Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Helai Yang Lembut


__ADS_3

"AH SIAL. ADUH ADUH!! KERUDUNGKU. IH DASAR!! GAK PEKA BANGET SIH ******! UHH." gumam Ha Jae dalam hati.


Ha Jae masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Bisa-bisanya Shin Ji Joon ada di rumahnya seperti ini.


"Pakai kerudung gak ya?! Pakai gak ya?! Mana jauh lagi. Masa iya naik ke atas. Ketahuan banget dong. Aduhhh!!" gumam Ha Jae dalam hati.


Dia begitu bingung dengan apa yang harus aku lakukan.


Akhirnya Ha Jae putuskan untuk tidak pergi mengambil dan memakai kerudungnya.


"Ah sial. Bodok ah. Udah banyak Dosa ini." gumam Ha Jae dalam hati.


Ha Jae meraih kantong belanjaannya, dan membereskan bahan makanan itu. Sesekali Ha Jar melirik ke arah Shin. Sempat beberapa kali mata merema bertatapan.


"Ya ampun Choi Ha Jae," Ha Jae menghela nafas lalu membuangnya berlahan.


Ting Tong Ting Tong!! (suara bel rumah berbunyi).


"Ahh sebentar, biar aku lihat siapa." ucap Yokada bergegas ke layar monitor bel. "Siapa?!"


"Annyeong haseyo," Sapa seseorang dari intercom.


"Kami tidak menerima sumbangan Nyonya. Pergilah!!" seru Yokada bergegas meninggalkan intercom.


Ha Jae penasaran dengan tamu yang datang, dia bergegas menghampiri intercom.


"Yha, hanya pengemis. Tidak usah di ladeni," ucap Yokada berusaha halangi Ha Jae.


Ha Jae tak hiraukan Yokada, dia bergegas menghampiri Intercom.


"Ahkg!" seru Ha Jae bergegas membuka pintu.


Ceklik! (bunyi pintu di buka).


"Nyonyah, kau datang sekarang?" tanya Ha Jae kepada wanita yang dia temui di swalayan.


"Maaf Nona, saya sudah tidak punya kesibukan. Jadi saya pikir lebih baik saya langsung bekerja. Lagi pula Nona sudah membayar saya." ucap wanita setengah baya itu.


"Ohh baiklah. Ayo masuk." titah Ha Jae.


Ha Jae mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam rumah. Yokada kaget melihat Ha Jae masuk bersama wanita asing di belakangnya.


"Yha Ha Jae. Siapa dia?!" tanya Yokada.


"Oh ya, saya belum tau siapa nama nyonya. Siapa nama nyonyah?" tanya Ha Jae.


"Nama saya Kim Yu Hee Nona." jawab wanita itu.


"Kim Yu Hee. Nama saya Choi Ha Jae." ucap Ha Jae memperkenalkan diri. "Oh itu Tuan Yokada. Dia pemilik rumah ini. Dan Itu Tuan Shin Ji Joon, beliau sering berkunjung ke sini."


Dengan lembut, Ha Jae memperkenalkan Yokada dan Shin yang duduk di meja makan.


"Tuan," ucap wanita itu memberikan hormat.


"Senpai. Ini Bibik Kim Yu Hee, beliau yang akan membantu membereskan rumah dan memasak selama aku pergi nanti." tutur Ha Jae.


"Oh, Ya sudah." jawab Yokada menganggukkan kepalanya.


Shin diam ternyalang mendengar ucapan Ha Jae.


"Bibik, semua pekerjaan sudah selesai. Tinggal memasak.Tolong bantu saya ya." titah Ha Jae bergegas ke dapur mengeluarkan beberapa potong daging dari Frezzer.


"Baik, Nona." sahut Yu Hee.


"Panggil aja Ha Jae. Aku sama sepertimu." ucap Ha Jae tersenyum kepada Yu Hee.


"Apanya?!" celetuk Yokada kesal. "Apa yang sama?!"


"Kita sama. Sama-sama hidup, sama-sama akan mati." sahut Ha Jae datar.

__ADS_1


"Is kau ni!" ucap Yokada kesal.


