
Pagi itu Shin Ji Joon sudah siap dengan pergi ke rumah Yokada. Hari ini adalah hari yang di nanti oleh Shin. Dia akan pergi ke Jungang bersama Ha Jae. Shin berharap, Ha Jae dapat memaafkan dirinya yang tak merespon chat dan janji, yang Ha Jae buat di Cafe Shop.
Ngunggggggg! (suara mobil yang datang).
Shin sudah sampai di depan rumah Yokada. Shin pun turun dari mobilnya. Dia melihat Man sudah duduk jongkok di luar gerbang. Shin melempar sesenyuman tipis, sebelum pergi ke arah Intercom.
Ting tong ting tong! (suara bel berbunyi).
"Ayeonghaseo." salam Shin.
"Ohh Shin, ayo masuk. Ah di atas saja, kita ngopi di atas." jawab Yokada dari intercom.
Shin pergi menuju ke tangga. "Kau tidak mau ikut? Di luar dingin, lebih enak ngopi di dalam."
Man bangkit dari duduknya dan mengikuti Shin menuju lantai atas.
Klekks! (bunyi pintu di buka).
"Ahh Shin, ayo sini masuk." titah Yokada.
Yokada terdiam melihat Man berdiri tepat di belakang Shin.
"Shin ayo masuk. Kau tidak usah." ucap Yokada menunjuk Man seakan melarangnya masuk.
"Lebih baik dia masuk, aku rasa dia sudah menunggu lama dari tadi." ucap Shin.
"Haiss." seru Yokada.
"Ayo masuk." ajak Shin.
"Ya sudah masuk." titah Yokada merasa tidak enak dengan Shin.
"Hei buatkan kami kopi, cepat." titah Yokada kepada Man.
"Is sial." gumam Man.
Dia melihat ke arah kaca yang ada di bar. Man tau itu jendela kamar 1 sudut di kamar Ha Jae.
"MAAF GULANYA DI MANA YA?!" sergah Man.
"Hais kau! Hei aku tidak tuli. Kau tidak lihat di dalam lemari kaca atas itu!" hardik Yokada dengan kesal.
"OH, TERIMAKASIH!" sergah Man sekali lagi.
"Dasar, brandalan ini." seru Yokada.
Man membuatkan kopi untuk Yokada dan Shin. Yokada dan Shin pun berbincang di sofa tamu. Sedangkan Man memilih menyendiri di bar sembari menikmati secangkir kopi.
"Ting, boleh pesan kopi, Pak?" goda Ha Jae dengan senyuman tipis kepada Man.
"Oh selamat pagi semua." sapa Ha Jae melemparkan senyuman kepada Shin dan Yokada.
"Asem, kenopo lagi tangi he? Jam piro iki?" (Sial, kenapa baru bangun ha? Jam berapa ini?) sergah Man kepada Ha Jae.
__ADS_1
"Jam 7 he he." jawabnya datar.
"Ayolah, ini masih pagi." goda Ha Jae tersenyum menyeringai.
"Karet." sahut Man kesal.
"Anu, apa lebih baik kita berangkat sekarang?" seru Ha Jae.
"Oh okay." jawab Shin menyeruput kopi di hadapannya.
"Tunggu, aku ingin bicara denganmu. Duduk." sela Yokada.
"Nanti saja, kita sudah telat. Bei bei." sahut Ha Jae melambaikan tangan keluar rumah.
"Kami pergi dulu." ucap Shin kepada Yokada.
"Hei kenapa kau ikut?" sergah Yokada kepada Man.
"Kalau dia gak ikut, siapa yang jadi Setan nya. Yuk." celetuk Ha Jae menarik dan merangkul tangan Man.
Mereka pun bergegas pergi ke dalam mobil.
"Anu, kita mau kemana dulu." tanya Ha Jae.
"Kita langsung saja ke Jungang." jawab Shin.
"Aku pikir sarapan dulu." sahut Ha Jae.
"Oh ya, kita belum sarapan. Mau makan apa?" tanya Shin.
Sesampainya di Jungang. Mereka pergi ke salah satu toko textile. Di sama mereka bertemu dengan Kyun, Hani, Jennie. Mereka pun bersama-sama membantu pekerjaan Shin dan Ha Jae.
...(baca bab "Kebingungan Hati")...
"Lebih baik kita bagi jadi 2 regu?" usul Ha Jae.
"Ah kurang asik. Gimana kalau tiga. Kita kan pas berpasang-pasangan. Aku dengan Jennie, Kau dengan Pak Shin, Hani dengan Man." sahut Kyun.
"Eh enak saja, dia aku ajak kesini karna mau aku kasih tugas sendiri tauk!" protes Ha Jae kepada Kyun. "Oh tapi baik lah, itu ide bagus. Dengan gitu pekerjaan jadi cepat selesai."
"Gimana Pak Shin? Apa Anda setuju??" tanya Ha Jae kepada Shin yang berdiri di sampingnya.
