Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Pelampiasan


__ADS_3

"Aku pengen Mie Instan." ucapku datar.


Aku tidak tau kenapa, dadaku terasa sesak sejak aku mendengar Yura mengatakan tas itu pemberian Shin. Perasaan yang aneh itu muncul kembali.


Sedih, tapi soal apa?! Apa aku sedih di pecat?! Lha aku kan Bos!! Gumamku dalam hati.


Tingg! (bunyi Lift terbuka).


...----------------...


"Ayo melu aku. Aku iroh gon cedak kene seng Mie ne enak tenan." (Ayo ikut aku. Aku tau tempat dekat sini yang Mie nya enak sekali) titah Man merangkulku.


Aku tersenyum tipis memandang Man.


"Ora nganggo mobil?" (Gak pakai mobil?) tanyaku.


"Halah ghor ngarepan kunu." (Ah cuman depan situ) jawab Man.


Aku mengikuti Man dengan penasaran.


Dia kan baru di kota ini. Mana bisa tau tempat enak di sekitar sini?! Gumamku dalam hati.


......................


"Apa yang sebenarnya terjadi!!" hardik Shin terlihat sangat marah.


"Ee, Pak Manager, anu." jawab lelaki itu gelagapan.


"Apa?!" sergah Shin penuh amarah.


"Jadi gini. Karyawan lepas itu, menjatuhkan tas Yura. Jadi Yura memintaku memecatnya." jelas lelaki itu dengan hati-hati.


"Oppa..!!" sela Yura memasuki ruangan.


"Kenapa pemotretan di batalkan?" tanya Yura kesal.


"Bisa kau keluar sebentar. Aku sedang berbicara dengan karyawanku." titah Shin.


"Mwo? Aku nunggu lama, pemotretan di batalkan dan sekarang kamu nyuruh aku keluar?!" protes Yura.


"KELUAR!!" pekik Shin.


"Panggilkan Sekertaris Han. Suruh dia keluar!" titah Shin kepada lelaki itu.


"Tidak usah! Aku bisa sendiri." sahut Yura dengan tatapan tajam kepada Shin. Yura terlihat kesal lalu pergi meninggalkan ruangan Manager.


......................


"HA HA HA HA HA!!" pekikku tak bisa menahan tawaku.


"Tak kiro lho restoran, kedai kek, lha ternyata ghor tuku neng mesin. Mangan neng pinggir dalan maneh ha ha ha." (ku pikir lho restoran, kedai kek, lha ternyata cuman beli di mesin. Makanya di pinggir jalan lagi ha ha ha) sergahku terbahak.

__ADS_1


"Aduh perutku." seruku seraya menyeka air mataku.


Aku memukul dan mendorong pundak Man saking tak tahannya aku tertawa.


"Neng rak enak. Murah maneh." (tapi kan enak. Murah lagi) tukas Man menyeringai.


Kami duduk di kursi umum pinggir jalan dekat mesin jual otomatis itu berada. 5 buah Mie Instan Cup siap kami santap di hadapan kami. Kami membeli 5 varian rasa yang berbeda-beda.


"Eh aku iki, kowe kuwi." (eh aku ini, kamu itu) ucapku menyodorkan satu buah cup ke hadapan Man.


"Rakos!" celetuk Man.


Aku hanya senyum meringis menatapnya.


"Yongseo.." sela suara yang terengga-engga dari belakangku.


Aku menoleh dan melihat Shin Ji Joon berdiri terenggah-engah di belakangku.


Shin! Gumamku dalam hati.


Shin tertegun menatapku dengan ternyalang.


"Yo! Ada apa?!" tanya Man berdiri menatap tajam Shin.


"Oh, Pak Shin. Mau ikut makan bersama kami?" selaku.


Aku berdiri menghalangi tatapan Man Dan Shin Ji Joon. Aku khawatir jika Man tiba-tiba memukul Shin Ji Joon atas perlakuan karyawannya padaku tadi. Walau bagaimana pun, Man adalah Harimau peliharaanku, yang siap menerkam kapan pun aku suruh.


"Aaa. Anu." jawabku gelagapan. "Is kau ni! Mentang-mentang pada tinggi!!" sanggahku kembali duduk di kursi.


...----------------...


Nguuuuuuuuuuukkk! (Bunyi mesin jual otomatis sedang memproses Mie Instan yang di masak).


"Oe mau berapa mangkok?!" sergah Man dari depan mesin.


Aku mengangkat tanganku, mengcungkan tiga jariku untuk memberi kode kepada Man. Hanya keheningan dan kecanggungan di antara aku dan Shin.


Aku tak merasakan apa-apa saat melihat Shin di hadapanku. Hanya saja sedikit kesal dan marah. Tak ada sepatah kata pun yang kami ucapkan. Aku hanya bisa terus mengudak mie di hadapanku yang sudah hampir hancur menjadi bubur.


"Oe!" seru Man mengagetkanku.


