Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Bertemu dengannya


__ADS_3

...Meninggalkan Shin Ji Joon yang mengingat masa lalunya bersama Choi Ha Jae. Di sisi lain, Choi Ha Jae yang sedang di Indonesia. Dia sedang sibuk mendalami ilmu di sebuah pondok pesantren daerah Jawa Timur....


...----------------...


...(29 November 2015)...


...----------------...


TINNNN!!. TIN TIN TIIIINNNNNN...!!! (suara takson mobil.)


Sore menjelang Mahgrib. Ha Jae pulang dari sungai menelusuri persawahan untuk kembali ke pondok tempat dia menginap. Samar-samar dari kejauhan, dia mendengar suara takson mobil yang seakan sengaja di bunyikan.


Dengan penuh penasaran, Ha Jae dengan tenang mencari dan menuju sumber suara itu. Tak mungkin jika itu adalah mobil milik warga desa. Karna biasanya warga desa lebih memilih jalur utara di bandingkan melalui hutan.


Di dalam hutan dekat persawahan itu memang ada jalur arternatif untuk menuju ke Jakarta. Tapi jalur itu sudah lama di tidak di lalui kendaraan. Selain medannya yang rusak, jalur itu membelah hutan yang sepi, yang bisa saja banyak kemungkinan bisa terjadi.


TINN TIIINNNNN TINN TIIIIIIIIIINN!!!!!


Berulang kali takson itu di bunyikan. Semakin lama, semakin nyaring sumber suara itu. Dari kejauhan, Ha Jae melihat sebuah mobil pajero sportĀ  ber-plat AB yang menunjukan itu dari Yogyakarta. Heran bagi Ha Jae kenapa mobil itu bisa ada di sini.


Tanpa rasa takut, Ha Jae berlahan mendekat ke arah mobil itu. Dia melihat seorang gadis yang berdiri di luar mobil terlihat sangat bingung. Choi Ha Jae semakin mempercepat langkahnya menghampiri gadis itu.


"COPOTT!!! AHHHHHHHHHH!!!! TRE TRE TREEEEE!!! ADA HANTU TRE, PUNDAK GUE TREE. GUA GAK MAU MATI, GUA GAK MAU MATIIII!!!" pelik seorang gadis berrambut panjang pirang, yang berada di luar mobil.


Dia begitu sangat ketakutan saat Ha Jae menepuk pundaknya. Terlihat seorang gadis lain yang berambut panjang hitam lurus sepundak, yang umurnya tak jauh dari gadis yang satunya, menoleh dari dalam mobil. Gadis berambut hitam lurus itu bergegas keluar dari dalam mobilnya.


"Ih Taa itu bukan hantu. Lihat dulu," jelas salah satu gadis itu menyakinkan.


"SERIUSAN LO?! BUKAN HANTU?!! IHH GAK MAU LIHAT!! MUKANYA SEREM GIMANA?!" sergah gadis berambut pirang itu masih merasa ketakutan.


"Ih, apaan sih?! Gak sopan tauk!!" hardik gadis berrambut hitam lurus itu, terus berusaha menyakinkan. "Hei, halo."


Gadis berambut hitam itu dengan ramah menyapa Ha Jae. Ha Jae hanya membalas sapaan itu dengan senyuman kecil di bibirnya. Dia lalu maju ke arah depan mobil. Dia melihat dengan teliti keadaan mobil itu.


Ha Jae tanpa ragu mengintip isi dalam mobil dari kaca berwarna hitam mobil itu. Dengan santainya Ha Jae kembali menghampiri dua gadis itu.


"Mana kuncinya?!" tanya Ha Jae kepada gadis berambut hitam itu.


Tanpa ragu gadis berambut hitam itu memberikan kunci mobil miliknya. Seakan dia terpaku dengan apa yang di lakukan Ha Jae. Mereka berdua hanya bisa berdiri di luar mobil memperhatikan apa yang Ha Jae lakukan.


Ngunggg NGUNGGGGGGG!!!! (suara mobil menyala).


"Masuk." titah Ha Jae.


"APA?! Gila Lo! Tu mobil kita. Main perintah seenaknya aja!" hardik gadis berambut pirang itu.


"LO MAU MASUK DAN PERGI DARI TEMPAT INI. ATAU TETAP DI SINI, NUNGGU PENGHUNI HUTAN INI NYANTAP KALIAN JADI MAKANAN MALAM." sergah Ha Jae kepada kedua gadis itu.


Kedua gadis itu saling bertetapan sebelum memutuskan bergegas masuk ke dalam mobil mereka. Mereka terlihat sangat bingung dengan Ha Jae yang dengan sigapnya mengemudikan mobil mereka. Ha Jae membawa mobil itu berbalik arah keluar dari dalam hutan.