Ha Jae hanya menyeringai melihat Yokada. Shin hanya diam penuh kebingungan dengan apa yang dia dengar.


"Bibik, silahkan kamu yang kerjakan." titah Ha jae.


"Iya baik, Nona." ucap Yu Hee.


"Ha Jae." sergah Ha Jae.


"Maaf, Nona, tapi ... " ucap Yu Hee penuh hatu-hati.


"Kalau tidak mau panggil Nona, panggil saja Tuan." sergah Yokada menyela pembicaraan mereka.


Ha Jae melihat Yokada dengan kesal.


"Ya sudah terserah," ucap Ha Jae.


"Maaf, masak apa Nona?!" tanya Yu Hee.


"Tongseng." jawab Ha Jae.


"Ha? Maaf Nona?" tanya Yu Hee tak paham.


"Tongseng adalah salah satu masakan daru Negara Indonesia. Aku asli orang Indonesia, tepatnya Suku Jawa yang tinggal di Pulau Jawa," jelas Ha Jae. "Aku dan Tuan Yokada hampir tiap hari makan masakan Indonesia. Tapi jika Bibik Yu Hee tidak bisa memasaknya, Bibik bisa masak makanan yang lain. Yang penting ada sarapan. tidak usah masak makan siang atau malam, kecuali untuk bibik sendiri. Kalau misal bingung mau masak apa, bisa tanya Tuan Yokada." sambung Ha Jae.


"Baik, Nona." ucap Yu Hee.


"Sekarang karna ada aku. Silahkan Bibi masak, biar aku ajari sedikit. Soapnya Tuan Yokada jika tidak makan masakan Indonesia minimal seminggu sekali, dia bisa sedikit aneh." ucap Ha Jae meledek.


"Apa kau, he!? Aku lebih suka makanan Itali." sanggah Yokada.


"Silahkan Bik, pertama potong dagingnya dadu kecil." titah Ha Jae.


"Baik, Nona." ucap Yu Hee mulai memasak.


"Minimal Bibik bisa 1 menu masakan Indonesia. Jadi jika Tuan Yokada malas makan, masakan saja masakan Indonesia," jelas Ha Jae.


"Setelah Daging. Potong Kol nya sebesar ini," Ha Jae memotong Daun Kol untuk mencontohkan. "Setelah itu. Potong Daun Bawang serong panjang sekitar 2cm."


Dengan sabar Ha Jae mengajarkan step by step masakan Indonesia itu kepada Yu Hee.


"Ambil Tomat Hijau itu potong menjadi 4 bagian," titah Ha Jae. "Selanjutnya. Ambil cabai hijau itu dan bawang merang. Bersihkan terlebih dahulu."


"Baik, Nona." ucap Yu Hee.


"Potong cabai rawitnya menjadi 2 bagian. Bawang merahnya menjadi 3 bagian, yang besar 4 bagian." lanjut Ha Jae.


Ha Jae mengarahkan Yu Hee memasak dari mulai meyiapkan bahan hingga memasaknya. Satu per satu Ha Jae jelaskan dengan Detail. Yokada dan Shin hanya diam bergeming memperhatikan Ha Jae dan Yu Hee memasak.


"Tara!!" seru Ha Jae.


"Tongseng ada 2 jenis. Yang pakai Santan dan yang tidak pakai Santan. Kalau masak, usahakan yang tidak pakai santan." jelas Ha Jae.


"Baik, Nona." ucap Yu Hee.


"Kalau gitu ayo kita makan. Perutku sudah sangat lapar." ucap Ha Jae.


"Tidak usah Nona, terimakasih." tolak Yu Hee.


"Tidak apa-apa. Ayo ambil piringnya, perutku juga sudah sangat lapar." imbuh Yokada.


Mereka pun sarapan bersama dalam 1 meja makan. Ha Jae berusaha untuk membuat Yu Hee merasa tidak canggung. Ha Jae ingin Kim Yu Hee menganggap ini adalah rumahnya sendiri, agar dia bisa bekerja dengan tenang di sini.


