Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Sisih Lain


__ADS_3

Sampai di rumah, aku bergegas membereskan barang-barang ku. Mempersiapkan semua yang ingin aku bawa besok. Aku tak ingin terburu-buru hingga akhirnya aku melupakan beberapa barangku.


Setelah semua selesai, aku bergegas meraih jaketku. Aku berniat pergi ke cafeshop untuk menghabiskan hariku di sana. Sebelum pergi ke cafeshop, aku berniat pergi ke kantor terlebih dahulu. Aku ingin melihat Big Man yang sedang bekerja. Sekalian mengajaknya untuk ngopi bersama.


Sesampai di Asia Production, aku langsung bergegas menuju ruangan ku. Ruangan yang di pakai sementara oleh Big Man, selama ia mengantikan ku. Posisiku di perusahaan ini memang tidak tinggi. Aku hanya sebagai kaki kanan dari Tuan Yokada. Yang tidak lain adalah Direktur dari perusahaan megah ini.


Ngiiikk! (suara pintu di buka).


"Jadi pekerjaanku itu hanya mainan Hp, ya," ledekku menyeringai ke arah Man yang sedang duduk di kursi jabatan.


Man tersentak menoleh ke arahku. Aku mengabaikannya berjalan menuju kulkas yang berada di pojok ruangan. Aku mengambil sebuah apel lalu memakannya.


"Pekerjaanmu itu apa sih?!" tanya Man mengeluh.


Aku berjalan dan duduk di depan meja kerja Big Man.


"He he. Kau cukup duduk dan nunggu perintah. Mudahkan?!" jawabku.


"Lalu apa berkas-berkas ini?!" Man menyodorkan tumpukan berkas di hadapannya.


"Kau cukup membacanya. Kenapa?! Otak mu mau meledak ya?!" ledekku. "Ha ha, Kau yang lulusan SMA aja gak bisa pahami. Apa lagi aku yang hanya lulusan SD."


"Tapi kalau di lapangan jago, ya," ucapnya meledekku.


"Itu keahlianku." jawabku dengan senyuman tipis. "Udahlah. Yuk ikut aku. Lebih baik temani aku ngopi. Kamu mulai bekerja itu besok, bukan sekarang."


Aku bangkit dari dudukku dan keluar dari ruanganku. Man mengikutiku dari belakang. Sampai di tempat parkir Man membukakan pintu mobil untukku.


"Ngapain kamu?" tanyaku.


"Pelayanan, Nona." ucapnya datar.


"Cih, aku bawa motor," ucapku menunjukan kunci motor di tanganku.


Aku bergegas menuju ke arah montor hitam yang tak jauh terparkir dari tempat itu.


"Brengsekk!" seru Man melihatku menunggangi motor sport berwarna hitam.


"Kau mau jalan atau hanya diam jadi patung parkiran?!" sergahku tak lama melajukan motorku keluar gedung.


Man terlihat kesal masuk ke dalam mobil. Dia melajukan mobilnya, mengikuti ku dari belakang. Sesampai kami di CafeShop, aku langsung menuju tempat kasir.

__ADS_1


"Kau pesan apa?!" tanyaku kepada Man.


"Yang seger," jawabnya datar.


"Mba nya yang itu mau gak?!" godaku menujuk salah satu pegawai Cafe.


"Cih!" gumam Man. "Mocachino,"


"Maaf kakak, mau pesan apa?!" sela seorang pegawai menghampiri kami.


Aku melihat suasana sekitar. Tapi aku tak melihat Kyun di mana pun.


"Maaf, Kyun di mana?" tanyaku.


"Oh Kyun. Dia hanya kerja setengah hari. Katanya ada urusan," jawab pegawai itu.


"Oh," sahutku kecewa. "Kami pesan Mocachino 1, Coklat Panas dengan toping Krim dan coklat 1, Kue coklat 1, Kue Roseberry Marshmallow 1,"


"Baik kak, akan segera kami siapkan. Silahkan menunggu sebentar," ucap karyawan itu.


"Terimakasih," sahutku.


Aku menuju kursi yang biasa aku duduki. Ntah kenapa serasa kursi itu selalu kosong untukku. Padahal jika di lihat, pengunjung CafeShop tak pernah sepi dari pelanggan.


"Sore jam 4. Kenapa? Mau titip barang?" tanyaku.


"Titip buat siapa?" jawab Man.


"Siapa tau buat keluarga di Indonesia. Aku bisa antarkan langsung ke keluargamu," ucapku.


"Aku udah gak punya keluarga," jawab Man sendu.


"Oh, maaf," ucapku penuh rasa bersalah.


"Mereka sudah duluan pergi saat Gempa Jogja," jelas Man.


Man terlihat sedih mengingat masa lalunya. Aku rasa, dia tak beda jauh denganku. Tak mudah baginya untuk hidup selama ini.


"Aku turut berduka cita atas itu. Waktu cepat berlalu ya? Walau sebenarnya lama aku menjalani hidup ku sampai di titik ini. Saat Gempa Jogja, aku masih berumur 12thn," ucapku menyeringai. "Tak sangka sekarang aku sudah punya 3 anak ha ha,"


"Cih, anak dari mana?! Bahkan nikah pun belum," ucap Man tak percaya.

__ADS_1


"Menurut mu?!" sahutku menyeringai.


"Permisi ka, pesanannya," sela seorang pegawai mengantarkan pesanan kami.


"Terimakasih," ucapku.


"Sama-sama, Kak." sahutnya.


"Gimana kalau kau hubungi Hani. Kayanya gak seru kalau cuman kita berdua," titahku memberi saran.


"Kenapa aku? Dia kan teman mu?!" protes Man.


"Tapi aku kan Bos mu," ucapku menyruput segelas Coklat hangat di tanganku.


"Kau tau pacarnya Hani?" tanya Man mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa dia?!" tanyaku.


"Dia Koo Kyo Hwa, pemilik Naddae Shop. Salah satu dari Kwa Co Group," jelasnya. "Itu artinya dia juga ada hubungannya dengan Goun Yong. Pemimpin dari King Dog."


"Wah wah selain kamu lihai, kamu juga pemberani, ya," ucapku. "Membicarakan soal seperti itu di tempat seperti ini,"


Aku manatap Man dengan tajam. Mencoba memperhatkan sekitarku.


"Kamu ini, kebiasaan kalau ngopi gelepotan," sergahku.


Aku mendekatkan badanku ke arah Man yang duduk di hadapanku. Aku mengusap bibir Man dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya.


"Siapa pun dia. Jika tidak ada perintah, tidak perlu membahasnya, apa lagi di tempat umum seperti ini. Kau bisa mati sia-sia," bisikku ke pada Man.


Aku kembali duduk di kursiku, melemparkan senyuman tipis ke arah Man.


"Kau kan anak baru. Jadi hati-hati ya kalau kerja. Apa lagi tidak ada aku. Aku tak bisa menjamin hidupmu," ucapku kepada Man.


Kami menghabiskan sore kami dengan bersantai di CafeShop. Tak terasa hari sudah larut. Kami pun berpisah untuk pulang ke rumah kami masing-masing.


......................


"Ah ya, akan segera saya siapkan besok. Tenang saja. Okay, siap," cakap Yokada berbincang dalam telepon.


Aku langsung masuk ke kamarku untuk membersihkan diriku. Menikmati malam terakhir, sebelum aku pergi ke Indonesia.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2