Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Tahun Baru


__ADS_3

"Hai, bawa tikarnya di sini. Gelar di sini," titah Kyun.


"Ayoh sini," seru Jennie.


Kyun, Jennie, Hani, Man, dan ketiga anak Ha Jae (Haneul, Nami, Yuri) mereka merayakan malam tahun baru bersama di halaman rumah Yokada. Mereka tak lupa mengundang rekan dekat lainnya seperti Min Ho dan istrinya, begitu juga Shin Ji Joon.


Namun, Shin Ji Joon sampai tengah malam tak kunjung datang juga. Yokada yakin, Shin tak akan datang ke pesta malam itu. Karna dia sudah tak seperti Shin yang di kenal selama ini.


"Bibi, ambilkan aku Wine," titah Yokada kepada Yu Hee.


"Baik, Tuan," sahut Yu Hee.


"Ae-Ri, ini untukmu. Aku sudah memakainya. Pasti kau cantik memakai ini," ucap Haneul memberikan sebuah gaun kecil ke pada Ae-Ri cucu Yu Hee.


"Terimakasih," sahut Ae-Ri.


"Maaf, aku telat," ucap Shin Ji Joon.


"Wah, Pak! Mari silahkan. Ini bakar sosisnya," sambut Kyun.


"Ehh kau ini, dateng-dateng suruh bakar Sosis. Lagian dia kan atasan mu," tegur Jennie.


"Atasan di cafe, di sini teman. Benarkan, Shin?!" tanya Kyun.


"Ah, biar aku yang membakarnya," ucap Shin mendekat ke arah Kyun.


"Shin, aku pikir kau tidak akan datang. Mana tunangan mu?" sapa Yokada.


"Dia ada acara lain," sahut Shin.


"Harusnya bersama biar serasi," celetuk Hani.


"Ah, kau ini, kau saja tidak sama pacarmu." celetuk Kyun.


Malam itu, malam tahun baru yang sangat meriah. Mereka merayakan bersama dengan bahagianya. Semua orang hadir di sana, kecuali Ha Jae yang masih di perjalanan pulang dari Indonesia.


"Hai, Man. Kau tidak suka acaranya hah?!" tegur Kyun.


"Tidak," jawab Man.


"Uhuk, uhuk," Kyun menggibas-gibaskan tanganya. "Kau ini. Kenapa suka sekali makan asap sih?! Lebih enak dan kenyang makan sosis,"


"Cih!" gumam Man.


Man terlihat cuek di hadaoan Kyun. Kyun pun terlihat merasa bosan. Dia sesekali melihat ke arah Shin Ji Joon yang duduk menikmati Wine bersama Yokada jauh di hadapannya.

__ADS_1


Kyun merasa curiga saat menyadari Shin yang sesekali dengan serius memperhatikan Haneul yang sedang berbincang dengan yang lainnya.


"Aneh," gumam Kyun memiringkan kepalanya.


"Apanya?!" tanya Man melihat Kyum dengan serius.


"Coco sudah ada kabar?" tanya Kyun.


"Belum," jawab Man.


"Ah, orang itu," gumam Kyun.


Mereka menghabiskan waktu berdua dengan berbincang ria. Malam tahun baru di malam itu pun. Berlangsung dengan meriah.


......................


"Selamat datang, Tuan," Sapa para penjaga.


Sanji dan Ha Jae baru saja menginjakan kaki di Korea denga pesawat Jet pribadi milik Sanji. Baru turun dari pesawat, mereka sudah di sambut dengan banyaknya anak buah Yokada.


"Nami, pelan-pelan. Kita ke kediamanku dulu. Ada sesuatau yang ingin aku tunjukan padamu." tutur Sanji.


Ha Jae menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Sanji yang persis di sampingnya.


"Kau pulang saja dulu. Nanti aku akan datang menemuimu," ucap Ha Jae. "Oh ya, aku butuh Sakeji. Siapkan dia,"


"Kau kemari," titan Sanji.


"Ya, Tuan," Hadap seorang pengawal.


"Hubungi Sakeji, suruh dia datang ke rumahku." titah Sanji.


"Baik, Tuan." jawab pengawal itu.