"Okay. Aku juga tidak menyangka bahwa kalian datang membantu." sahutnya.
Mereka pun berpisah di tempat itu. Kyun bersama Jennie ke arah selatan. Man dan Hani ke arah utara. Sedangkan Shin dan Ha Jae di area tengah.
Beruntung bagi Shin bisa satu tim dengan Ha Jae. Seperti ini sudah takdir baginya. Walau begitu, Shin masih merasa canggung untuk membuka percakapan kepada Ha Jae.
"Aku tau aku tak salah memilihmu. Tuhan pun juga berpihak kepadaku tentang dirimu. Aku yakin." gumam Shin dalam hati.
"Ha Jae, sebaiknya kita mulai dari sini saja." ucap Shin berbalik memandang Ha Jae yang berada jauh di belakangnya.
Mereka saling bertatapan beberapa waktu, sebelum Ha Jae menjawab ucapan Shin.
__ADS_1
"Oh. Ya okay." jawab Ha Jae menghampiri Shin.
Mereka pun mulai wawancara, dengan meminta seweorang warga yang ada di sana untuk mencoba produk mereka. Dengan wajah tampan Shin. Banyak warga yang antusias, mencoba produk tersebut dan memberikan review yang positif.
...----------------...
Setelah selesai wawancara. Shin dan Ha Jae kembali ke pohon Sakura yang menjadi titik tempat berkumpul mereka. Shin pergi ke salah satu kedai kopi untuk membeli minuman. Sedangkan Ha Jae, tetap menunggu di bawah pohon Sakura.
"Hei, ini untuk mu." seru Shin menyodorkan segelas Kopi kepada Ha Jae.
"Terimakasih." sahut Ha Jae mengambil kopi dari tangan Shin.
Sembari menunggu teman-teman yang lainnya. Mereka duduk sembari menikmati segelas Kopi. Lama mereka menunggu, tapi rekan yang lainnya pun tak kunjung datang juga.
Jauh di depan sana, Ha Jae melihat sebuah toko barang antik tua yang terlihat menarik. Dia ingin sekali pergi ke toko itu.
"Anu, boleh aku pergi sebentar. He he di sana ada Toko Barang Antik, kelihatannya bagus." ucap Ha Jae kepada Shin sembari menunjuk ke arah toko itu.
"Oh silahkan." jawab Shin.
"Anuu, Anda mau ikut?? Mmm lebih baik dari pada menunggu sendiri di sini." tutur Ha Jae kepada Shin berharap dia tak menolaknya.
Shin Ji Joon hanya tersenyum kepada Choi Ha Jae. Mana mungkin dia akan menolak ajakan gadis yang dia suka itu. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Shin bisa terus berada di dekat Ha Jae.
Berlahan Shin mengikuti Ha Jae dari belakang. Dia sangat senang, hari ini dia punya banyak waktu bersama Ha Jae. Shin tak akan menyia-nyiakan waktu ini. Dia terus memperhatikan Ha Jae dan menikmati setiap detiknya bersama gadis itu.
Shin begitu tertarik saat Ha Jae memegang sebuah boneka yang usang. Kelihatan sekali dari wajah Ha Jae bahwa dia sangat tertarik dengan boneka itu. Shin pun mendekat dan bertanya ke pada Ha Jae.
"Kau mau membelinya? Kamu bisa membeli yang baru." sela Shin mengganggu perbincangan Ha Jae dan pemilik toko itu.
"Aku suka Karakternya." sahut Ha Jae tersenyum ke arah Shin.
"Benar kata Yokada. Kau memang gadis yang spesial." batin Shin tersenyum melihat Ha Jae yang terlihat asik dengan boneka itu.
Ngukkkkkkkk! (suara ponsel Choi Ha Jae bergetar).
Ha Jae bergegas mengangkat telepon miliknya. Dia menaruh boneka itu di atas meja dan beranjak dari tempat itu. Shin yang juga tertarik dengan boneka itu. Mendekat ke arah pemilik toko itu.
"Aku membeli boneka ini. Berapa pun Tuan minta, saya akan membayarnya. Berikan boneka ini kepada gadis itu. Tapi jangan bilang aku yang memberikannya." ucap Shin kepada pemilik toko itu.
"Ohh baik Tuan." sahut kakek pemilik toko.
"Terimakasih." ucap Shin.
"Sama-sama." sahut kakek itu.
Shin kembali melihat-lihat barang yang di pajang di sana. Tak lama Ha Jae pun kembali memhampiri mereka.
"Emm anu, kita di tunggu anak-anak di tempat Makan Jepang yang ada di sebrang jalan. Tidak apa-apa kan, jika kita makan siang dulu sebelum pulang?" tanya Ha Jae kepada Shin.
"Oh okay." jawab Shin tersenyum ramah.
...(baca bab "Dollfie Yang Malang")...
__ADS_1
...----------------...