
"Amma, aku datang," ucap Haneul berdiri di sebuah batu nisan yang terpajang sebuah foto wanita yang cantik nan anggun.
Haneul meletakkan sebuah bunga lili dan setangkai bunga mawar di atas nisan itu.
"Amma, itu Yuri dan Nami. Sahabatku yang aku ceritakan dulu. Sekarang mereka jadi sodaraku. Mama, mengangkat mereka jadi anaknya. Aku bahagia, aku gak sendiri lagi," tutur Haneul.
Haneul duduk bersipu di depan nisan itu. Yuri dan Nami pun ikut meletakan bunga yang mereka bawa di atas nisan itu. Sedangkan Shin, tertegun menunggu Haneul dan kedua sodaranya.
"Amma, Appa mau menikah. Tapi gagal," ucap Haneul. "Apa Amma gak setuju?!"
Haneul terlihat sendu. Dia memetik satu per satu kelopak mawar yang dia bawa.
"Aku ingin Appa menikah dengan Mama. Amma setujukan?! Amma harus bujuk Mama," beber Haneul. "Aku sering minta Mama menikah dengan Appa. Tapi Mama hanya tertawa. Mama bilang, itu bukan takdirnya. Apa maksudnya?!"
"Itu artinya, Mama bukan jodoh Appa mu," ceketuk Yuri.
"Hus," seru Nami.
"Mama belum pernah menikah. Apa salahnya menikah dengan Appa. Aku anaknya. Appa tampan, kaya, keren. Mereka sangat serasi," tegas Haneul.
"Kau tidak boleh egois. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau dunia dewasa itu sulit dan rumit," balas Nami.
Haneul terdiam. Dia menunduk tersendu. "Maaf. Aku," sahut Haneul.
"Aku tau. Kau takutkan bunya Mama dan Papa tiri?! Kami juga seperti itu. Kami selalu kabur jika ada yang ingin mengadopsi kami, dulu." tutur Nami. "Keluarga yang bukan kandung itu mengerikan. Yang kandung saja membuang kami. Apa lagi yang bukan kandung. Memang tak semua keluarga angkat seperti itu, tapi belum tentu keberuntungan itu untuk hidup kami,"
"Kami kami sekarang beruntung," timpal Yuri. "Aku punya Mama, dan kamu. Paman, mereka semua orang yang baik,"
"Hemm, belum tentu yang kita takuti itu mengerikan. Percayalah," timpal Nami. "Lagiankan sekarang ada kita,"
"Benar! Jika nanti Mama tirimu kejam. Biar Nami yang hajar, hiatt," tutur Yuri.
"Heh! harusnya kamu!" hardik Nami.
"Akukan Hakim, mana boleh memukul terdakwa," tukas Nami.
"Tapi kau harus jatuhkan hukuman kejam untuk dia," ucap Nami.
"Hemm! Pasti!" sahut Yuri.
Ha ha ha ha!
Mereka tertawa bersama. Saling bercerita satu sama lain. Sedangkan Shin, diam-diam memotret foto yang terpajang di batu nisan itu. Shin semakin penasaran dengan kehidupan Choi Ha Jae.
......................
"Daaa!! Sampai bertemu lagi" seru Nami dan Yuri.
"Kalian hati-hati. Jangan nakal ya." sahut Kepala Panti. "Tuan, titip Nami dan Yuri. Saya mohon, anggap mereka seperti anak Tuan sendiri,"
"Ya. Baiklah," sahut Shin Ji Joon dengan ragu.
"Bibi, sampai jumpa lagi," seru Haneul dari dalam mobil.
Shin Ji Joon bergegas masuk ke dalam mobilnya. Berlahan mereka meninggalkan Panti Asuhan tempat Nami dan Yuri di besarkan.
__ADS_1
Nami dan Yuri membawa beberapa barang dari panti itu. Ha Jae meminta Nami dan Yuri untuk pindah tinggal bersamanya. Jadi Nami dan Yuri datang untuk mengambil barang-barangnya.
"Kau dengar tadi?" celetuk Yuri.
"Apa?" tanya Nami.
Haneul pun mulai penasaran dengan apa yang Yuri maksud. Begitu juga dengan Nami, terlebih lagi Shin Ji Joon yang dari tadi mengumpulkan informasi tentang siapa Ha Jae sebenarnya.
"Kata Ibu Pengasuh. Mama, jadi donatur di Panti. Ibu Pengasuh bilang kita beruntung di angkat anak oleh Mama," beber Yuri.
"Benarkah??" tanya Nami tak percaya.
"He hemm," Haneul hanya tersenyum lebar ke arah kedua sahabatnya itu.
"Heh?! Memang ada yang lucu, hah?!" hardik Yuri.
