
"Anu, kita mau kemana dulu?" tanyaku.
"Kita langsung saja ke Jungang." jawab Shin Ji Joon.
"Aku pikir sarapan dulu," ucapku.
"Oh ya, kita belum sarapan. Mau makan apa?" tanya Shin Ji Joon.
"Nanti saja pas sampai di Jungang. Katanya di sana banyak jajanan enak." sahutku.
Aku duduk di kursi belakang sembari mencari lokasi Jungang di Google Map. Aku belum tau Jungang itu seperti apa dan terletak di mana. Belum banyak aku tau soal daerah ini, apa lagi daerah luar.
Suasana mobil begitu hening, aku bisa merasakan kecanggungan di antara kami bertiga. Aku pun juga tak bisa membuat bahan obrolan untuk mengisi kecanggungan di antara kami. Jantung dan nafasku ntah kenapa tak beraturan. Jika di rasa, sedikit sesak dan kadang berdebar kencang.
Sial! Ganggu sekali sih. Gumamku dalam hati.
......................
"Cih, ternyata pasar. Kenapa gak ketaman kota? Kita mau survei atau belanja ikan asin sih?!" sergah Man dengan kesal.
Aku mencubit tangan Man. Entah berasa atau tidak, rasanya tangannya sangat keras saking kekar dan berototnya.
"Kamu ini! Eh sudah, ayo jalan. Kalau boleh, gimana kalau kita ke Toko Tekstil yang ada di sana dulu." ucapku menunjuk ke toko tekstil yang tak jauh dari tempat kami masuk.
"Hei, kita kesini mau wawancara, bukan mau beli kain kafan!!" sergah Man.
"Brisik banget sih! Tinggal jalan aja." seruku kesal.
Sesampai di toko tektil itu, aku celingak-celinguk kesana kemari mencari seseorang.
"Kau mencari sesuatu?" tanya Shin Ji Joon.
"Ah itu mereka!" jawabku. "Yuhuuuuu Girlssssss!!!"
"YUHUUUUUUU!!" sahut Hani dan Jennie.
"Jijik!! Kamu tu Alien atau mahluk Purba sih?!" protes Man.
"Ih brisik. Ini tu gaul tauk!" cetusku kepada Man.
Lee Hani, Jennie dan Kyun menghampiri kami. Yang berdiri di depan toko.
"Wah wah, jam segini baru datang, katanya Jam 7 kita kumpul di sini." protes Kyun menghampiri kami.
"Tauk nih, kita udah wawancara 10 orang lebih lho." timpal Hani.
"Mereka pada tertarik mencoba produk mu, karna Hani bilang, wajahnya glowing hasil dari produk itu ha ha." jelas Jennie terbahak.
"Itu strategi marketing tauk." timpal Hani.
__ADS_1
"Iya iya aku tau." balas Jennie. "Jadi kita akan kemana sekarang?"
"Lebih baik kita bagi jadi 2 regu." ucapku.
"Ah kurang asik. Gimana kalau tiga. Kita kan pas berpasang-pasangan. Aku dengan Jennie, Kau dengan Pak Shin, Hani dengan Man." usul Kyun.
"Eh enak saja, dia aku ajak kesini karna mau aku kasih tugas sendiri tauk!" protesku kepada Kyun.
Aku terdiam sesaat melirik ke arah Hani dan Man. Terlihat Man yang sedang memandangi Hani.
"Oh tapi baik lah, itu ide bagus. Dengan gitu pekerjaan jadi cepat selesai." sambungku berubah pikiran. "Gimana Pak Shin? Apa Anda setuju??"
"Okay. Aku juga tidak menyangka bahwa kalian datang membantu." jawab Shin.
"Ha ha, kami ini bagaikan Nada yang selalu seirama. Kita saling membantu dan melengkapi." ujar Kyun.
"Ehh Boy! jangan pacaran ya. Kerja yang bener!" titahku.