Hari sudah mulai senja. Mentari pagi sudah mampir muncul dari sisi timur. Ha Jae, dengan perasaan yang bahagia penuh rindu. Dia berlahan masuk ke dalam kamarny untuk memberi sebuah kejutan.


Ngekkkk! (bunyi pintu terbuka).


"Nami?! Mereka di sini." batin Ha Jae.


Ha Jae dengan hati-hati melihat Nami yang duduk di meja kerja kamarnya. Dia membuka buku catatan milik Ha Jae. Buku catatan perjalanan hidup Ha Jae dulu.


Dengan berlahan, Ha Jae masuk ke dalam kamarnya. Dia berlahan mendekati Nami yang dengan serius membaca buku usang itu. Ha Jae juga melihat beberapa barang berharganya yang sudah tergeletak di atas meja. Dia yakin, Nami sedang mencari sesuatu.


"Hah?!" pekik Nami.

__ADS_1


Ha Jae menepuk pundak Nami hingga tersentak. Nami tertegun di hadapan Ha Jae.


"Siapa ini?" batin Nami.


Nami tak bergerak beberapa saat. Dia tak berani menatap orang yang berdiri di belakannya itu. Dengan tetiba, Ha Jae menarik kursi roda yang Nami duduki.


"Kang Na-mi," panggil Ha Jae.


Nami ternyalang melihat siapa yang ada di hadapannya itu. Dia begitu takut melihat Ha Jae yang mengetahui bahwa dirinya membongkar barang berharga miliknya.


Ha Jae menyimpan rapat barang-barang itu di bawah kasur tempat tidurnya. Ntah kenapa, barang itu bisa Nami temukan.


"Kau sedang apa?!" tanya Ha Jae melempar senyumam ke arah Nami.


Ha Jae mendekat ke arah meja. Dia meraih sebuah belatik hitam yang terbungkus dengan kain merah. Ha Jae tersenyum melihat benda di hadapannya itu. Ha Jae juga melihat satu per satu barang miliknya yang sudah berada di atas meja itu.


"A-ku," ucap Nami.


"Kau penasaran denganku?! Kau ingin tau tentangku?!" celetuk Ha Jae.


Ha Jae melirik ke arah Nami dengan senyuman menyeringai yang menakutkan. Belatik yang sudah dia keluarkan dari bungkusnya. Ha Jae mainkan di tanganya.


"Ini adalah belatik yang aku gunakan untuk membunuh Ibu Haneul. Ibu yang melahirkannya," tutur Ha Jae memandang tajam Nami.


Nami ternyalang mendengar peryataan Ha Jae. Dadanya tersentak dan berhenti begitu saja. Wanita yang sudah dia angkat sebagai Mamanya. Tak sepertinyang dia kenal malam itu. Dia seperti orang lain di hadapan Nami.


"Hagh, Mama. Itu tidak lucu," ucap Nami.


"Memang tidak lucu," Ha Jae tak melepaskan pandangannya dari Nami.


Nami terlihat begitu sangat ketakutan. Ha Jae seakan mencengkram jiwa Nami dalam ketakutan yang mendalam.


"Nami. Tampa kau cari tau, kau akan tau siapa aku sebenarnya nanti. Siapa pun aku. Yang aku inginkan dari dirimu adalah kehidupan. Hiduplah dengan benar dan bahagia. Mudahkan?!" ucap Ha Jae berbisik ke arah Nami.


Nami tak melepaskan pandangannya dari Ha Jae. Dia begitu sangat ketakutan.


"Bantu Mama, angkat koper. Mama bawakan oleh-oleh untukmu." titah Ha Jae.


"Hemm," gumam Nami.


Nami bangkit dari duduknya. Dengan cepat Ha Jae menarik legan Nami.


"Satu lagi," ceketuk Ha Jae. "Jangan berisik. Nanti yang lain bangun. Mama mau buat kejutan." bisik Ha Jae kepada Nami.


"Ya, Mama." sahut Nami berlari keluar kamar.

__ADS_1


Ha Jae tersenyum puas dengan apa yang dia lihat. Ha Jae merapikan semua barang miliknya yang ada di atas meja. Dia yakin, bahwa Nami tak akan berhenti mencari tau siapa dia sebenarnya.


...****************...


__ADS_2