"Apa?! Bukan itu maksudku," sanggah Haneul. "Akukan sudah bilang, cari kebenarannya sendiri, Mama itu baik atau jahat,"
"Oh," sahut Yuri.
Banyak hal yang mereka bahas tentang Ha Jae. Shin Ji Joon yang sudah merasa terbiasa pun sesekali melempar pertanyaan kepada Haneul.
"Jadi kapan kau kenal dengan Mamamu?" tanya Shin Ji Joon.
"Kapan ya?! Emm," Haneul coba mengingat. "Aku lupa, Paman. Aku masih kecil saat itu," jawab Haneul.
"Kecil?! Memang berapa usiamu?" tanya Shin.
"Emm, 4 Tahun?! Ah, bukan. Berapa ya?!" jawab Haneul ragu. "Aku tidak ingat dengan jelas. Saat itu aku masih kecil. Mama, datang ke rumah sebagai pelayan. Sejak saat itu, Mama selalu menemaniku dan menjagaku,"
"Emm. Sudahlah Paman. Mama bilang tidak perlu bahas masa lalu. Yang penting sekarang Mama adalah Mamaku." tutur Haneul.
"Mamaku juga," celetuk Yuri.
"Aku pun," timpak Nami.
"Hi hi hi, iya kita," balas Haneul.
Mereka pun menuju ke pusat kota. Dengan jeli Haneul memperhatikan jala kota. Dia berusaha memperhatikan jalan agar tidak salah ambil jalan.
"Sebenarnya kau tau tidak sih kantor Mama yang mana?!" tanya Nami.
"Aku tau, Kakak Kyun pernah mengajakkku ke sini," jawab Haneul.
"Kantor Mamamu, bukankah di Asian Groub?!" tanya Shin Ji Joon.
"Bukan yang itu, Paman. Itu perusahaan Paman Yokada. Mama punya bisnis sendiri," beber Haneul. "Mama belum lama buka bisnis ini bersama Bibi Hani,"
"Lee Hani?!" tanya Shin Ji Joon terkejut.
"Hemm," Angguk Haneul.
"Apa nama perusahaannya?!" tanya Shin penasaran.
"Perusahaan?! Kayaknya bukan perusahaan. Tapi apa ya?!" jawab Haneul bingung.
__ADS_1
Haneul terdiam dia bingung harus menjawab apa. Haneul dengan jeli memperhatikan pinggir jalan. Dia terkejut saat melihat ke sisi kiri jalan.
"Oh! Itu," Tunjuk Haneul.
"Apa?! Kita sudah sampai?" tanya Yuri.
Shin Ji Joon berlahan menghentikan laju mobilnya.
"Bukan. Paman Man," jawab Haneul.
"Lelaki yang seram itu?!" celetuk Nami.
"Kamu ini! Dia itu keren tauk," sanggah Yuri.
"Keren apanya! Seram gitu," tukas Nami.
"Paman Big Man!" panggil Haneul.
Man tertegun menoleh ke arah Haneul. Dia mendekati mobil Shin Ji Joon yang berhenti di pinggir jalan.
"Kau?! Apa??" tanya Man kepada Haneul.
"Paman sedang apa?" tanya Haneul.
"Kerja," jawab Man.
"Paman tau kantor Mama yang baru? Kita mau kesana," tanya Haneul.
"Butik?!" tanya Man.
"Emmm," Haneul menggelengkan kepalanya.
Shin Ji Joon ternyalang mendengar jawaban Man. Serasa ada sesuatu yang dia sadari. Man pun melirik ke arah Shin Ji Joon dengan datar.
"Butiknya di depan sana. Pertigaan belok kiri," jelas Man.
"Maaf. Boleh tau nama Butiknya?" tanya Shin Ji Joon. "Biar lebih jelas,"
Man menatap Shin Ji Joon dengan serius. Seakan ada sesuatu yang dia tak suka. "Simansi," jawab Man datar.
Shin Ji Joon ternyalang mendengar jawaban Man. Terlihat jelas bahwa Shin terkejut mendengar jawaban itu. Man terlihat tak heran dengan respon yang Shin berikan. Seolah dia sudah tau bahwa Shin akan kaget dengan jawabannya.
"Aku pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan," pamit Man.
"Iya, terimakasih, Paman," seru Haneul.
Shin terdiam dalam lamunnya. Cukup lama mereka berhenti di tempat itu. Haneul yang menyadari itu pun langsung menyadarkannya.
"Paman!" seru Haneul.
"Hah?! Ah, maaf." sahut Shin Ji Joon.
Shin pun berlahan melajukan mobilnya. Mereka bergegas menujunke Butik milih Choi Ha Jae. Shin Ji Joon, terlihat cemas dengan itu semua. Seakan ada yang sedang dia khawatirkan.
...****************...
__ADS_1