Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Emosi Yang Tersirat


__ADS_3

"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?" Sambut seorang Resepsionis kantor.


"Ada Pak Shin Ji Joon?!" tanyaku.


"Oh Beliau belum datang. Silahkan menunggu sebentar di ruang tamu. Mari saya antar," ucap karyawan itu.


"Tidak usah. Kami dari Asian Production. Kami melihat perkembangan pembuatan iklan kami." jelasku.


"Oh sebentar," Karyawan itu melihat data dalam komputernya.


"Untuk Asian Production, ada di lantai 5 Nona." tuturnya.


"Okay, terimakasih." ucapku.


"Sama-sama." jawab karyawan itu.


Kami naik lift menuju ke lantai 5. Sampai di sana, terlihat banyak karyawan berlalu-lalang mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Kami menuju ke salah satu ruang studio untuk melihat pembuatan iklan produk kami.


"Man, kamu bisa duduk di sana. Oh ya, titip tasku, aku mau main game sebentar." titahku.


Aku merogoh tasku untuk mengambil sebuah changer dan ponselku.  Aku memberikan ranselku ke pada Man, sebelum berjalan dan duduk berjongkok di pojok ruangan agar dekat dengan colokan listrik.


Dengan gesit, aku membuka Game favoritku dan memainkannya.


Absen ah. Ntar di Kick lagi dari Tiem. Gumamku dalam hati.


"He kamu, kerja!! main hp aja. Angkat ini ke sana!" hardik seseorang memangilku.


"Ha? aku??" sahutku.


"Iya kamu, siapa lagi!! cepat! ambil kostum di gudang juga!!" sergahnya


"Siap Pak?!" ucapku datar.


Aku menaruh ponselku di lantai lalu bergegas mengambil sebuah tas Make-up yang ada di pojokan ruangan. Aku membawanya ke tempat rias yang berada di ujung ruangan.


"Yo, kowe lagi ngopow?!" (Yo, kamu lagi apa?!) seru Man mengejutkanku berdiri di sebelahku.


"Sttt, dah sana duduk." titahku memintanya untuk tidak urus campur.


"Cihh!" gumam Man kembali ke tempat duduknya.


Man terus memperhatikanku yang lalu lanang kesana kemari. Aku sesekali melirik kearahnya melemparkan senyum simpul kepadanya.


Gethebruk! (suara aku yang terjatuh tersandung kabel).


"Ah, maaf," ucapku.


"Heh, kalau kerja hati-hati!" hardik lelaki itu. "Ya ampun ini tas Yura!"


"MWO!!" pekik seorang wanita dari tempat rias.


Dia bergegas menghampiri kami dengan muka kesal.


"Kya!!" serunya menyaut tas yang ada di tanganku dengan kuat. "Hahg tasku!"

__ADS_1


Perempuan itu melihat tas berwarna hitam dengan rantai emas mengkilap dengan teliti.


"Kya!! Kamu tau berapa Harga tas ini?! Kamu kerja seumur hidupmu tak akan bisa beli tas ini!!" cercanya kepadaku. "Dan sekarang kamu merusakan nya!! INI TAS KESAYANGAN KU!"


"Maaf," ucapku menunduk penuh salah.


"Aku tidak ta- ... " Belum selesai aku berbicara, wanita itu menyela.


"Aku tak mau tau, kamu harus pecat dia!" hardiknya berbicara kepada pegawai di sampingku.


"Ahh tapi. Kalau tidak ada dia, siapa yang mengangkat barang-barang di sini? Lagian tasnya kan tidak lecet sedikit pun." ucap lelaki itu mencoba membujuk wanita itu.


"MWO?! Tidak lecet?!! Kamu tidak tau berapa harga tas ini?! Tas ini hadiah dari Shin. Berani-beraninya kamu bilang hanya lecet!" cerocos wanita itu. "Aku tidak mau tau. Pecat dia atau aku akan bilang ke Shin, biar kamu yang akan di pecat!"


"Ehh Nona," sahut lelaki itu membuntuti wanita itu untuk membujuknya.


Aku sangat kesal melihat sikap wanita.


Keterlaluan! Gumamku dalam hati.


Aku melihat wanita itu membuang alat Make-up di hadapannya. Dia benar terlihat sangat kesal.


Gila padahalkan cuman tas. Gak lecet pula tuh. Gumamku tak habis pikir.


Aku masih berdiri terpaku memperhatikan wanita itu. Tak lama karyawan itu berpaling menghampiriku yang masih berdiri di posisiku.


"Ehhh kamu ini, buat ulah saja. Sudahlah, lebih baik kamu pulang saja. Nanti jika ada pemotretan lagi akan kami panggil." Titah lelaki itu.


