adik ku menawar kan diri .
" Gak usah di kejar pun juga gak keburu " . Dia masih bisa menjawab dengan tersenyum .
" Lalu gimana mas ? " .
" Ya aku harus inap di sini , boleh kan aku ikut nunggu di sini ? " . Jawab mas Deni dengan penuh harap dan tentu nya sambil tersenyum .
Malam ini kami berjaga karena kondisi bapak yang belum memungkinkan akhir nya operasi bapak malam ini di tunda dulu .
Adik ku katanya ke Warung dia tak bisa menahan kantuk jadi ijin ke warung dulu untuk minum kopi .
Jam dua dini hari aku sudah mulai menguap , ibu sudah tertidur lebih dulu karena kecapekan sedangkan mas Deni masih sibuk mengotak atik ponsel nya .
__ADS_1
Ku sandar kan kepala ku di dinding di sebelah ibu dan akhirnya aku tertidur .
" Mbak bangun sholat subuh dulu " . Adik ku membangunkan ku yang berat banget membuka mata rasa nya .
" Mas Deni kemana ? " .
" Ke toilet mbak sama ibu , mbak sholat subuh aja dulu biar aku yang jaga bapak " .
Aku pun mengangguk dan segera berdiri untuk ke mushollah tapi karena sudah tidak bisa menahan buang air kecil akhir nya aku berhenti di toilet yang dekat dengan ruang ICU .
Beberapa saat setelah aku keluar dari dalam toilet , toilet di sebelah pun terbuka . Memang toilet pria dan wanita bersebelahan . Namun ada tembok pembatas di antara nya .
Dari pintu tersebut keluar lah mas Deni yang dengan wajah dan rambut basah . Di situlah pandangan kami bertemu dan entah mengapa aku justru malah tidak segera menunduk kan pandangan ku ketika mata kami saling bertemu .
Seperti sama - sama terhipnotis mataku dan mas Deni sama - sama saling melihat sampai dengan kesadaran dalam diri ku toba - tiba muncul dan aku mulai beristighfar dalam hati .
" Firma , mau ke toilet ? " . Membuka obrolan di antara kami .
" Su sudah mas " . Jawab ku tergagap .
" Ibu sudah ke mushollah tadi " .
" Kalau gitu saya nyusul ibu mas , mau sholat subuh '' .
Mas Deni tersenyum mempersilahkan aku yang kemudian melewatinya .
Setelah sholat subuh aku dan ibu kembali ke ruangan tempat bapak di rawat . Tapi aku tidak melihat keberadaan mas Deni sampai akhir nya mataku melihat tas milik mas Deni masih ada di sini .
" Ah mungkin dia lagi di luar " . Pikir ku .
" Bu , Firma mandi dulu ya " . Sembari ku bawa tas ku yang berada di dekat ibu .
Setelah selesai mandi aku pun bergegas kembali ternyata di sana sudah ada mas Deni yang membawa beberapa bungkus nasi . Rupa nya dia membelikan sarapan untuk kami tadi .
" Firma , ini ada sarapan dari nak Deni , kamu makan saja dulu ibu nanti saja setelah mandi " . Ibu berkata pada ku seraya menyodorkan sebungkus makanan pemberian mas Deni .
" Nak Deni silahkan makan duluan ibu tinggal mandi dulu " .
Mas Deni pun mengangguk . " Saya permisi ke depan ya mau merokok , tadi sudah makan duluan " . Dia tertawa kecil kemudian meninggalkan aku berdua dengan adik ku .
Aku tahu dia hanya ingin aku bisa menikmati sarapan ku , dia membiarkan aku merasa nyaman saat makan .
__ADS_1