Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Pesan Singkat


__ADS_3

Udara yang terasa sangat dingin seakan menggigit lembaran demi lembaran kulitku di pagi itu. Dengan di temani segelas coklat hangat, aku duduk meringkuk di atas sofa dengan selimut yang masih membalut tubuhku.


"Hah! Enaknya," Ungkapku.


Aku mengambil ponsel di depanku dan mencoba menghubungi Shin Ji Joon melalui sebuah Aplikasi pesan singkat di ponselku.


Shin Ji Joon adalah seorang Manager di salah satu perusahaan Iklan terkenal di Korea Selatan, tepatnya di Daerah Daejeon. Dia jugalah orang yang bisa menggetarkan hati dan jantungku. Merasakan perasaan yang membuat jiwaku gaduh tak tenang.


Di hubungi gak ya?!


Setiap aku mengingatnya. Aku merasakan sesuatu kehangatan di dadaku. Yang aku sendiri tak mengerti itu apa dan kenapa.


Hah, Sial. Perasaan ini lagi,,


Sayang, seakan dia terlalu berkilau untukku dekati. Selama ini aku hanya bisa terdiam memandangnya dari kejauhan. Sebenarnya, ingin sekali aku bertanya padanya. Siapa dia? Kenapa dada selalu terasa hangat dan tenang saat dekat dengannya?!


"Ah sial. Kenapa dingin sekali sih?" keluhku meringkuk lebih erat kedalam selimut.


Aku harus segera memberikan berkas itu kepada Shin Ji Joon. Jika tidak cepat, mati aku. Senpai bisa membunuhku. Batinku dalam pelukan selimut hangat ku.


Aku melirikkan mataku ke arah jam besar yang terus berdetak. Aku bangkit dari dudukku dan bergegas mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaanku.


"Huahhh!!" Uapku.

__ADS_1


Baru aku melangkahkan satu kakiku ke dalam kamar. Suara yang tak asing di telingaku memanggilku dari belakang.


"Oe, Ha Jae!"


Aku terperanjat dan tertegun menoleh ke arah sumber suara itu.


"Senpai, nani?" jawabku.


Terlihat Yokada yang sudah berdiri tepat di anak tangga dengan serius melihatku.


"Aku mau berangkat. Jangan lupa kunci pintunya nanti kalau pergi." pamitnya.


"Hemm," sahutku.


Willyam Yokada Yoshida, aku memanggilnya Senpai. Kita bukan sodara kandung atau sodara dekat. Walau begitu, hubungan kami sudah seperti kakak dan adik. Bahkan lebih dari seorang sahabat. Dia adalah Tuanku dan juga pemilikku.


Sebelum aku berangkat ke tempat yang sudah aku tentukan. Aku kembali membuka histori Chatku kepada Shin Ji Joon. Aku memastikan bahwa dia sudah membaca pesan dariku. Ingin aku menelponnya, tapi agaknya tak sopan jika pagi-pagi aku menelpon hanya untuk sebuah janji. Agaknya, pesan singkat saja sudah cukup untuk membuat janji dengannya.


...(Pesan Chat Untuk Shin Ji Joon)...


"Selamat pagi Pak Shin ji Joon. Maaf jika mengganggu waktu Anda."


"Saya ingin memberikan Berkas dari Pak Yokada. Bisakah siang nanti kita bertemu di Cafeshop??"

__ADS_1


"Saya akan menunggu Jam 12.30 siang nanti, Terimakasih atas waktunya."


Aku bergegas naik ke dalam Bus. Untuk menghilangkan rasa bosanku di perjalanan. Aku kembali melihat histori chatku kepada Shin Ji Joon. Tapi agaknya, pesanku belum juga di baca olehnya. Aku termenung penuh harap untuk dapat bertemu dengannya nanti siang.


Kok belum di baca ya? Batinku.


Mungkin, sudah jadi hal yang biasa jika orang seperti Shin ji Joon sangat sibuk. Sampai-sampai ia tidak sempat membalas bahkan membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Salah satunya pesan yang aku kirim kepadanya.


Walau begitu, dia adalah tipe orang yang tidak bermain-main dengan pekerjaannya, apa lagi dengan hal seperti ini, dia sosok yang ulet dalam bekerja. Sifatnya itu pula yang membuatku mengaguminya dan tertarik memperhatikannya. Dia benar-benar pribadi yang dewasa dan dermawan. Aku yakin, dia pasti akan datang nanti siang.


Aku tidak tau, kenapa aku bisa seyakin ini terhadapnya. Aku hanya mencoba yakin dengan diriku sendiri, apa pun itu, jika hatiku berkata Ya berarti Ya.


Walau sering aku di buat kesal karna keyakinanku salah. Tapi tetap saja, jika soal Shin Ji Joon, sesalah apa pun, hatiku selalu ingin merasa yakin padanya.


"Hufff.. "


Jadi teringat kembali pertama kali aku bertemu dengan orang itu. Dia selalu membuat tersenyum. Pertama kita bertemu dan berkenalan, saat ada pesta kecil di rumah.


Awalnya aku tidak terlalu tertarik padanya, bahkan tak memperhatikan dan mengenalnya sejauh ini. Tapi karna kedekatannya dengan Yokada, aku sering bertemu dan selalu memperhatikannya.


Kita pernah melakukan liburan kemah bersama di musim panas 2 tahun yang lalu. Di situ lah awal aku merasakan kehangatan dalam dadaku ini. Benar-benar kehangatan yang belum pernah aku rasakan selama ini.


Aku penasaran, jiwaku merasa tak tenang dengan kehangatan itu. Aku mulai mencari tau tentang kehangatan apa yang sebenarnya aku rasakan. Mereka semua bilang, itu adalah Cinta.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2