
Tentang perasaanku kepada Shin Ji Joon. Aku berusaha kuat untuk menyembunyikan semua yang aku rasakan. Aku juga masih ragu, bahwa benar ini adalah 'Cinta'. Mungkin saja, ini hanya sekedar rasa kagumku kepada dirinya.
"Agh! Permisi," sapaku kepada seorang penumpang yang menghalangiku.
Sangat tidak pantas bagi orang sepertiku. Mencintai seseorang seperti Shin Ji Joon. Seorang putra tunggal dari salah satu orang terkaya di Indonesia. Dia juga salah satu seorang pengusaha Multitalenta di Korea.
Mustahil jika orang sepertiku ini bisa hidup dan memiliki seorang Shin Ji Joon. Bisa sedekat ini saja, aku sudah sangat bersyukur. Aku sangat-sangat beruntung.
"Tunggu sebentar!" pekikku seraya naik keatas Bus.
Cerita yang sangat panjang kenapa aku bisa sampai di negri Gingseng ini. Yang jelas, dulu aku adalah seorang TKW ilegal.
Kesialanku lah yang membuatku bisa bertemu dengan Yokada. Yang sekarang menjadi Tuan dan sudah seperti kakakku sendiri.
Dia lah yang menolongku keluar dari Agensi Ilegal yang berusaha menjualku sebagai wanita penghibur di sebuah rumah lokalisasi.
Tuan Yokada juga yang membantuku mendapatkan kembali data-data penting milikku, seperti Paspor dan sebagainya.
Dia juga mengurus semua data-data diriku, agar aku aman tinggal di Korea bersamanya.
Sebenarnya aku sendiri belum bisa sepenuhnya fasik berbahasa Korea. Selama ini, aku hanya mengunakan filingku untuk menebak apa yang sebenarnya orang lain maksud saat berbincang denganku.
Walau begitu, kata Yokada, filingku itu cukup kuat. Hampir semua yang orang lain maksud bisa aku tebak dengan benar.
Beruntung lagiku bahwa Yokada juga bisa berbahasa Indonesia. Dia juga yang mengajariku berbahasa Korea dan Jepang dengan imbalan aku juga harus mengajarinya berbahasa Jawa.
__ADS_1
Ya, aku memang keturunan Jawa asli. Walau tak sepenuhnya aku menguasai bahasa Krama Inggil dengan sempurna.
Sekarang, walau aku sudah sedikit mengerti bahasa Korea. Aku lebih memilih untuk banyak diam. Aku sendiri juga termaksuk pribadi yang pendiam, di sisi lain, aku juga masih takut salah menafsirkan ucapan yang mereka ucapkan.
......................
Siang itu sekitar pukul 11:17.AM. Aku sudah sampai di depan Cafeshop. Tempat di mana aku membuat janji dengan Shin Ji Joon.
"Annyeong haseyo," sapaku seraya masuk ke dalam Cafe.
Cafe ini adalah tempat ngopi dan nongkrong favoritku. Karna selain ada Free Wi-Fi.
Tempat ini juga tepat terletak di sebrang Klinik tempat Yokada Praktek.
Selama aku bersama dengan Yokada, aku seperti Kucing peliharaan yang harus selalu patuh dan ikut kemana pun dia pergi.
Yokada menuturkan, bahwa aku bisa menjadi Asisten pribadinya untuk sementara waktu. Aku bisa belajar banyak hal tentang kehidupan dunia luar darinya.
Aku tak mengharapkan gaji dari Tuan Yokada. Sebagai seorang abdi, yang utama itu adalah melayani tuannya kemanapun dia pergi. Walau begitu, Yokada selalu memberiku uang gaji setiap bulannya. Bahkan, Yokada juga memberiku tambahan uang jajan seperti adiknya sendiri. Uang itu juga, yang aku gunakan untuk mencukupi kebutuhanku dan mengirim sedikit uang ke kedua orangtuaku yang berada di Indonesia.
Waktu sudah menunjukan pukul 12:20.PM. Aku pun sudah menghabiskan segelas minuman coklat yang aku pesan. Mataku juga sudah terlalu lelah bermain game untuk menghilangkan rasa bosanku.
Aku sesekali melihat lagi histori chatku. Yang sudah aku kirim kepada Shin Ji Joon.
Udah sesiang ini. Tapi kok belum juga di baca sih?! Gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku berinisiatif meneleponnya beberapa kali. Tapi tak mendapatkan jawaban satu pun olehnya.
Mungkin orang nya lagi sibuk. Gumamku menepis prasangka burukku.
Aku kembali membuka ponselku dan bermain game untuk mengisi rasa bosanku. Memang ini belum pukul 12:30.PM, sesuai janji yang aku tentukan. Jadi aku masih bisa sabar menunggunya, sembari asik bermain game.
Waktu sudah menunjukan pukul 02.30.PM. Tapi Shin Ji Joon masih juga belum datang. Aku tak menghiraukan akan hal itu, aku masih asik dengan game di ponselku, karna memang sedang berada di posisi seru-serunya bermain game.
"Permisi kak, mau nambah pesanan?" seru seorang pelayan mengangguku.
Kyun?! Batinku.
Aku tidak asing dengan suara itu. Dia adalah salah satu pelayan di sini. Dia adalah salah satu sahabat terbaikku.
"Emm Boy, Ekpreso 1 boleh deh," ucapku.
Aku tak menoleh sedikit pun ke arah Kyun, saking asiknya dengan game di tanganku.
Ya, aku memanggil Kyun dengan sebutan 'The Boy'. Parasnya sangat tampan, tinggi, bak seorang model. Terlebih lagi, dia orang yang sangat ramah. Maka dari itu aku bisa dengan mudah berteman dengannya.
"Baik kakak. Silahkan menunggu. Pesanan akan segera kami antarkan, he he," sahutnya dengan menggoda.
"Ah kamu ini. Makasih ya." balasku tak perduli dengan hiruk pikuk dalam Cafe itu.
...****************...
__ADS_1