"Ni Mie-nya." ucap Man kepada Shin.


Man menyodorkan 2 buah Cup Mie Instan di hadapan Shin.


"Terimakasih." ucap Shin Ji Joon.


"Buruan di abisin. Di sini ada monster mukbang yang kelaparan." celetuk Man melirik ke arahku.


Aku melirik Man dengan datar.

__ADS_1


"Silahkan di nikmati Pak Shin. Maaf hanya sekedar Mie Instan." titahku.


"Tidak apa-apa. Aku suka. Aku yang harus meminta maaf," ucap Shin menatapku sayu.


"Oe kapan makannya ngomomg muluk?!" sela Man.


"Apa sih?! Tinggal makan aja yo!" jawabku kesal.


Kami menikmati mie cup di hadapan kami masing-masing, tanpa ada sepatah kata pun perbincangan di antara kami. Aku hanya tertunduk, sesekali melempar senyuman kepada Shin yang duduk di hadapanku.


Aku tak perduli dengan Man, yang ntah kenapa memilih pindah di sampingku dari pada duduk di samping Shin. Walau pun aku tak begitu menghiraukan Man, aku tau bahwa dia sesekali memperhatikan Shin.


Aku bisa menebak dari ekpresi muka Shin yang terlihat canggung. Sesekali dia memperhatikanku dan Man secara bergantian.


"YHAA!!" hardik seseorang mengagetkan kami.


Aku melirik dan melihat seseorang menaruh kakinya di samping tempat dudukku. Aku melihat ada 4 orang berbadan tinggi dan kekar menghampiri kami.


Tampang mereka seperti preman, dengan anting di kuping dan tato yang hampir penuhi sekujur badan mereka. Salah satu dari mereka, yang mungkin Bosnya mengangkat kakinya di atas kursi samping tempat dudukku. Aku terdiam bergeming melihat kelakuan tak sopan mereka.


"Jadi kau yang bernama Big Man, hah?!" ucap ketua preman itu.


Man terlihat santai memperhatikan tingkah mereka sembari memainkan sumpit dalam mulutnya. Sedangkan Shin terlihat terganggu ulah mereka. Shin berlahan menaruh sumpitnya dan bangkit dari duduknya.


"Maaf, Kalian ini siapa? Agak nya tidak sopan jika mengganggu orang yang sedang makan. Apa lagi berperilaku seperti itu di samping seorang wanita." ucap Shin melihat kaki preman itu.


"Lebih baik kita makan bersama-sama" imbuhnya menatap preman-preman itu.


"Hei diam kau!!" sergah ketua preman itu. "Hey Nona, kau takut? Lihat pacarmu yang tampan itu marah ha ha ha!"


"Oe, lebih baik kalian pergi." titah Man datar.


"Sok sekali kamu! Oh ya. Katanya kau di pukuli seorang pegawai lepas di gudang Incheon ya?! Sampai kau lari ketakutan ke sini??" tanya ketua preman itu. "Pentolan preman Incheon, di pukuli pegawai lepas?!! Percuma saja Bos besar membayar mu mahal untuk pekerjaan itu hah!!"


Ketua preman itu terus mencoba menyungut emosi Man. Dia membongkar hal yang tak terduga dari Man.


"Sekarang kau malah kemari menjadi kacung mereka?!" sungutnya. "Di sini aku yang berkuasa!! Jadi kau harus tunduk padaku!" hardik ketua preman itu. "Di bayar berapa kau hah?! Sekarang katakan. Di mana junjunganmu itu. Biar aku yang membereskannya. Apa lihat? Katakan di mana i... "


Belum selesai ketua preman itu berbicara. Ha Jae dengan sekuat tenanganya, mencengkram lehernya dan membantingnya ke atas meja. Ha Jae membelai rambut kepala belakang preman itu. Berlahan ia mencengkram rambutnya dan berbisik lirih kepada preman itu.


"Yha. Aku paling tidak suka jika aku sedang makan di ganggu." ucap Ha Jae.


"Cihh!" sahutnya.


Ketua preman itu berusaha bangkit, tapi dengan cepat Ha Jae tarik kepalanya membantingnya lagi ke meja dengan penuh amarah.


Tanpa sadar, Ha Jae luapkan semua kemarahan dan kekesalannya kepada preman itu. Ha Jae membuat hidung orang itu berdarah. Melihat dia terluka berlumuran darah. Ha Jae merasa puas dan lega.


Ha Jae baru tersadar dengan apa yang dia lakukan itu, setelah Man menarik tubuhnya dan mencoba melepaskan cengkraman Ha Jae dari kepala ketua preman itu.


Ha Jae ternyalang tergegau. Matanya tetiba gelap. Tubuhnya lemas. Dia berdiri tersandar dalam di tubuh Man yang berusaha menopang tubuhnya. Matanya berlahan terang kembali. Dia melihat Shin yang terlengung nyalang menatap Ha Jae. Terlihat jelas, bahwa Shin begitu sangat terkejut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2