"Cemburu ya?!" goda Kyun.
Kita akhirnya berpencar untuk melanjutkan survei tentang produk kami. Aku sempat memperhatikan Man dan Hani.
Semoga saja mereka cepat akrab. Gumamku dalam hati.
Ah sial, mikirin orang lain. Aku sendiri aja bingung harus bersikap bagaimana.
Aku melihat Shin Ji Joon yang berjalan tepat di depanku. Aku mengikuti kemana pun dia pergi. Sesekali aku melihat suasana di sekitar pasar.
Berbisnis seperti ini memang susah ya. Apa aku sanggup berdiri di posisi ini terus menerus. Lawanku bukan hanya kelas teri, tapi pembisnis kelas atas dari berbagai Negara. Yang mana, banyak di antara mereka bermain kasar dan melakukan apa saja demi produk mereka yang jadi juara.
Aku tak habis-habis memikirkan masalah Bisnis Yokada. Aku terus mengikuti Shin Ji Joon yang berjalan tepat di depanku.
Padahal ini hanya bisnis produk pasaran biasa saja. Tapi caranya sudah sama seperti bisnis jualan Narkoba. Ntah sampai kapan?
Aku tertegun melihat Shin Ji Joon yang berjalan di depanku.
Apa aku bisa sebanding dengan nya, agar aku pantas?!
"Ha Jae, sebaiknya kita mulai dari sini saja," ucap Shin Ji Joon ternyalang memandangku yang berhenti berdiri jauh di belakangnya.
Kita saling bertatapan untuk beberapa waktu.
Ah jantungku.
Dug dug.
Sial. Gumanku dalam hati.
"Oh. Ya okay." jawabku menghampiri Shin.
__ADS_1
......................
"Tenyata kamu orang nya asik juga ya." puji Lee Hani kepada Man.
"Ah biasa saja." jawab Man.
Hani tersenyum ke arah Man. Mereka berdua dengan mudah akrab satu sama lain. Seakan Lee Hani sudah sangat nyaman berada di dekat Big Man.
Bruk!! (suara Hani tertabrak).
"Aduh!!" pekik Hani.
"Brengsek, jalan hati-hati!!" hardik seseorang yang menabrak Lee Hani. "Sial, ternyata kau lagi!!"
Lee Tae dia adalah preman yang waktu itu bertemu dengan Shin Ji Joon, Choi Ha Jae dan Big Man di taman depan kantor periklanan SJ Entertainment (baca bab pelampiasan).
Lee Tae adalah salah satu pentolan preman yang berada di Daejeon. Tak di sangka, dia juga menguasai Daerah Jungang.
...****************...
...BONUS!...
"Jennie kita foto." ucap Lee Hani.
Mereka menunggu kedatangan Choi Ha Jae dengan mengisi waktu berfoto ria. Mereka menunggu di taman pasar yang tak jauh dari pasar Jungang.
"Ahh!! Kenapa Coco lama sekali sih?!" sergah Kyun.
"Eh foto aku di situ," ucap Lee Hani.
"Kalian ini!" seru Kyun yang terlihat bosan menunggu kedatangan Choi Ha Jae.
"Wah manis." puji Jennie. "Aku pintar foto kan?" tanyanya.
"Keren! Aku upload ahh." ucap Lee Hani.
"Eh tandai aku ya." ucap Jennie.
"Gila lah, baru juga 1 menit komen dan like nya udah sedabrek aja," seru Jennie. "Emang beda ya postingan selebgram sama orang biasa." imbuhnya.
"Jangan gitu dong. Gak baca komentnya ngawur dan gak nyambung semua," sanggah Lee Hani. "Kadang aku risih dan tertekan tauk."
"Sabar kan ada aku." ucap Jennie.
Sementara dengan Kyun.
__ADS_1
"Ya ampun aku di kacangin." gumam Kyun.
...****************...