"Iya," jawabku lirih memperhatikan wanita itu.


Aku berlahan berpaling menghampiri ponselku di pojok ruangan. Aku bergegas menghampiri Man yang terlihat puas melihat nasib apesku.


"Ya Nona?!" jawabnya.


"Itu, wanita itu siapa namanya?!" tanyaku menunjuk ke arah wanita itu.


"Hah, serius? Kamu ini," senyumnya menyeringai. "Itu Yura, Artis terkenal. Masak tidak tau? ah sudahlah."


Lelaki itu pergi begitu sana meninggalkanku. Dia terlihat tak percaya bahwa aku tak mengenal artis yang dia maksud.


"Yura?!" Gumanku.


Aku menyenderkan badanku di dinding samping pintu keluar, membuka ponselku untuk mencari tau tentang Yura.


...----------------...



...Han Yura...


Artis terkenal di Korea Selatan, pernah membintangi beberapa film dan jadi bintang iklan banyak produk.


Pernah beberapa kali tersandung skandal asmara dengan pengusaha terkenal dan artis papan atas. Dia juga pernah tersangkut hukum masalah aliran korupsi.


...----------------...

__ADS_1


"Permisi," ucap sebuah suara tepat di belakangku.


Aku menoleh terperanjat memberikan hormat.


"Ee, Pak," tundukku.


"Ahh Pak Manager, akhirnya datang. Yura sudah siap, mau langsung pemotretan?!" Sapa lelaki tadi menghampiri Shin Ji Joon.


"Ehh kamu ini, masih di sini. Sudah pergi sana." titah karyawan itu mendorong pundakku mengusirku. "Ah, maaf Pak. Pegawai ini, dia sudah saya pecat."


Shin ternyalang melihatku. Dia tampak kebingungan dengan apa yang dia dengar. Aku hanya diam bergeming di hadapannya.


"Mari Pak," sambung lelaki itu mempersilahkan Shin ke area pemotretan.


"Sebentar!" seru Shin menatapku tajam.


Shin tertegun seolah menunggu penjelasanku. Namun aku masih terpaku melihat jauh ke arah Yura.


"Maaf, walau dia pacar Anda. Tapi saya ingin Anda menggantinya sebagai model produk kami. Saya tidak ingin produk kami dia yang membintanginya." titahku ke pada Shin.


Mataku masih terpaku melihat Yura dengan sengitku.


"Apa maksudmu?" tanya Shin.


"Ganti dia." titahku kepada Shin. "Juga dia."


Aku menatap sinis ke arah lelaki yang berdiri di sampingku itu.


"Apa aku??!" sahut lelaki itu dengan bingung.


"Aku tidak suka dengan orang yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dia emban." ungkapku. "Dia, tidak pantas menjadi tangan kanan fotografer pemula sekali pun, apa lagi Tuan Shin Ji Joon. Mungkin akan tepat kalau jadi penonton bayaran."


Dengan kesal, aku mencerca lelaki itu dengan sinisnya.


"Letoy!" sungutku menatap lelaki itu dengan sinis. "Man, ayo pulang!"


Aku melihat ke arah Man yang duduk di sofa bermain ponsel. Mengajaknya segera pergi dari tempat itu.


"Opow?!" (Apa?!) serunya.


"Aku kan sudah di pecat! Ayo pulang. Aku lapar." sindirku.


Man berdiri menghampiri Shin dan memberikan berkas yang mereka bawa. Man sempat memberikan tatapan tajam kepada Shin, sebelum akhirnya dia keluar mengikuti Ha Jae. Mereka pun bergegas meninggalkan studio itu.


Shin hanya bergeming terpaku bingung dengan keadaan yang terjadi. Pandangannya tak putus dari Ha Jae yang meninggalkan Studio. Sampai pandangan Shin terputus oleh pintu lift yang berlahan tertutup. Dia menghela nafas menatap tajam karyawannya itu.


...----------------...


"Huuuaaahhhhh!" seru Man menguap dengan tanganya di naikan ke atas. "Mangan opow?" (makan apa?)


"Aku pengen Mie Instan." ucapku datar.


Aku tidak tau kenapa, dadaku terasa sesak sejak aku mendengar Yura mengatakan tas itu pemberian Shin Ji Joon. Perasaan yang aneh itu muncul kembali.


Sedih, tapi soal apa?! Apa aku sedih di pecat?! Lha aku kan Bos!! Gumamku dalam hati.

__ADS_1


Tingg! (bunyi Lift terbuka).


...****************...


__ADS_2