Hantaman demi hantaman lubang dan kerikil besar mengguncang mobil itu. Terlihat raut ketakutan dan kebingungan dari kedua gadis itu.


Dari balik kaca, terlihat pepohonan yang menjulang tinggi membelah langit. Jalan tanpa lampu penerangan yang hanya pepohonan tinggi yang terlihat di setiap mata memandang.

__ADS_1


Tidak sulit bagi Ha Jae membawa mobil itu melesat cepat menyelusuri satu-satunya jalan beraspal yang sudah rusak tak berbentuk. Bukan hal yang mengherankan bagi Ha Jae kenapa mobil dan kedua gadis ini bisa masuk ke dalam hutan yang jauh dari peradaban ini.


Tak lama terlihat sebuah pertigaan jalan kecil yang hanya bisa dilalui satu buah mobil. Jalan yang masih mulus di bandingkan dengan jalan yang dia lalui. Dengan satu buah putaran saja Ha Jae bisa membelokan mobil itu memasuki pertigaan yang sempit itu.


Dia menghela nafas dan kembali melajukan mobil sport putih itu. Tapi kali ini Ha Jae menguragi kecepatan mobilnya.


Ha Jae menoleh ke arah dua gadis itu. Terlihat jelas muka ketakutan mereka yang tidak bisa di sembunyikan. Ha Jae hanya tersenyum menyeringai melihat ekspresi kedua gadis itu.


"Bagi minum dong." ucap Ha Jae mengisi keheningan.


"Hah?!" sahut gadis berambut hitam yang duduk di sebelah Ha Jae.


"Minum." tegas Ha Jae menoleh ke gadis itu.


"Ta, minum, Ta." ucap gadis berambut hitam itu.


"Hah gila, Lo." sahut gadis pirang itu tak percaya. "Sejak kapan setan minum?!"


"Ta, kok lo gitu sih?!! Gak sopan tauk!" sergah gadis berambut hitam itu.


"JIRR! GUA DI KIRA HANTU!! EHH SEJAK KAPAN HANTU BISA NYETIR MOBIL?!! GUA KALAU BENERAN HANTU, UDAH GUA SESEP MBUN-MBUN MU DARI TADI!!" hardik Ha Jae merasa kesal.


"TRUS KENAPA KALAU BUKAN HANTU, PAKAIAN LO ITEM-ITEM?! DI TENGAH HUTAN LAGI?!" sanggah gadis berrambut pirang itu.


"CIH!! Trus Gua harus pakai baju apa?! Pink?! Merah, kuning, hijau, biru!! DI KIRA GUA CERIBEL!! LO GAK LIAT NI SERAGAM?!" sergah Ha Jae terus menimpali.


Kedua gadis itu pun dengan serius memperhatikan baju yang di kenakan Ha Jae. Mereka baru sadar bahwa itu memang seperti segaram bela diri atau pencak silat dari sesuatu kelompok.


"Sorry ya. Inih." ucap gadis berambut hitam itu.


"Iya deh! Maaf gue sorry, ehh maaf gue sorry. Maksutnya gue maaf, sorry sorry sorry sorry!! Gue minta maaf." ucap gadis berrambut pirang itu dengan gelagapan.


Ha Jae hanya menyeringai menahan tawa. Dia lalu meraih air mineral yang di berikan gadis berrambut hitam itu lalu meminumnya.


Hampir 1 botol kecil air mineral itu Ha Jae abiskan dalam satu tegukan.


Ha Jae melirik ke arah layar monitor smarttv yang berada di dalam mobil itu. Dengan kesal Ha Jae langsung mematikan smarttv yang menampilkan map jalur perjalanan di daerah itu.


"Lain kali jangan percaya Map Online kaya gitu. Sekarang kalian selamat. Bisa jadi lain kali di temukan jadi mayat." celetuk Ha Jae membuat dua gadis itu merinding ngeri menatap satu sama lain.


"Tre! Kita balik aja, yuk? Udahlah, gak usah lanjutin perjalanan." bujuk gadis berrambut pirang itu.


"Tapi, Ta." sahut gadis berrambut hitam itu.


"Tre, gue takut. Gue masih punya orang tua, punya pacar, gue juga pengen nikah kalik." bujuk gadis berambut pirang itu mulai kesal.


"Ha ha hahahaa!" pekik tawa Ha Jae. "Udahlah gak usah pada ngelawak. Malam ini kalain nginap di pondok kami dulu. Besok kalian bisa pergi melakui jalur biasa ke arah Jakarta. Gak usah pada gaya pakai lewat jalur arternatif, lewat jalan tol lan lebuh cepet."