Setelah selesai makan, Ha Jae memberi tau apa-apa saja yang harus di kerjakan Yu Hee di rumah itu. Mulai dari menunjukan tempat cuci baju, peralatan bersih-bersih dan lainnya. Ha Jae juga menunjukan bahwa di lantai atas ada tanaman rempah, sayuran dan beberapa buah-buahan yang harus dia rawat.


"Jika Bibi membutuhkan rempah dan sayuran. Bibi bisa mengambilnya dari sini. Di atas masih ada lagi sayuran dan rempah. Dulu tempat itu tempat untuk menjemur baju. Tapi karna tempat menjemur baju aku pindah ke bawah, jadi di sini aku gunakan untuk menanam beberapa buah dan sayuran." tutur Ha Jae. "Tidak perlu di obati, semua alami. Bibi hanya perlu menyemprot vitamin 2 hari sekali saja. Jangan sering-sering."


Ha Jae menunjukan lantai dua dan tiga yang dominan dengan tumbuhan rempah, buah dan sayuran yang tertata rapi dalam pot bunga.

__ADS_1


"Bibi boleh memakannya atau membawa pulang kalau kiranya ada buah dan sayur yang siap panen. Jangan takut, aku yang menanamnya sendiri. Tuan Yokada mana perduli." imbuh Ha Jae.


"Iya siap, Nona. Terimakasih." ucap Yu Hee.


Setelah selesai Yu Hee berpamitan untuk pulang kerumahnya. Tugasnya hanya membersihkan rumah, masak dan mengurus tanaman milik Ha Jae. Jika sudah selesai dia di ijinkan untuk pulang kerumahnya. Karna mengingat Yu Hee juga punya keluarga yang harus dia urus.


"Aku pulang dulu. Masih ada kerjaan di kantor." ucap Shin.


"Tidak nanti saja? Buru-buru sekali," ucap Yokada.


"Kalau gitu biar sekalian aku pindah ke sini he he," gurau Shin.


"Ha ha kau bisa saja. Hati-hati di jalan." ucap Yokada.


Shin bergegas pergi dari rumah itu. Ha Jae melihat jauh dari dinding kata lantai atas. Melihat kepergian Shin yang tanpa pamit kepadanya.


"Apa benar ini Cinta. Apa aku benar sudah hidup?!" gumam Ha Jae dalam hati.


...****************...


...* BONUS! *...


...----------------...


"Senpai?! Ini cake siapa?!" tanya Ha Jae.


"Punyaku kenapa?!" jawab Yokada.


Yokada menghampiri Ha Jae yang berada di depan kulkas, seraya memperhatikan Jam tangan limited di tangannya.


"Kapan beli?" tanya Ha Jae.


"Makanlah. Abiskan, asal jangan crewet. Sudah naik sana." sergah Yokada memukul bokong Ha Jae seraya berjalan meninggalkan tempat itu.


Ha Jae membatas pukulannya dengan mendorong bokong Yakada hingga Jam tangannya terjatuh.


"HAIS BOCAH TENGIK!" hardik Yokada.


Ha Jae dengan cepat lari ke lantai atas membawa cake dari dalam kulkas. Dia meletakkan cake itu di atas meja bar lalu bergegas mengambil ponselnya.


"Hemm, posting ahh," gumamnya dalam hati.


Dia memotret cake coklat itu dan memostingnya ke laman sosial media miliknya.


...----------------...



..."**Yummmy."...


Hani : "Wah, siapa yang ultah?! Gak bagi-bagi."


Jennie : "Jadi yang ngaku sakit itu, ini ya?"


Hani : "Ha Jae, baju yang kamu pesan buat Big Man udah aku siapkan. Baca pesanku."


Kyun : "Wah apa ini?! Man di belikan baju? Aku enggak!"


Shin Ji : "Semoga cepat sembuh."


Haneul : "Mama, kangen**."


...----------------...


Ha Jae termangu melihat dua komentar terakhir postingannya.


"Shin Ji! Siapa?!" gumamnya.


Ha Jae bergeming melihat komentar terakhir.

__ADS_1


"Kau sudah besar ternyata. Maafkan Mama. Mama juga rindu." gumam Ha Jae sendu.


...****************...


__ADS_2