"Tau dari mana Lo kita mau ke Jakarta?!" tanya gadis berrambut pirang itu.


"Perasaan tadi ni peta arah Jakarta." sahut Ha Jae datar.


Gadis itu hanya diam saling bertatapan. Tak lama mereka menemui permukiman penduduk dan masuk ke sebuah gapura selamat datang. Mereka melesat masuk kesebuah halaman pondok yang luas, yang berada tak jauh dari gapura pintu masuk.

__ADS_1


Ha Jae mematikan mesin mobil dan bergegas untuk turun. Kedua gadis itu pun bergegas mengikuti Ha Jae. Ke dua gadis itu merasa lega setelah melihat rumah pondok berlantai 2 yang banyak anak-anak berlaku lalang.


Gadis berambut hitam itu berbalik badan melihat rumah-rumah warga yang berjarak sangat dekat dari pondok itu. Dia merlihat juga banyak warga yang berbondong-bondong membawa mukenah dan sajadah menuju ke sebuah Masjid besar yang berada di dalam aera pondok tersebut.


"Ehh ngalamun aja. Masuk." ajak Ha Jae. "Bawa baju ganti kalian. Bersihin diri kalian dulu, nanti kita ikut pengajian. Ada tausiyah dari pemilik pondok ini."


Kedua gadis itu bergegas mengambil tas mereka dan mengikuti Ha Jae dari arah belakang.


"Tre, tapi aku kan." ucap gadis berrambut pirang itu merangkul tangan temannya.


"Udah, Ta. Yuk." sahut gadis berrambut hitam itu mengajak mengikuti Ha Jae.


"DIANA! Sini sayang." panggil Ha Jae kepada seorang anak perempuan yang sedang berjalan membawa sebuah buku.


"Iya, Kak." sahut anak itu.


"Udah Sholat?!" tanya Ha Jae.


"Udah, Kak." jawabnya.


"Kamu antar kakak-kakak ini ke pondok putri ya. Kamu temani kakak-kakak ini mandi. Sama nanti malam kamu sama yang lainnya temani kakak-kakak tidur ya. Soalnya kakak yang satu ini penakut." tutur Ha Jae melirik ke arah gadis berambut pirang itu.


"SIALAN LO!! Gua gak takut keles!" sanggahnya.


"Yakin?!" seru Ha Jae meledek. "Ha ha ha. Ya udah kamu antar ya sayang. Kalau kakak-kakak nya udah selesai mandi, kamu langsung ajak gabung sama yang lainnya."


"Iya, Kak." ucap gadis kecil itu. "Yuk kak." ajaknya.


Ha Jae tanpa pamit meninggalkan gadis-gadis yang belum dia tau siapa nama mereka itu. Ha Jae menuju ke arah belakang gedung pondok itu.


Di sana terdapat sebuah pondok kecil yang terbuat dari bambu dan kayu yang beratap rumbia. Di halaman pondok kecil itu, terbentang tanaman bunga berwarna-warni yang menambah suasana pondok itu sangat asri dan nyaman.


"Assalamu'alaikum." sahut seseorang menghampiri Ha Jae.


"Waallaikum Salam, Pak." sahut Ha Jae.


Seseorang lelaki yang berusia kepala 4 sudah berdiri di belakang Ha Jae. Lelaki itu mengenakan sarung hitam, berbaju putih dengan sorban yang membalut kepalanya. Dia melemparkan sebuah senyuman ramah kepada Ha Jae.


"Alhamdulillah kalau kamu sudah datang. Tadi saya menyuruh beberapa santri untuk menyusulmu ke sungai. Takut kalau misal terjadi apa-apa. Sudah petang kok belum datang." ucap lelaki itu.


"Maaf Pak Den. Tadi saya tidak sengaja bertemu dengan dua Gadis yang tersesat di dalam hutan. Jadi saya membawa mobil mereka, mengajak untuk bermalam di sini." jelas Ha Jae.


"Gadis?! Kok bisa?! Padahal jalan menuju hutan, selain jalannya sudah warga rusak, arah masuk hutan pun sudah di tutup dengan semak belukar dan ranting-ranting pohon." tanya Pak Den merasa aneh.


"Ah Pak Den ini bercanda. Dari pada saya, pasti lebih tau Pak Den tentang daerah ini." sindir Ha Jae.


"He he, ya sudah. Silahkan kamu bersihkan diri dulu. Nanti kita Sholat Isya berjamaah dengan yang lainnya. Saya pergi dulu, Assalamu'alaikum." ucap Pak Den pergi meninggalkan Ha Jae.


"Iya siap Pak Den. Waallaikum Salam." sahut Ha Jae.


Ha Jae pun bergegas masuk ke dalam pondok dan bersiap membersihkan badannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2